Selasa, 07 September 2010

Memaknai Idul Fitri

Sebentar lagi kita akan sampai pada 1 syawal 1431 Hijriah. Lepas dari kemungkinan adanya perbedaan dalam menentukan Hari Raya Idul Fitri, yang jelas, seluruh umat Islam di dunia ini akan segera merayakan hari yang biasa dianggap sebagai `kemenangan'. Perayaan rutin setiap tahun ini menjadi momen sangat
penting setelah berpuasa selama sebulan pada bulan Ramadhan. Seluruh umat Islam merayakannya dengan suka dan cita, tak berbeda yang rajin puasanya maupun yang hanya alakadarnya. Kita akan saling bersalaman dan mengucapkan minal `a'idin wal
fa'izin. Apa artinya? Ketika kita bertanya pada orang yang mengucapkannya, apa artinya minal `a'idin wal fai'izin? kebanyakan orang menjawab, "Mohon maaf lahir batin...". Demikianlah memang anggapan kita pada umumnya atas kalimat itu. Padahal itu tidak benar. Kalimat minal `a'idin adalah kependekan dari do'a Allohumma 'ij`alna minal `a'idin waj`alna minal fa'izin, artinya, Ya Alloh
setelah berpuasa ini, jadikanlah kami termasuk orang yang bisa kembali (ke
fitrah kami) dan sukses.

Sejak Idul Fitri resmi jadi hari raya nasional umat Islam, tepatnya pada tahun
ke-2 Hijriah, kita disunahkan untuk merayakannya sebagai ungkapan syukur atas
kemenangan jihad akbar melawan nafsu duniawi selama Ramadhan. Tapi Islam tak
menghendaki perayaan simbolik, bermewah-mewah. Apalagi sambil memaksakan diri.
Islam menganjurkan perayaan ini dengan kontemplasi dan tafakur tentang perbuatan
kita selama ini.

Merayakan Idul Fitri tidak harus dengan baju baru, tapi jadikanlah Idul fitri
ajang tasyakur, refleksi diri untuk kembali mendekatkan diri pada Alloh SWT.
Momen mengasah kepekaan sosial kita. Ada pemandangan paradoks, betapa disaat
kita berbahagia ini, saudara-saudara kita di tempat-tempat lain masih banyak
menangis menahan lapar. Maka bersyukurlah kita dengan tidak bermewah-mewah
ketika Idul Fitri.

Adalah kesalahan besar apabila Idul Firi dimaknai dengan `Perayaan kembalinya
kebebasan makan dan minum` sehingga tadinya dilarang makan di siang hari,
setelah hadirnya Idul Fitri akan balas dendam, atau dimaknai sebagai kembalinya
kebebasan berbuat maksiat yang tadinya dilarang dan ditinggalkan kemudian.
Karena Ramadhan sudah usai maka keniaksiatan kembali ramai-ramai
digalakkan.Ringkasnya kesalahan itu pada akhirnya menimbulkan sebuah fenomena
umat yang shaleh mustman, bukan umat yang berupaya mempertahankan kefitrahan dan
nilai ketaqwaan.

Abdur Rahman Al Midani dalam bukunya Ash-Shiyam Wa Ramadhân Fil Kitab Was Sunnah
(Damaskus), menjelaskan beberapa etika merayakan Idul Fitri. Di antaranya disana
tertulis bahwa untuk merayakan Idul Fitri umat Islam perlu makan secukupnya
sebelum berangkat ke tempat shalat Id, memakai pakaian yang paling bagus, saling
mengucapkan selamat dan doa semoga Alloh SWT menerima puasanya, dan memperbanyak
bacaan takbir. Fitri atau fitrah dalam bahasa Arab berasal dari kata fathara
yang berarti membedah atau membelah, bila dihubungkan dengan puasa maka ia
mengandung makna `berbuka puasa' (ifthaar). Kembali kepada fitrah ada kalanya
ditafsirkan kembali kepada keadaan normal, kehidupan manusia yang memenuhi
kehidupan jasmani dan ruhaninya secara seimbang. Sementara kata fithrah sendiri
bermakna `yang mula-mula diciptakan Alloh SWT`

Ketika merayakan Idul Fitri setidaknya ada tiga sikap yang harus kita miliki,
yaitu:

1. Rasa penuh harap kepada Alloh SWT (Raja'. Harap akan diampuni dosa-dosa yang
berlalu. Janji Allah SWT akan ampunan itu sebagai buah dari "kerja keras"
sebulan lamanya menahan hawa nafsu dengan berpuasa.
2. Melakukan evaluasi diri pada ibadah puasa yang telah dikerjakan. Apakah puasa
yang kita lakukan telah sarat dengan makna, atau hanya puasa menahan lapar dan
dahaga saja Di siang bulan Ramadhan kitaberpuasa, tetapi hati kita, lidah kita
tidak bisa ditahan dari perbuatan atau perkataari yang menyakitkan orang lain.
Kita harus terhindar dari sabda Nabi SAW yang mengatakan banyakorangyang hanya
sekedar berpuasa saja: "Banyak sekali orang yang berpuasa, yang hanya puasanya
sekedar menahan lapar dan dahaga".
3. Mempertahankan nilai kesucian yang baru saja diraih. Tidak kehilangan
semangat dalam ibadah karena lewatnya bulan Ramadhan, karena predikat taqwa
sehantsnya berkelanjutan hingga akhir hayat. Firman Alloh SWT: "Hai orang yang
beriman, bertagwalah kepada Allah sebenar-benar taqwa kepada-Nya dan janganlah
sekali-kati kamu mati melainkan dalam keadaan ber-agama Islam " (QS. Ali Imran:
102).

Bagi muslim yang diterima puasanya karena mampu menundukan hawa nafsu duniawi
selama bulan Ramadhan dan mengoptimalkan ibadah dengan penuh keikhlasan, maka
Idul Fitri adalah hari kemenangan sejati, dimana hari itu Alloh SWT akan
memberikan penghargaan teramat istimewa yang selalu dinanti-nanti oleh siapapun,
termasuk para nabi dan orang-orang shaleh, yaitu ridha dan magfirahNya, sebagai
ganjaran atas amal baik yang telah dilakukannya. Alloh SWT juga pernah berjanji,
tak satupun kaum muslimin yang berdoa pada hari raya Idul Fitri, kecuali akan
dikabulkan. Pertanyaannya, kira-kira puasa kita diterima apa tidak? Atau yang
kita lakukan ini hanya ritual-simbolik, sebatas menahan lapar dan haus, seperti
yang pernah disinyalir Nabi Muhamad SAW?

Menurut para ulama, ada beberapa indikasi, seseorang dianggap berhasil dalam
menjalankan ibadah puasa: ketika kualitas kesalehan individu dan sosialnya
meningkat. Ketika jiwanya makin dipenuhi hawa keimanan. Ketika hatinya sanggup
berempati dan peka atas penderitaan dan musibah saudaranya di ujung sana.
Artinya penghayatan mendalam atas Ramadhan akan membawa efek fantastik,
individu, maupun sosial. Penghayatan dan pengamalan yang baik terhadap bulan ini
akan mendorong kita untuk kembali kepada fitrah sejati sebagai makhluk sosial,
yang selain punya hak, juga punya kewajiban, individu dan sosial. Sudahkan kita
merasakannya?

Belajarlah kepada ulat bulu yang sangat menjijikkan. Ketika ia bertekad untuk
berpuasa dengan masuk ke dalam kepompong, dan di dalam kepompong selama
tigapuluh enam hari hanya berzikir, maka ketika keluar dari kepompong, ia sudah
berubah total dari ulat bulu yang menjijikkan menjadi kupu-kupu yang indah
mengundang kekaguman melihat keelokannya. Seperti kupu-kupu itulah makna Idul
Fitri. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1431 H. Mohon maaf lahir dan bathin.