Kamis, 30 September 2010

Makna Silaturahim


oleh: Abdullah Gymnastiar (Aa Gym)



Rasulullah
SAW mengatakan dalam H.R Bukhari dan Muslim bahwa “barang siapa yang
ingin rizkinya diluaskan dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah
menghubungkan tali silaturahim.”

Istilah silaturahim di tengah-tengah masyarakat kita sering
diartikan sebagai kegiatan kunjung-mengunjungi, saling bertegur sapa,
saling menolong, dan saling berbuat kebaikan. Namun, sesungguhnya bukan
itu makna silaturahim sesungguhnya. Silaturahim bukan hanya ditandai
dengan saling berbalasan salam tangan atau memohon maaf belaka. Bila
mencermati dari asal katanya, yakni shilat atau washl, yang berarti
menyambungkan atau menghimpun, dan ar-rahiim yang berarti kasih sayang,
maka silaturahim diartikan sebagai menghubungkan kasih sayang antar
sesama. Silaturahim juga bermakna menghubungkan mereka yang sebelumnya
terputus hubungan atau interaksi, dan memberi kepada orang yang tidak
memberi kepada kita. Contohnya adalah ketika ada salah satu pihak yang
lebih dulu menyapa saudaranya, sementara sebelumnya interaksi di antara
keduanya sedang tidak harmonis, maka dialah yang mendapat pahala lebih
besar. Dan juga silaturahim ditandai dengan hubungan dengan hati, yakni
keluasan hati. Sebagaimana yang disebutkan oleh Rasulullah Saw, bahwa
beliau bersabda, "Yang disebut bersilaturahim itu bukanlah seseorang
yang membalas kunjungan atau pemberian, melainkan bersilaturahmi itu
ialah menyambungkan apa yang telah putus" (HR Bukhari).

Demikian, silaturahmi pun memiliki fadhilah yang mustajab untuk
mendatangkan kebaikan; bahkan keburukan, bila memutuskannya.
Sebagaimana disabdakan oleh Rasul saw: "Tahukah kalian tentang sesuatu
yang paling cepat mendatangkan kebaikan ataupun keburukan? 'Sesuatu
yang paling cepat mendatangkan kebaikan,' sabda Rasulullah SAW, 'adalah
balasan (pahala) orang yang berbuat kebaikan dan menghubungkan tali
silaturahmi, sedangkan yang paling cepat mendatangkan keburukan ialah
balasan (siksaaan) bagi orang yang berbuat jahat dan yang memutuskan
tali persaudaraan" (HR Ibnu Majah).

Rasulullah Saw juga pernah bersabda bahwa “tidak akan masuk surga
orang yang memutuskan tali silaturahim.” Sudah ada balasan dari Allah
bagi orang yang bersilaturahim yaitu surge, dan sebaliknya bagi orang
yang memutuskan tali silaturahim yaitu neraka. Begitu besarnya balasan
Allah sehingga begitu besar juga cobaan yang akan dihadapi. Dalam
cobaan tersebut, hendaknya tidak mendahulukan hawa nafsu dan dendam,
sehingga akan hilang balasan surga dari Allah.

Rasulullah SAW memberikan tips kepada kita agar terjalin saling mencintai dengan sesama muslim, yakni:
Tebarkan salamMenghubungkan tali silaturahimMemberi makan kepada yang membutuhkan.

Betapa pentingnya silaturahim dalam hubungan sesame, Rasulullah saw
berpesan “sayangilah apa yang ada di muka bumi, niscaya Allah dan
semesta alam akan menyayangimu” (H.R Tirmidzi), yang dapat diartikan
bahwa hak saling berkasih sayang dan silaturahim tidak terbatas pada
kerabat, tetapi sesama makhluk ciptaan Allah SWT.

Oleh karena itu, menjadi sangat penting bagi kita untuk menyadari
bahwa silaturahmi tidak hanya tampilan lahiriah belaka, namun harus
melibatkan pula aspek hati. Dengan kombinasi amalan lahiriah dan amalan
hatinya, kita akan mempunyai kekuatan untuk bisa berbuat silaturahmi
lebih baik. Kalau orang lain mengunjungi kita dan kita balas
mengunjunginya, ini tidak memerlukan kekuatan mental yang kuat. Namun,
bila ada orang yang tidak pernah bersilaturahmi kepada kita, lalu
dengan sengaja kita mengunjunginya, maka inilah yang disebut
silaturahmi. Apalagi bila kita bersilaturahmi kepada orang yang
membenci kita atau seseorang yang sangat menghindari pertemuan dengan
kita, lalu kita mengupayakan diri untuk bertemu dengannya. Inilah
silaturahmi yang sebenarnya.

Dalam sebuah hadis diungkapkan, "Maukah kalian aku tunjukkan amal
yang lebih besar pahalanya daripada shalat dan shaum?" tanya Rasul pada
para sahabat. "Tentu saja," jawab mereka. Beliau kemudian menjelaskan,
"Engkau damaikan yang bertengkar, menyambungkan persaudaraan yang
terputus, mempertemukan kembali saudara-saudara yang terpisah,
menjembatani berbagai kelompok dalam Islam, dan mengukuhkan tali
persaudaraan di antara mereka adalah amal saleh yang besar pahalanya.
Barangsiapa yang ingin dipanjangkan umurnya dan diluaskan rezekinya,
hendaklah ia menyambungkan tali silaturahmi" (HR Bukhari Muslim).

Silaturahmi adalah kunci terbukanya rahmat dan pertolongan Allah
SWT. Dengan terhubungnya silaturahim, maka ukhuwah Islamiyah akan
terjalin dengan baik. Semoga kita bisa meraih surga Nya dengan membina
silaturahim antar sesama. 

Kamis, 23 September 2010

Indahnya Saling Memaafkan

Dalam tarikh dikemukakan perilaku dan ketinggian budi pekerti Rasulullah saw. Dalam gahzwah uhud Rasulullah mendapat luka pada muka dan juga patah beberapa buah giginya. berkatalah salah seorang sahabatnya : "Cobalah tuan doakan agar mereka celaka." Rasulullah menjawab :"Aku sekali kali tidak diutus untuk melaknat seseorang, tetapi aku diutus untuk mengajak kepada kebaikan dan sebagai rahmat. Lalu beliau menengadahkan tangannya kepada Allah Yang Maha Mulia dan berdoa : "Allahummaghfir liqaumi fa innahum la ya’ lamun " Ya Allah ampunikah kaumku , karena mereka tidak mengetahui ."
  
Rasulullah tidak berniat membalas dendam, tapi malah memaafkan mereka dan kemudian dengan rasa kasih sayang beliau mendoakan agar mereka diberi ampunan Allah, karena dianggapnya mereka masih belum tahu tujuan ajakan baik yang dilakukannya.

dalam ghazwah uhud itu juga, seorang budak hitam bernama Wahsyi yang dijanjikan oleh tuannya untuk  dimerdekakan bila dapat membunuh paman Nabi bernama Hamzah bin Abdul Muththalib r.a , ternyata ia berhasil membunuh hamzah dan ia dimerdekakan. kemudian ia masuk Islam dan menghadap kepada Nabi Saw.

Wahsyi menceritakan peristiwa pembunuhan Hamzah. walaupun Nabi Saw telah menguasai Wahsyi dan dapat melakukan pembalasan, namun tidak melakukannya bahkan memaafkannya. alangkah tingginya akhlak ini.

Selanjutnya kita lihat dalam Ghazwah Khaibar (Perkampungan yahudi), Zainab binti al-harits, istri Salam bin Misykam, salah seorang pemimpin yahudi berhasil memperoleh hadiah karena dapat membubuhkan racun pada panggang paha kambing yang disajikan kepara Rasulullah saw, Rasulullah saw makan bersama Bisyr  bin Bara bin ma rur. Bisyr sempat menelan daging beracun itu, tetapi Nabi Saw baru sampai mengunyahnya, lalu dimuntahkannya kembali sambil berkata :" Daging ini memberitakan kepadaku bahwa dia beracun." beberapa hari kemudian Bisyr meninggal dunia. Nabi saw memanggil Wanita yahudi yang terkutuk itu dan bertanya kepadanya :" Mengapa engkau sampai hati melakukan peracunan itu." Wanita itu menjawab :" kiranya tiada tersembunyi hasrat kaumku untuk membunuh tuan, sekiranya tuan seorang raja tentu akan mati karena racun itu dan kami akan merasa senang. tetapi jika tuan seorang nabi, tentu tuan akan diberitahu oleh Allah bahwa daging itu mengandung racun. nyatanya tuan adalah seorang Nabi."

Saudaraku... apa yang dilakukan Nabi terhadap wanita itu, padahal beliau sudah menguasainya ? wanita itu kontan dimaafkan dan dilepaskannya. sekarang apa yang kita lakukan jika hal itu terjadi pada kita ? jangankan masalah yang menyangkut nyawa, perkara sepelepun kadang kita sangat susah untuk memaafkan.........

Peristiwa lain yang terkenal yang dapat kita ambil sebagai pelajaran adalah peristiwa Du tsur, dimana seorang arab kafir namanya Du tsur mendapat Rasulullah saw sedang tidur tengah hari di bawah pohon yang rindang. Lalu Du tsur mengambil pedang Nabi saw serta menghunusnya sambil mengancamkannya kepada beliau, dengan ucapan :" Siapa yang dapat membelamu daripadaku sekarang ini ?" dengan tegas Nabi menjawab :" Allah". orang itu pun gemetar , sehingga pedang yang ada ditangannya terjatuh. segera dipungut oleh Nabi dan mengancamkannya kembali kepada Du tsur :" siapa yang akan membelamu daripadaku ini ?" Du tsur menjawab :" tidak seorangpun."

Saudaraku.... apa yang dilakukan oleh Nabi saw  ? ternyata otang itu dimaafkannya.

Du tsur pulang kedesanya dan menceritakan peristiwa tersebut kepada kaumnya bahwa ia semestinya sudah mati, tetapi ternyata Muhammad adalah orang yang berbudi luhur. Du tsur mengajak kaumnya masuk islam. itulah hasil budi pekerti yang tinggi , suka memaafkan ketika berkuasa.

Saudaraku.... rasanya tak ada satu kaum yang lebih memusuhi Nabi Saw, daripada kaum Quraisy kuffar makkah yang terkenal itu. mereka memusuhi Nabi dan Kaum Muslimin sejadi jadinya. mereka pernah memukul, melecut, membakar dengan besi panas, menjemur dibawah terik matahari, menindih dengan batu besar, melempar dengan kotorran kotoran binatang. malah pernah meletakkan kepada unta pada kuduk Nabi ketika Nabi sedang sujud dan berbagai rencana untuk membunuh Rasulullah saw.

Setelah Rasulullah saw dan Kaum Muslimin berhasil membebaskan kota mekkah (Fathu makkah) dan setelah kaum kuffar dapat dikuasai sepenuhnya oleh Nabi, mereka dikumpulkan dihadapan beliau. bukan untuk menerima balas dendam akan tetapi untuk menerima pengampunan. subhanallah....

 Aqulu kama qola akhi yusuf : la tasyriba alaykumulyauma yaghfirullahu wahuwa arhamurrahimin :" Aku berkata seperti yang dikatakan oleh saudaraku yusuf :" Mulai hari ini tidak ada cerca dan nista atas perbuatan yang telah kalian lakukan. Allah mengampuni kalian dan Dia Yang Maha Pengasih dan Penyayang."

setelah mendengar ucapan beliau , mereka bubar dengan perasaan lega hati. hasil dari akhlak  Rasulullah yang tinggi ini berduyun duyunlah mereka memeluk Agama Islam yang tadinya mati matian memusuhinya.

 "Balasan perbuatan jahat adalah kejahatan yang seimbang dengannya. barangsiapa yang memaafkan dan berlaku damai , pahalanya ada ditangan Allah" (Q.S 42;40)

" Memaafkan itu lebih mendekatkan kepada taqwa. " (QS. 2 ; 237)

" Dan hendaklah mereka suka memaafkan dan mengampuni. apakah kalian tidak suka Allah mengampuni kalian ? " (QS. 24 ; 22)

" maafkanlah mereka dan mintakanlah ampunan bagi mereka dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam segala urusan (keduniaan). " (QS 3 ; 159)

" Ambillah jalan maaf, dan ajaklah dengan cara yang lemah lembut dan berpalinglah dari orang  orang yang jahil." (QS. 7 ; 199)

"..... dan orang - orang yang dapat menahan meluapnya kemarahan dan yang suka memaafkan orang lain dan Allah mencintai orang - orang yang berbuat baik." (QD 3 ; 134)

didalam hadist Nabi saw terdapat juga penjelasan tentang sifat memaafkan ini. antara lain saya kutipkan  artinya sebagai berikut :

" Barangsiapa yang dapat menahan luapan kemarahan, sedang ia berkuasa dan sanggup melampiaskan niscaya Allah memanggilnya pada hari kiamat dihadapan khalayak ramai untuk memilih bidadari yang dikehendaki." (subhanallah.... siapa yang tidak menginginkan hal ini berlaku pada dirinya..... memilih bidadari yang dikehendakinya. Allahu Akbar !!!)

" seorang muslim apabila disaat bergaul dengan orang banyak dan dapat bersabar (Suka memaafkan) atas gangguan mereka lebih baik dari muslim yang tidak suka bergaul dan tidak sabar atas ngangguan mereka."

" Allah pasti meningkatkan kemuliaan seseorang karena sifat pemaafnya."

baiklah.. sekarang mari saya postingkan satu cerita yang berhubungan dengan sifat pemaaf  dan saya yakin saudara saudariku juga pernah bahkan mungkin sering membaca cerita ini......................

Dua orang sahabat karib sedang berjalan melintasi gurun pasir. Di tengah perjalanan, mereka bertengkar, dan salah seorang menampar temannya. Orang yang kena tampar, merasa sakit hati, tapi dengan tanpa berkata-kata, dia menulis di atas pasir :HARI INI, SAHABAT TERBAIKKU MENAMPAR PIPIKU. Mereka terus berjalan, sampai menemukan sebuah oasis, dimana mereka memutuskan untuk mandi. Orang yang pipinya kena tampar dan terluka hatinya, mencoba berenang namun nyaris tenggelam, dan berhasil diselamatkan oleh sahabatnya.

Ketika dia mulai siuman dan rasa takutnya sudah hilang, dia menulis di sebuah batu:HARI INI, SAHABAT TERBAIKKU MENYELAMATKAN NYAWAKU. Orang yang menolong dan menampar sahabatnya, bertanya, "Kenapa setelah saya melukai hatimu, kau menulisnya di atas pasir, dan sekarang kamu menulis di batu?" Temannya sambil tersenyum menjawab,"Ketika seorang sahabat melukai kita, kita harus menulisnya di atas pasir agar angin MAAF datang menghembus dan menghapuskan tulisan tersebut. Dan bila sesuatu yang luar biasa terjadi, kita harus memahatnya di atas batu hati kita, agar tidak mudah hilang ditiup angin."

Saudara/i ku ......Cerita di atas, bagaimanapun tentu saja lebih mudah dibaca dihayati. Begitu mudahnya kita memutuskan sebuah persahabatan hanya  kerana sakit hati atas sebuah perbuatan atau perkataan yang menurut kita keterlaluan hingga menyakiti hati kita. Sakit hati lebih mudah untuk diingati berbanding begitu banyak kebaikan yang dilakukan. Mungkin ini memang sebahagian dari sifat buruk diri kita.

Karena itu, seseorang pernah memberitahu saya  apa yang harus saya lakukan ketika saya sakit hati. Beliau mengatakan ketika sakit hati yang paling penting adalah melihat adakah orang yang menyakiti hati kita itu telah kita sakiti terlebih dahulu.
  
Saudara/i ku....... Bukankah sudah menjadi kebiasaan sifat manusia untuk membalas dendam? Maka biasanya bila kita telah melukai hatinya terlebih dahulu dan dia juga menginginkan kita merasai sakit yang sama seperti yang dia rasakan. Boleh jadi juga sakit hati kita kerana kesalahan kita sendiri yang salah dalam menafsirkan perkataan atau perbuatan teman kita. Oleh itu, kita akan mudah  tersinggung oleh perkataan sahabat kita yang dimaksudkannya sebagai gurauan.

Namun demikian, orang yang bijak akan selalu menerapkan dalam dirinya dalam hatinya untuk memaafkan kesalahan-kesalahan saudaranya yang lain. walaupun  ini sangat berat untuk dilakukan. tapi kembali dari itu semua mari kita berkaca kepada akhlak panutan kita Rasulullah saw. Mari kita “menyerahkan sakit itu kepada Allah - yang begitu jelas dan pasti mengetahui nya. seperti Rasulullah yang mendoakan kebaikan buat orang yang telah menyakiti dan memusuhi beliau.  "Ya Allah, balaslah kebaikan siapapun yang telah diberikannya kepada kami dengan balasan yang jauh dari yang mereka bayangkan. Ya Allah, ampuni kesalahan-kesalahan saudara-saudara kami yang pernah menyakiti hati kami karena mereka tidak mengetahuinya.

saudara/i ku..... Rasulullah bersabda kepada Uqbah bin Amir r.a : Wahai Uqbah ! maukah engkau ku beritahukan budi pekerti ahli dunia dan akhirat yang paling utama ? yaitu : melakukan shilaturahim (Menghubungkan kekeluargaan dengan orang yang telah memutuskannya), memberi pada orang yang tidak memberimu, dan memaafkan orang yang pernah menganiayamu." (ihya ulumuddin)

dalam hadist lain disebutkan : " Ada tiga hal yang apabila dilakukan akan dilindungi Allah dalam pemeliharaan-Nya, ditaburi rahmat-Nya dan dimasukkan-Nya kedalam surga-Nya yaitu : apabila diberi ia berterima kasih, apabila berkuasa ia suka memaafkan, dan apabila marah ia menahan diri (tak jadi marah) ." (R. Hakim dan ibnu hibban dari Ibnu abbas dalam Min Akhlaqin Nabi)

Saudaraku... memaafkan itu indah ..... tetapi meminta maaf itu lebih indah............

ya Allah.... Karunianilah kami sifat pemaaf, pengampun dan lapang dada. ya Allah... jadikanlah kami orang yang dapat menahan meluapnya kemarahan dan orang yang suka memaafkan orang lain. amin Allahuma Amin.

Dari Abu Hurairah ra., Rasulullah saw. bersabda, "Tidak halal seorang muslim memutuskan hubungan dengan saudaranya lebih dari tiga hari. Barangsiapa memutuskan hubungan lebih dari tiga hari dan meninggal, maka ia masuk neraka." (HR. AbuDawud).
Dari Abu Khirasy Al-Aslami ra., Rasulullah saw. bersabda, "Barangsiapa memutuskan hubungan dengan saudaranya selama setahun maka ia seperti mengalirkan darahnya." (HR. Bukhari).

 Cukup buruklah perilaku memutuskan hubungan ini, oleh karenanya Allah Swt. menolak memberikan ampunan kepada pelakunya.

 Dari Abu Hurairah ra., Rasulullah saw. bersabda, "Semua amal manusia diperlihatkan (kepada Allah) pada setiap Jumat (setiap pekan) dua kali; hari Senin dan hari Kamis. Maka setiap hamba yang beriman diampuni (dosanya) kecuali hamba yang di antara dirinya dengan saudaranya ada permusuhan. Difirmankan kepada malaikat, 'Tinggalkanlah atau tangguhkanlah (pengampunan untuk) dua orang ini, sehingga keduanya kembali berdamai.'" (HR. Muslim)

Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid berpendapat, "Jika salah seorang dari keduanya bertaubat kepada Allah, ia harus bersilaturrahim kepada kawannya dan kemudian memberi salam. Jika ia telah melakukannya tetapi sang kawan menolak, maka ia telah lepas dari tanggungan dosa. Adapun kawannya yang menolak damai, maka dosa ini tetap ada padanya."

 Dari Ayyub ra., Rasulullah saw. bersabda, "Tidak halal bagi seorang laki-laki memutuskan hubungan dengan saudaranya lebih dari tiga malam. Saling berpapasan tapi yang ini membuang muka dan yang itu (juga) membuang muka. Yang terbaik di antara keduanya yaitu yang memulai salam." (HR. Bukhari)

SUBHANALLAH....

INDAHNYA saling MEMAAFKAN ^_^


(Source: FB Renna Kembali Menulis)

Selasa, 07 September 2010

Memaknai Idul Fitri

Sebentar lagi kita akan sampai pada 1 syawal 1431 Hijriah. Lepas dari kemungkinan adanya perbedaan dalam menentukan Hari Raya Idul Fitri, yang jelas, seluruh umat Islam di dunia ini akan segera merayakan hari yang biasa dianggap sebagai `kemenangan'. Perayaan rutin setiap tahun ini menjadi momen sangat
penting setelah berpuasa selama sebulan pada bulan Ramadhan. Seluruh umat Islam merayakannya dengan suka dan cita, tak berbeda yang rajin puasanya maupun yang hanya alakadarnya. Kita akan saling bersalaman dan mengucapkan minal `a'idin wal
fa'izin. Apa artinya? Ketika kita bertanya pada orang yang mengucapkannya, apa artinya minal `a'idin wal fai'izin? kebanyakan orang menjawab, "Mohon maaf lahir batin...". Demikianlah memang anggapan kita pada umumnya atas kalimat itu. Padahal itu tidak benar. Kalimat minal `a'idin adalah kependekan dari do'a Allohumma 'ij`alna minal `a'idin waj`alna minal fa'izin, artinya, Ya Alloh
setelah berpuasa ini, jadikanlah kami termasuk orang yang bisa kembali (ke
fitrah kami) dan sukses.

Sejak Idul Fitri resmi jadi hari raya nasional umat Islam, tepatnya pada tahun
ke-2 Hijriah, kita disunahkan untuk merayakannya sebagai ungkapan syukur atas
kemenangan jihad akbar melawan nafsu duniawi selama Ramadhan. Tapi Islam tak
menghendaki perayaan simbolik, bermewah-mewah. Apalagi sambil memaksakan diri.
Islam menganjurkan perayaan ini dengan kontemplasi dan tafakur tentang perbuatan
kita selama ini.

Merayakan Idul Fitri tidak harus dengan baju baru, tapi jadikanlah Idul fitri
ajang tasyakur, refleksi diri untuk kembali mendekatkan diri pada Alloh SWT.
Momen mengasah kepekaan sosial kita. Ada pemandangan paradoks, betapa disaat
kita berbahagia ini, saudara-saudara kita di tempat-tempat lain masih banyak
menangis menahan lapar. Maka bersyukurlah kita dengan tidak bermewah-mewah
ketika Idul Fitri.

Adalah kesalahan besar apabila Idul Firi dimaknai dengan `Perayaan kembalinya
kebebasan makan dan minum` sehingga tadinya dilarang makan di siang hari,
setelah hadirnya Idul Fitri akan balas dendam, atau dimaknai sebagai kembalinya
kebebasan berbuat maksiat yang tadinya dilarang dan ditinggalkan kemudian.
Karena Ramadhan sudah usai maka keniaksiatan kembali ramai-ramai
digalakkan.Ringkasnya kesalahan itu pada akhirnya menimbulkan sebuah fenomena
umat yang shaleh mustman, bukan umat yang berupaya mempertahankan kefitrahan dan
nilai ketaqwaan.

Abdur Rahman Al Midani dalam bukunya Ash-Shiyam Wa Ramadhân Fil Kitab Was Sunnah
(Damaskus), menjelaskan beberapa etika merayakan Idul Fitri. Di antaranya disana
tertulis bahwa untuk merayakan Idul Fitri umat Islam perlu makan secukupnya
sebelum berangkat ke tempat shalat Id, memakai pakaian yang paling bagus, saling
mengucapkan selamat dan doa semoga Alloh SWT menerima puasanya, dan memperbanyak
bacaan takbir. Fitri atau fitrah dalam bahasa Arab berasal dari kata fathara
yang berarti membedah atau membelah, bila dihubungkan dengan puasa maka ia
mengandung makna `berbuka puasa' (ifthaar). Kembali kepada fitrah ada kalanya
ditafsirkan kembali kepada keadaan normal, kehidupan manusia yang memenuhi
kehidupan jasmani dan ruhaninya secara seimbang. Sementara kata fithrah sendiri
bermakna `yang mula-mula diciptakan Alloh SWT`

Ketika merayakan Idul Fitri setidaknya ada tiga sikap yang harus kita miliki,
yaitu:

1. Rasa penuh harap kepada Alloh SWT (Raja'. Harap akan diampuni dosa-dosa yang
berlalu. Janji Allah SWT akan ampunan itu sebagai buah dari "kerja keras"
sebulan lamanya menahan hawa nafsu dengan berpuasa.
2. Melakukan evaluasi diri pada ibadah puasa yang telah dikerjakan. Apakah puasa
yang kita lakukan telah sarat dengan makna, atau hanya puasa menahan lapar dan
dahaga saja Di siang bulan Ramadhan kitaberpuasa, tetapi hati kita, lidah kita
tidak bisa ditahan dari perbuatan atau perkataari yang menyakitkan orang lain.
Kita harus terhindar dari sabda Nabi SAW yang mengatakan banyakorangyang hanya
sekedar berpuasa saja: "Banyak sekali orang yang berpuasa, yang hanya puasanya
sekedar menahan lapar dan dahaga".
3. Mempertahankan nilai kesucian yang baru saja diraih. Tidak kehilangan
semangat dalam ibadah karena lewatnya bulan Ramadhan, karena predikat taqwa
sehantsnya berkelanjutan hingga akhir hayat. Firman Alloh SWT: "Hai orang yang
beriman, bertagwalah kepada Allah sebenar-benar taqwa kepada-Nya dan janganlah
sekali-kati kamu mati melainkan dalam keadaan ber-agama Islam " (QS. Ali Imran:
102).

Bagi muslim yang diterima puasanya karena mampu menundukan hawa nafsu duniawi
selama bulan Ramadhan dan mengoptimalkan ibadah dengan penuh keikhlasan, maka
Idul Fitri adalah hari kemenangan sejati, dimana hari itu Alloh SWT akan
memberikan penghargaan teramat istimewa yang selalu dinanti-nanti oleh siapapun,
termasuk para nabi dan orang-orang shaleh, yaitu ridha dan magfirahNya, sebagai
ganjaran atas amal baik yang telah dilakukannya. Alloh SWT juga pernah berjanji,
tak satupun kaum muslimin yang berdoa pada hari raya Idul Fitri, kecuali akan
dikabulkan. Pertanyaannya, kira-kira puasa kita diterima apa tidak? Atau yang
kita lakukan ini hanya ritual-simbolik, sebatas menahan lapar dan haus, seperti
yang pernah disinyalir Nabi Muhamad SAW?

Menurut para ulama, ada beberapa indikasi, seseorang dianggap berhasil dalam
menjalankan ibadah puasa: ketika kualitas kesalehan individu dan sosialnya
meningkat. Ketika jiwanya makin dipenuhi hawa keimanan. Ketika hatinya sanggup
berempati dan peka atas penderitaan dan musibah saudaranya di ujung sana.
Artinya penghayatan mendalam atas Ramadhan akan membawa efek fantastik,
individu, maupun sosial. Penghayatan dan pengamalan yang baik terhadap bulan ini
akan mendorong kita untuk kembali kepada fitrah sejati sebagai makhluk sosial,
yang selain punya hak, juga punya kewajiban, individu dan sosial. Sudahkan kita
merasakannya?

Belajarlah kepada ulat bulu yang sangat menjijikkan. Ketika ia bertekad untuk
berpuasa dengan masuk ke dalam kepompong, dan di dalam kepompong selama
tigapuluh enam hari hanya berzikir, maka ketika keluar dari kepompong, ia sudah
berubah total dari ulat bulu yang menjijikkan menjadi kupu-kupu yang indah
mengundang kekaguman melihat keelokannya. Seperti kupu-kupu itulah makna Idul
Fitri. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1431 H. Mohon maaf lahir dan bathin.