Kamis, 25 Maret 2010

KAJIAN DHUHA

Mohon Do'anya, semoga agenda ini bisa terlaksana dan berjalan dengan lancar, Amin.

Selasa, 02 Maret 2010

Jihad itu bernama Pengorbanan (Full Story)

Oleh : Cholidudin


Kisah ini adalah oleh2ku sepulang Training Manajemen Dakwah I angkatan XIII
Hm.. Pagi ini di temani semilir angin kampung, bersama rerumputan yang masih basah oleh embun malam dan sembari memandang langit mendung, aku teringat hari itu. Hari dmana aku melihat berbagai kebaikan di negeri nyata, di tengah hiruk pikuk egoisme kekuasaan, di tengah pongahnya individualistik manusia dunia. Ini adalah ceritaku tentang pengorbanan mereka, pengorbanan yang sangat jarang sekali kutemukan di tengah pragmatisme manusia. Maukah kau kawan kuceritakan tentang kisahku bersama mereka? Ah.. Aku tak peduli, jika pun kau menjawab tidak, aku akan tetap menceritakan kebaikan mereka. Terlebih jika kau menerima kisahku ini, aku akan lebih banyak menceritakannya kepadamu.

Masih ingatkah kau, tulisanku tentang pengorbanan (tadhiyah)? itu adalah kisahku, dan kemarin pada saat aku dan temanku sedang mengadakan training manajemen untuk kader angkatan 13 Lembaga Dakwah Kampus Ummul Fikroh, aku sungguh terharu, ketika kejadian itu membuatku tersadar, ternyata masih ada orang2 yang hatinya di hiasi nilai2 kebaikan, mereka melakukan apa yg mereka bisa dan memberikan apa yg mereka punya hanya untuk saudaranya yg mungkin baru dikenal beberapa bulan saja. Ough.. Iri rasanya diri ini pada mereka, karena sungguh kecil pengorbanan diri ini jika di bandingkan dengan kebaikan2 mereka. Ya allah, lindungilah mereka dan berikanlah tempat yg terbaik bagi mereka di dunia dan akhrat. Amin.

Pertama, aku ingin bercerita tentang salah seorang ikhwan (laki2) yang rela mengerjakan hal remeh-temeh yang ku anggap tidaklah pantas jika ikhwan ini yg mengerjakannya, karena pekerjaan ini hanyalah pekerjaan kecil yang seharusnya di berikan kepada orang2 yang (maaf) kecil pula secara keilmuan, dan tanggung jawab.

Maukah kau tau apa yang dikerjakan ikhwan tadi? Mencari mobil transportasi yg akan kami gunakan untuk mengantar kami dan peserta training dari Serang menuju Cilegon, dan maukah kau tau siapa ikhwan yang kumaksud? Ah.. Pasti kau akan kaget jika kukatakan siapa ikhwan itu, dia adalah ketua umum LDK Ummul Fikroh! Subhanallah. Aku teringat kisah amirul mukminin Umar ibn al khaththab yang dengan pundaknya sendiri memikul gandum untuk seorang ibu yang 2 anaknya kelaparan. Padahal si ibu itu telah memaki2 sang amirul mukminin. Subhanallah.

Kedua, kisah ini tentang amanah dan tanggung jawab. Masih ingat tulisanku `amanah itu apa`? Hidup itu amanah, karena semua ini akan dipertanggung jawabkan di akhirat kelak. Kisah ini tentang dua orang akhwat (perempuan) yang karena amanah yang di berikan kepadanya, mereka rela berpanas2an meluncur dari Serang ke Cilegon dengan sepeda motor yang di pinjam dari ikhwan, hanya untuk meninjau lokasi yang akan digunakan untuk acara training kami pada hari terakhir, padahal hal ini bisa dilakukan esok harinya pada saat sudah di lokasi (Cilegon). Entahlah, apa alasan akhwat itu merelakan waktunya, disaat banyak perempuan2 yang mewanti-wanti dan enggan untuk berpanas-panasan, karena sayang dengan kelembutan kulitnya, sampai2 kalo ada urusan yang berkaitan dengan urusan lapangan (terkena matahari) pasti akan di take over ke ikhwan. Yah, ini mungkin karena amanah yang diberikan kepadanya. aku tidak melihat "kemanjaan" seorang perempuan pada diri mereka, biasanya hal2 teknis yang berkaitan dgn tempat acara & setingan acara dibebankan kepada ikhwan, akhwat hanya menerima transfer informasi dan hanya sebagai pelengkap/ pembantu lancarnya kegiatan saja. Aku salut pada orang2 yang menjunjung tinggi amanah. Padahal, hari ini begitu banyak para pemegang amanah yg ingkar terhadap beban amanah yang dipikulkan kepadanya. Hari iani aku belajar tentang tanggung jawab. Subhanallah.

Ketiga, maukah kau kuceritakan tetang solidaritas? Ah.. Sudahlah, meski kau tak mau dengar, aku akan tetap berkisah. "akh, pemateri pengganti ustadz fulan sudah ada belum? Kalo belum, gimana kalo ustadz ini ja? (dg menuliskan beberapa nama ustadz) Tanya seorang akhwat lewat pesan singkat. Dan aku berterima kasih karena lewat perantara akhwat ini, semua materi training kami tak ada yg terlewat karena tak ada pematerinya. Ini hanya kisah awal dari perjalanan kisah akhwat yang kuceritakan ini, masih maukah kau dengar ceritaku? Lagi2 aku tak peduli. "akh, akhwat ada yang pingsan dari klmpok 2" sms salah satu ikhwan ke handphon-ku. Aku panik, tak tau apa yang harus kulakukan, karena posisiku saat itu jauh dari posisi akhwat yang pingsan itu, terlebih lagi aku tak mungkin menggendong akhwat itu. Tak lama berselang setelah sms ikhwan itu.... "akh, sekitar sini ada klinik ga? Di sebelah mana? Tanya akhwat yg sedang kuceritakan ini. Dia membawa akhwat yg pingsan itu dengan sepeda motornya. Waduh, jam segini mah belum buka ukh, tapi coba antum gedor aja pintunya.. jawabku. Taukah kau apa yg selanjutnya dilakukan oleh akhwat dalam kisahku ini? Dia lagi2 mengangkut beberapa akhwat yang tak kuat melanjutkan perjalanan dari SD peradaban menuju taman rekreasi Wulandira. Aku sempat berpikir, sudah berapa banyak bensin yang ia habiskan dengan motornya untuk bolak-balik mengangkut peserta yang kelelahan, sudah mirip tukang ojek saja akhwat ini (bisik seorang ikhwan). Padahal aku tau, motor yang dia gunakan termasuk motor yang boros. Subhanallah, lagi-lagi aku belajar tentang nilai2 solidaritas.

Keempat, sekarang aku ingin bercerita tentang sebuah kepekaan. "Akhi, ada infokusnya kan?" pesan seorang ustadz lewat handphone-ku. Aku tak punya pulsa, dan pesan itu tak langsung kubalas. Handphone-ku kembali bergetar, ternyata ada panggilan masuk dan kudapati sebuah nomor baru, lalu kuterima telpon itu. "Assalamu'alaikum..." kujawab salam itu "Alaikumsalam warahmatullah", ah.... aku kenal suara ini, ini suara ustadz yang tadi mengirimkan pesan ke handphon-ku. "hmm.. iya ustad.." dan mulailah percakapan itu. sang Ustad masih menanyakan infokus, aku tak kuasa berjanji, sebisa mungkin aku beralasan dengan sebenar2nya, karena memang infokus yang kami pinjam hanya boleh dipinjam sehari saja, yaitu pada hari pertama training dan untuk hari kedua dan ketiga kami terpaksa tak memakai infokus. Dan akhirnya ustadz tadi menerima jika kami tak bisa menyediakan infokus.

Tak lama dari percakapanku dengan ustadz di telpon tadi, ustadz itu kembali mengirimkan pesan lewat handphon-ku. "Akhi, siapkan kain putih/ whiteboard, ana bawa infokus". Alhamdulillah... lirihku bersama beberapa ikhwan yang sedari tadi berkumpul dan memikirkan kemana kami harus nyari infokus (mikir doank tapi ga kerja).

Suara motor terdengar memasuki area SD peradaban Cilegon, dua orang ikhwan turun dan mengucap salam, serentak kami jawab salamnya. "Akh, ini infokusnya" salah satu ikhwan memulai percakapan. "Alhamdulillahirobbil alamin, barusan aja ustadz minta infokus akh" ya udah langsung pasang aja akh, pintaku kepada ikhwan yang lain. "Iya nih, kebetulan tadi ane lewat, ane inget kalo biasanya ustad minta infokus, makanya ane coba pinjem. itupun pinjemnya langsung ke rumahnya bukan di kantor (ini juga pinjemnya pake sok akrab akh, bisik ikhwan tadi). tapi klo udah beres acaranya, langsung dibalikin katanya, lanjut si ikhwan.
Subhanallah.. ternyata masih ada orang2 yang peka terhadap apa yang kita butuhkan. sampe2 si ikhwan tadi dengan rela meminjamkan infokus karena dia ingat kebiasaan sang ustad. Alhamdulillah.. akhirnya sang ustad bisa menggunakan infokus. Meski ustad ini membawa infokus sendiri, kami berinisiatif memakai infokus yang tadi dipinjam oleh ikhwan teman kami. dan kali ini, aku belajar tentang kepekaan.

Kelima, satu dari sekian banyak permasalahan yang kami hadapi dalam setiap kegiatan adalah masalah keuangan. Ini juga yang kami hadapi. Kisah ini aku dapatkan dari seorang ikhwan. ikhwan itu bertanya, "Akhi, kira2 buat transport berapa yah? uang di bendahara OC mash cukup ga?". "Wallahu a'lam akh, coba tanya sama OC deh" jawabku, sembari mencari ketua OC. emang kenapa akh? tanyaku lanjut. "tadi bendahara nanyain, uangnya cukup ga buat transport? kalo kurang, bendahara mau kesini nganterin uang" jawab ikhwan tadi. aku dan ikhwan tadi masih bercakap tentang kondisi keuangan acara. "Akhi, bukannya bendahara lagi mudik, lagi jadi suster di rumahnya?" tanyaku pada si ikhwan. "Iya, tapi kalo keuangan OC kurang, bendahara mau nganterin uang, katanya". Waduh, ga usah sih akh, kalo uangnya kurang mah entar bisa pinjem dulu ma temen2 disini, Bendahara ga usah kesini lah, kan dia lagi birrul walidain (berbakti pada orang tua). ntar kalo dia kesini, kasian orang tuanya, lanjutku pada ikhwan itu. "Ya, udah. ntar ana sms deh" jawab si ikhwan.

Subhanallah... hari ini aku belajar tentang perhatian dan tanggung jawab dari bendahara. Dia merelakan kesibukannya di rumah, jika dia memang benar2 dibutuhkan. Padahal aku tau, saat ini dia sedang sibuk dengan pekerjaannya sebagai seorang anak perempuan yang ingin memberikan yang terbaik pada ayahnya. "jadi suster untuk bapak", sahut bendahara itu saat ku tanya kenapa bendahara besok (hari kedua training) tak bisa datang ke cilegon. Allahu Akbar! disela2 pengabdiannya sebagai seorang anak, dia masih memberikan perhatian pada kami (panitia semua).

Keenam, dikisah ini aku belajar tentang kesabaran. Kisah ini tentang seorang ikhwan teman kami. "Persiapkan diri antum, untuk longmarch esok hari" Closing statement dari si ikhwan ini, sesaat setelah dia menjadi moderator pada salah satu materi training. Waduh, akhi... kenapa dikasih tau, kemarin udah kubilang, jangan pernah memberikan sinyal bahwa kita akan longmarch dari SD peradaban Cilegon sampai ke Wulandira, kesalku pada si ikhwan setelah ikhwan itu keluar dari ruangan materi. "Tapi udah ada yang tau koq akh... akh itu juga udah tau kalo kita akan longmarch" jawab si ikhwan. "Iya, aku juga udah tau kalo ada beberapa peserta yang udah tau. tapi kan kesepakatan rapat kemarin, panitia jangan ada yang ngasih tau kalo kita besok akan longmarch, biarkan peserta taunya kita tuh besok outbond bukan longmarch" kesalku lagi pada si ikhwan.

Akhirnya, percakapanku dengan si ikhwan tersudahi karena ada agenda2 lain yang harus kuselesaikan. Sesaat aku melihat raut wajah dan air muka si ikhwan tadi, aku melihat ada gerutan2 kekecewaan dari mukanya yang mengisyaratkan kekesalannya atas sikapku tadi yang sedikit membentaknya. Esok paginya, saat aku dan beberapa panitia menyusuri rute longmarch, ada panggilan masuk ke handphone-ku, ternyata si ikhwan yang kemarin aku bentak. "akhi, antm dimana?" tanya si ikhwan. aku malah balik tanya, antum yang dimana? si ikhwan jawab "ana ada didepan indomart akh, tapi koq ga da panitia satupun, antm lagi pada dimana?". Indomart? Hey.. antum td lewat mana? dari pradaban lewat kiri kan? tanyaku. "bukan akh, tadi ane lewat kanan" jawab si ikhwan. Lagi2  dengan nada sedikit membentak aku menyuruhnya ikhwan tadi berputar arah, "pokoknya antum harus balik arah, antm nih ngatur sendiri aja". akhirnya si ikhwan berputar arah, dan saat kami bertemu tepat di indomart tempat si ikhwan tadi nunggu, si ikhwan dengan sedikit kesal menegurku "ane tadi udah di sini akh, antm nih nyuruh2 ane muter lagi". Lagi2 aku mendapati kekesalan dari wajah si ikhwan ini. tapi Subhanallah... saat kami bertemu kembali pada pos pemberhentian terakhir, kami akhirnya akrab kembali, meski kemarin dan tadi pagi wajahnya diselimuti kekesalan padaku. semoga tak ada sedikitpun rasa kekecewan itu lagi. terhapus oleh kesabaran ikhwan ini. Subhanallah... aku mulai belajar tentang kesabaran dari si ikhwan ini. Terima kasih.

Ketujuh, setelah kami semua berkumpul di tempat tujuan, taman rekreasi Wulandira. aku iseng godain ketua pelaksana acara training ini. “Yee... baru segini aja udah KO, cemen nih. “Antum sih enak akh, semalem udah tidur, ane belum tidur sama sekali nih dari tadi malem”, jawab ket. pelaksana. "Ya suruh siapa antm ga tidur, wonk yang lain mah istirahat geh, antum malah nonton KCB kan?" lanjutku. (Widih... kauran bae, lagi ane kegiatan geh kauran nonton film).

Inilah sekelumit pengorbanannya, rela tetap terjaga agar esok pagi tak ada panitia ikhwan yang kesiangan untuk persiapan longmarch.

Kedelapan, mungkin aku menyebutnya jihad mal. Karena ikhwan ini kehilangan uangnya demi mensukseskan acara ini, mungkin juga bukan hanya si ikhwan yang kuceritakan ini saja yang jihad dengan hartanya, karena banyak yang tak terekam olehku beberapa panitia yang merelakan hartanya demi suksesnya acara training ini.

Ada beberapa kisah menarik dari beberapa ikhwan yang merelakan hartanya untuk acara ini. pertama, saking pengennya sampe ke tempat lokasi, ada ikhwan yang nekad meluncur dari Serang ke Cilegon meski dia tak tau kemana arah jalan ke tempat acara. Sampe2 dia berkenalan dengan polisi yang sedang melakukan razia sepeda motor, dan motornya kena ciduk, ditambah dia lupa bawa STNK motornya, ya sudahlah makin parah lah kisah ikhwan ini. Meski akhirnya si ikhwan ini bisa mendapatkan motornya kembali meski dengan (mohon maaf) "berdamai" alias memberikan uang pelicin pada polisi. Kedua, kisah ini milik sekretaris OC, berniat ingin memberikan yang terbaik untuk temen2 peserta dan panitia setelah penutupan di wulandira, dia mencari mobil bis 3/4 atau biasa orang2 cilegon menyebutnya mobil odong2, setelah mendapatkan mobil dan mengangkut barang2 bawaan kami yang masih berada di Cilegon, dia berencana menjemput temen2 di wulandira. dan tak dinyana, panitia dan peserta yang sedari ada di wulandira, ternyata sudah pulang dengan mobil yang dr wulandira menuju serang, dan mau tidak mau, sekretaris OC ini merogoh koceknya untuk membayar mobil bis itu sampai ke serang (kampus). dan yang ketiga, sungguh naas tman kami yang satu ini, berharap cepat pulang dengan motor pinjaman dari ketum, ternyata semakin lama dia bersama motornya, karena ban motornya betus dan harus diganti, ditambah klaher motornya rusak dan akhirnya dia pun harus merogoh kantongnya untuk membiayai motor yang dipinjamnya itu.

Kesembilan, “Ukhti, keputrian mana? Koq belum nongol2 dari tadi pagi, tanyaku pada salah seorang akhwat. Lagi di kost-an akh, lagi nyiapin konsumsi, jawab si akhwat. “Lho emangnya hari ini masak?”, tanyaku lagi. “Iya akh, kemarin kita rapat lagi, karena kondisi keuangan kita menipis, dari hari pertama kita udah masak sendiri, makanya tadi malem, antum suruh sms-in peserta ikhwan buat bawa perbekalannya hari pertama, biar kita bisa langsung masak akh, jawab akhwat menerangkan detil. “Oh, gitu....” aku coba mengerti.

“Akhi, keputrian ga ikut kesini (Cilegon)? Tanyaku pada Ketum. “Kurang tau akh, ane juga dari tadi ga liat” jawab Ketum. Beberapa saat kmudian aku tau kalo ternyata keputrian lagi ada di rumah salah satu panita yang kebetulan tak jauh dari lokasi training. “lagi nyiapin buat konsumsi akh,” sahut seorang akhwat. Ciee.... mentang2 keputrian kerjaannya masak mulu nih, lirihku dalam hati. “Naluri keputrian akh,” sahut ketum, yang kebetulan masih bersamaku.

Sebenarnya, aku sempat su’uddzzon sama akhwat ini, habisnya dari hari pertama lebih tepatnya dari mulai pembukaan  acara, dia ga muncul ke permukaan. Tetapi setelah beberapa info yang masuk, lagi-lagi dia sedang mempersiapkan konsumsi untuk kami para panitia dan peserta training. Subhanallah, hari ini aku belajar tentang kesunguhan, dia tak silau dengan popularitas, dia rela berada di belakang layar, untuk mempersiapkan kebutuhan perut kami. Sungguh besar pengorbanannya. Terima kasih

Sebenarnya, belum semua kisah kutuliskan, masih sangat banyak yang tak terekam oleh memoriku.

Kisah2 di atas hanyalah sekelumit dari banyaknya kisah2 pengorbanan ikhwan dan akhwat LDK Ummul Fikroh dalam mensukseskan acara training manajemen Dakwah 1 angkatan XIII. mohon maaf apabila kisah antum kurangkai dalam tulisan ini, bukan bermaksud membuat antm malu atas apa yang antum lakukan, tapi aku hanya ingin memberitahukan pada semua orang bahwa antum semua dalah orang2 yang rela berkorban. Biarlah rangkaian kata2 ini terangkum dalam memori kehidupanku, untukku dan hanya untukku. Masih banyak, kisah yang belum kurangkai lewat kata2, semoga ini adalah awal dari kehidupanku bersama kisah2ku

Terima kasih sudah menjadi inspirasiku, terimakasih karena antum mengajarkanku tentang banyak hal.

Subhanallah... sungguh besar pengorbanan mu wahai saudaraku. Semoga pengorbanan mu itu akan di balas dengan yang jauh lebih baik dari apa yang antum telah berikan untuk suksesnya acara ini.

Cilegon-Serang, 01-02 Maret 2010