Sabtu, 29 Januari 2011

Manajemen Dakwah Kampus

Secara harfiah, dakwah kampus artinya  Mengajak manusia kepada Allah dengan hikmah dan pelajaran yang baik sehingga manusia tersebut keluar dari kondisi jahiliyyah (kebodohan) menuju kepada Islam dengan kampus sebagai pusat kegiatannya. Adapun manajemen berasal dari bahasa Inggris, dari kata “to manage” yang artinya mengurus, membimbing atau mengawasi. Manajemen adalah usaha mencapai tujuan melalui kegiatan-kegiatan orang lain yang dilakukan oleh seorang pemimpin.

Dari pengertian da’wah kampus dan manajemen, kita bisa mengambil suatu kesimpulan bahwa, manajemen dakwah kampus adalah usaha mencapai tujuan memakmurkan dakwah kampus melalui kerjasama (amal jama’i) dari pengurus dakwah kampus dengan melibatkan masyarakat sekitarnya dengan kampus pusat perubahannya.

URGENSI MANAJEMEN DAKWAH KAMPUS
Manajemen dalam pengurusan dakwah kampus mempunyai arti yang sangat penting. Bila dakwah kampus dikelola tanpa menggunakan manajemen yang rapi, maka tidak mungkin tujuan yang sebenar-benarnya tercapai.
Karena itu manajemen dakwah kampus erat kaitannya dengan kepemimpinan (leadership). Pengurus dakwah kampus tentunya memerlukan seorang ketua atau pemimpin. Seorang pemimpin yang disamping harus seorang yang shaleh dengan aqidah yang salimah dan akhlak yang karimah, haruslah seorang yang memiliki beberapa hal :
1. Berpandangan jauh ke masa depan.
2. Bersikap dan bertindak bijaksana.
3. Berpengetahuan dan berwawasan yang luas.
4. Bersikap dan bertindak adil.
5. Memiliki pendirian yang teguh.
6. Berkeyakinan bahwa misinya akan berhasil.
7. Memiliki kondisi fisik yang baik.
8. Mampu berkomunikasiyang baik.
FUNGSI MANAJEMEN DAKWAH KAMPUS
Secara umum manajemen, termasuk manajemen dakwah kampus memiliki empat fungsi :
1. Planning.
Segala aktivitas, apalagi aktivitas yang besar sangat sangat diharuskan adanya planning (perencanaan). Dalam kaitannya dengan pengelolaan dakwah kampus, bila perencanaan dilaksanakan dengan matang, maka kegiatan dakwah kampus yang dilaksanakan akan berjalan secara terarah, teratur, rapih serta memungkinkan dipilihnya tindakan-tindakan yang tepat sesuai dengan situasi dan kondisi. Dengan perencanaan yang didahului oleh penelitian, lebih memungkinkan persiapan yang lebih matang, baik menyangkut tenaga sdm, fasilitas yang diperlukan, biaya yang dibutuhkan, metode yang akan diterapkan dan lain-lain.
Tanpa perencanaan yang matang, biasanya aktivitas tidak berjalan dengan baik, tidak jelas kemana arah dan target yang akan dicapai dari kegiatan itu serta sulitnya melibatkan orang yang lebih banyak. Keharusan melakukan perencanaan bisa kita pahamidari firman Allah yang artinya  : “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah siap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. 59 :18).
2. Organizing.
Di atas sudah disinggung bahwa tugas-tugas da’wah yang demikian banyak tidak mungkin bisa dilaksanakan oleh seorang diri atau hanya beberapa orang saja, karena itu diperlukan pembagian  tugas yang jelas yang dalam istilah ilmu manajemennya disebut pendelegasian wewenang dan menetapkan serta menyusun jalinan hubungan kerja. Pengorganisasian ini punya arti penting guna menghindari terjadinya penumpukan kerja, tumpang tindih dan kevakuman personil dalam menjalankan aktivitas.
Dalam kaitan ini perlu diperhatikan apa yang disebut prinsip-prinsip manajemen, antara lain :
a. Pembagian kerja, dengan memberi tugas pada seseorang sesuai denga keahliannya, pengalaman, kodisi fisik, mental serta akhlaknya.
b. Pemberian wewenang dan tanggung jawab kepada orang yang telah diberi pekerjaan, hal ini harus diberikan secara jelas dan tegas, antara keduanya harus seimbang sehingga setiap orang bisa memberikan tanggang jawab sesuai wewenang yang bisa diberikan kepadanya.
c. Kesatuan komando (perintah), yang datangnya dari satu sumber yaitu pimpinan agar seseorang tahu dan jelas kepada siapa dia bertanggang jawab.
d. Tertib dan disiplin, ini merupakan salah satu kunci utama bagi berhasilnya tujuan yang hedak dicapai. Dalam kaitan ini seorang pemimpin juga harus mampu memberikan contoh kedisiplinan kepada bawahannya, misalnya dia telah menetapkan waktu untuk rapat maka sang pemimpin harus datang tepat pada waktunnya, bila seorang pemimpin tidak disiplin, maka bawahannya juga akan mengikuti sikap yang demikian.
e. Memiliki semangat kesatuan, sehingga dengan semangat kesatuan itu akan bekerja dengan senang hati, saling membantu sehingga dapat terjalin kerja sama yang baik, dengan ini pula maka setiap personil memiliki inisiatif untuk memajukan da’wah.
f. Keadilan dan kejujuran. Seorang  pemimpin harus berlaku adil pada bawahannya dan seorang bawahan harus jujur, jangan sampai dia tidak melaksanakan tugas karena alasan-alasan yang tidak rasional, begitupun seorang pemimpin kepada bawahannya
g. Koordinasi (menghimpun dan mengarahkan kegiatan, sarana dan alat organisasi), integrasi(menyatukan kegiatan berbagai unit) dan sinkronisasi (menyesuaikan berbagai kegiatan  dari unit-unit guna keserasian dan keharmonisan).
Bila prinsip diatas tidak dijalankan, maka akan terjadi mismanajemen yang diantaranya disebabkan karena belum ada struktur organisasi yang baik, tidak sesuai antara rencana dengan kemampuan, belum adanya keseragaman metoda kerja yang baik dan belum adanya kesesuaian antara pimpinan dengan bawahan.
3. Actuating.
Fungsi ini merupakan penentu manajemen dakwah kampus. Keberhasilan fungsi ini sangat ditentukan oleh kemampuan pimpinan dakwah di kampus dalam menggerakkan da’wah. Adapun langkah-langkahnya adalah memberikan motivasi, membimbing, mengkoordinir, dan menjalin pengertian diantara mereka serta selalu meningkatkan kemampuan dan keahlian  mereka.
4. Controling.
Controling merupakan pengaman sekaligus pendinamis jalannya kegiatan dakwah kampus. Dengan fungsi ini, seorang pemimpin bisa melakukan tindakan-tindakan antara lain : Pertama, mencegah penyimpangan dalam pengurusan dakwah kampus. Kedua, menghentikan kekeliruan dan penyimpangan yang berlangsung, dan ketiga, mengusahakan pendekatan dan penyempurnaan .
Langkah langkah yang harus ditempuh antara lain :
1.      Menetapkan standar
2.      Mengadakan pemeriksaan serta penelitian pada pelaksanaan tugas yang telah ditetapkan .
3.      Membandingkan antara pelaksanaan tugas dan standar
4.      Mengadakan tindakan tindakan perbaikan.