Kamis, 17 November 2011

cerpen

cerpen ini hanya karangan fiktif belaka, apabila ada kesamaan nama, tempat, ataupun cerita dengan tokoh cerpen ini, kita ambil saja hikmahnya. dan cerpen ini hanya sebagai bacaan ringan untuk refreshing fikiran kita,, selamat membaca ^_^


SMS AHWAT
“ antum anak mana?, ana anak Tangerang” sebuah sms singkat di facebook ku kirimkan pada teman chating-ku
Tak lama berselang balasan dari seberang segera muncul
“ana anak Bandung”
“Kapan-kapan kita bisa ketemu dong” balasku
“ iya, kebetulan hari rabu minggu ini ana mau ke Tangerang ada urusan, kalo boleh minta alamat antum?”
“ oh tenang aja, nanti kalo udah ada di Tangerang antum sms ana aja, ni no ana, 085623441xxx,
“ok deh kalo gitu nanti ana sms, udah dulu ya ana ada kerjaan yang harus diselesaikan”
“ iya deh kalo gitu,, assalamu’alaikum………….”
“ wa’alaikum salam”
Klik. ku tutup laptopku, aku tak sabar menunggu cepat datangnya hari rabu. Tak seperti biasanya akhir-akhir ini aku jadi lebih semangat, apa mungkin karena sejak aku sering online dengan ahwat tadi…? Ah aku tak mau berfikir yang aneh-aneh,, aku beristigfar jangan sampai gangguan setan datang menghampiri hatiku.
Memang sejak kenal dengan ahwat di facebook aku sedikit menaruh harapan supaya cocok dengannya,,, mungkin ini juga karena umurku yang hampir mencapai seperempat abad (kalian tentu mengerti apa maksudku ^_^)
Besok adalah hari rabu,entah mengapa pikiranku bercampur antara senang dan gelisah,,, tiba-tiba hp ku berbunyi, aku beranjak menghampiri hp itu. Ternyata sms, tapi nomernya baru, lalu ku buka sms itu,
“ akhi jangan lupa besok kita ketemu di alun-alun”. Setelah berfikir cukup lama ternyata aku baru ingat kalau sms tadi adalah sms si ahwat.
Hatiku jadi deg-degan. Apa mungkin tidak akan menimbulkan fitnah kalau kami harus bertemu di alun-alun? Ah aku tak mau berburuk sangka. Aku perbaiki fikiranku,,, aku berharap ini hanya niatan untuk menemuinya dan sekedar menjalin tali silaturahim itu saja tidak lebih.  Hingga larut malam aku belum bisa memejamkan mata.
Pagi ini setelah beres dengan aktivitas subuhan dan meski masih di serang kantuk aku paksakan kaki melangkah ke kamar mandi bersiap-siap ke alun-alun, mengingat alun-alun aku jadi serba salah,,, astagfirullah.
Aku datang setengah jam lebih awal. Sambil menunggu aku membolak-balik Koran yang aku beli tadi. Siapa tau ada yang baru yang belum sempat aku lihat karena tadi terlalu buru-buru.
Hampir sekitar lima belas menit akhirnya sms masuk ke hp ku..
“ antum di mana? Ana ada di deket penjual bubur sebelah timur alun-alun,, antum bisa kesini?”
Tanpa ba bi bu aku melipat Koran yang aku baca. Aku segera menuju tempat yang ditunjuknya
Sampai di tempat aku tak menemukan sosok perempuan, yang aku temukan hanya pedagang bubur dan beberapa para pembeli yang antri.
Akhirnya ku kirim sms padanya,
“ ana udah nyampe di deket tukang bubur, antum yang mana, terus pake baju apa?”
Semenit kemudian sms balasan masuk
“ ana pakai  baju putih yang pakai tas ransel”
Aku mengedarkan pandangan ke  orang-orang yang berada  di sekitar tukang bubur, tapi tetap saja aku tak menemukan sosok perempuan, satu-satunya orang yang memakai baju putih dan tas ransel adalah laki-laki yang sepertinya sedang menunggu seseorang
Akhirnya dengan hati-hati ku dekati laki laki tersebut.
“assalamu’alaikum……”
“ wa’alaikum salam”
“ maaf apa antum ahwat yang ada di fb itu?
“ iya benar, antum akh amir ya?
“iya,” hanya jawaban itu yang terlontar, aku masih sedikit kaget ternyata ahwat itu seorang laki-laki.
“ antum kaget ya? Dan ngira kalau ana perempuan?
“ iya, ana pikir antum perempuan
“ jangan terkecok akh, ahwat itu singkatan dari nama ana yaitu AHMAD WATIN, kan di emailnya ada.”
“eh iya juga ya kenapa ana nggak lihat” kataku sambil tersenyum malu karena terlalu berfikir lebih. Ampuni aku ya allah karena sudah berfikir yang berlebihan dan semoga kejadian ini tak terulang lagi…………………..^_^  

By_Hanie Sulaw

Senin, 14 November 2011

Tahun Baru Islam
Kita sering bertemu dengan natal yang jatuh pada tanggal 25 Desember, dan di susul dengan Tahun baru Masehi yang pasti datang pada tiap awal tahun. Dari sela-sela keduanya sering kita temukan hari-hari yang sangat bersejarah, baik sebelum atau sesudah 2 hari yang pasti itu, salah satunya adalah tahun Baru Hijriyah yang tahun ini jatuh tepat pada tanggal 27 November 2011.
Sudah jelas hukumnya bagi setiap muslim dilarang untuk mengikuti perayaan Natal, meskipun kita percaya dengn adanya Nabi Isa AS, sebagai salah satu Nabi utusan Allah SWT. Sahabat Umar bin khatab RA pernah berkata : “janganlah kalian mengunjungi kaum musyrikin di gereja-gereja (rumah-rumah ibadah) mereka pada hari besar mereka, karena sesungguhnya kemurkaan Allah akan turun atas mereka. “ kemudian dia berkata lagi :” Hindarilah musuh-musuh Allah pada momentum hari-hari besar” .
Tahun baru dalam kehidupan masyarakat pada umumnya di kenal ada dua macam, pertama adalah tahun baru Masehi yang dikenal secara menyeluruh oleh seluruh manusia di permukaan bumi ini dan bahkan di jadikan kalendar umum mereka. Dan yang kedua adalah Tahun baru Hijriyah yang secara khusus hanya terkenal dalam masyarakat dan dunia Islam saja. Awal tahun baru sering dirayakan oleh seluruh orang hampir di setiap negara. Jika kita lihat sejarah, penetapan tanggal I Januari itu sebagai Tahun Baru Masehi bermula pada abad 46 SM. Ketika kaisar Julius Caesar membuat kalendar Matahari. Dan sekarang berbagai acara diadakan untuk menyambut dan memeriahkan dan menyambut kedatangan tahun baru itu dengan pesta pada malam 1 Januari , pesta makan-minum, diiringi nyanyian, tarian dll sambil menanti detik-detik jam 12 malam sebagai pergantian tahun baru ini yang diiringi oleh sorak sorai, kembang api, dllnya sebagai simbol perayaan.
Dari situ, bisa dikatakan bahwa Tahun baru masehi adalah ritual bangsa yahudi Roma, yang bahkan disebut sebagai ritual penebusan dosa. Setelah melihat sejarahnya marilah kita lihat pandangan islam tentang hal ini. dalam Islam kita sudah tahu bahwa ada larangan untuk mengikuti tradisi atau ritual orang-orang yahudi yang berhubungan dengan kepercayaan atau tauhid. Jadi, tantu kita sudah tahu harus mengambil sikapseperti apa ketika Tahun baru Masehi datang.
Tahun baru yang selanjutnya adalah Tahun baru Hijriah, kata-kata Hijriah dipakai oleh kalender orang islam untuk menentukan hari-hari besar Islam. Kalender ini merupakan kalender yang berasakan bulan seperti juga kalender Masehi. Tahun baru Hijriah ini ditetapkan ketika umat Islam Hijrah Ke Madinah, mulai saat itulah penanggalan Hijriah dimulai. Dan tahun ini kita akan bertemu dengan Tahun Baru Hijriah yang ke 1433 H. Jadi, apa yang kita pilih untuk dirayakan??

Rabu, 02 November 2011

Bahaya Sikap Isti'jaal Para Aktivis Dakwah

Kata isti'jaal, i'jaal, ta'ajjul, semuanya mengandung pengertian yang sama, yaitu 'keinginan untuk menyegerakan atau mempercepat apa-apa yang dihajatkan' atau 'orang yang menginginkan agar permintaannya terlaksana dengan cepat' atau 'memerintahkan orang lain untuk bersegera dalam suatu masalah'.
ÙˆَÙ„َÙˆْ ÙŠُعَجِّÙ„ُ اللّÙ‡ُ Ù„ِلنَّاسِ الشَّرَّ اسْتِعْجَالَÙ‡ُÙ… بِالْØ®َÙŠْرِ Ù„َÙ‚ُضِÙŠَ Ø¥ِÙ„َÙŠْÙ‡ِÙ…ْ Ø£َجَÙ„ُÙ‡ُÙ…ْ
Firman Allah Ta'ala yang menerangkan pengertian seperti itu antara lain, "Dan kalau sekiranya Allah menyegerakan kejahatan bagi manusia seperti permintaan mereka untuk menyegerakan kebaikan, pastilah diakhiri umur mereka." (QS. Yunus [10] : 11)
Sedangkan dari segi istilah, yang dimaksudkan denganisti'jaal ialah 'keinginan untuk mewujudkan perubahan atas realitas yang tengah dialami oleh kaum muslimin dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, tanpa memperhatikan lingkungan, tanpa memperhitungkan akibat, dan tanpa melihat kenyataan, juga tanpa persiapan bagi pendahuluan, sistem, dan sarana. Dengan perkataan lain, isti'jaalmerupakan cara berdakwah menginginkan hasil yang maksimal dengan waktu yang sesingkat mungkin.
Isti'jaal Dalam Pandangan Islam
Sikap tergesa-gesa dan terburu-buru merupakan salah satu tabiat yang dimiliki oleh manusia seperti yang telah dinyatakan oleh Allah. Firman-Nya,
ÙˆَÙŠَدْعُ الإِنسَانُ بِالشَّرِّ دُعَاءهُ بِالْØ®َÙŠْرِ ÙˆَÙƒَانَ الإِنسَانُ عَجُولاً
"Dan manusia berdo'a untuk kejahatan sebagaimana ia berdoa untuk kejahatan sebagai ia berdoa untuk kebaikan. Dan sesungguhnya manusia itu bersifat tergesa-gesa." (QS. al-Israa' [17] : 11)
Ø®ُÙ„ِÙ‚َ الْØ¥ِنسَانُ Ù…ِÙ†ْ عَجَÙ„ٍ
"Manusia itu telah dijadikan (bertabiat) tergesa-gesa." (QS. al-Anbiya [21] : 37)
Karena sifat itu merupakan tabiat dasar dari setiap manusia,maka Islam menempatkan dan menilainya secara adil dan bijaksana. Islam tidak memujinya atau mencelanya secara keseluruhan, tetapi memuji sebagian dan mencela sebagian lain dari tabiat tersebut.
Isti'jaal akan merupakan sikap yang terpuji asalkan sebelumnya terlebih dahulu dilakukan pengamatan yang cermat dan seksama terhadap dampak dan akibat yang bakal timbul, analisis yang akurat terhadap situasi dan kondisi yang ada, dan setelah terlebih dahulu menyingkap segala sesuatunya secara akurat. Selain tentunya telah memiliki pembekalan dan persiapan yang jitu serta proses tahapan yang benar.
Inilah sikap isti'jaal yang dilukiskan dalam firman Allah Ta'ala tentang Nabi Musa AS; 
ÙˆَÙ…َا Ø£َعْجَÙ„َÙƒَ عَÙ† Ù‚َÙˆْÙ…ِÙƒَ ÙŠَا Ù…ُوسَÙ‰ ﴿٨٣﴾
Ù‚َالَ Ù‡ُÙ…ْ Ø£ُولَاء عَÙ„َÙ‰ Ø£َØ«َرِÙŠ ÙˆَعَجِÙ„ْتُ Ø¥ِÙ„َÙŠْÙƒَ رَبِّ Ù„ِتَرْضَÙ‰ ﴿٨٤﴾
"Mengapa kamu datang lebih cepat daripada kaummu, wahai Musa?" Musa menjawab, "Itulah mereka yang sedang menyusul aku dan aku bersegera kepada-Mu. Ya Tuhanku, agar supaya Engkau ridha kepadaku." (QS. Thaha [20] : 83-84)
Maksudnya, setelah terlebih dahulu mengkaji dan memperhatikan segala sesuatunya, Nabi Musa AS menganggap perlu untuk bersegera pergi terlebih dahulu dibandingkan kaumnya. Ini karena menurut penilaiannya, hal tersebut akan memberikan manfaat dan maslahat yang lebih banyak daripada jika bersama-sama kaumnya.
Sedangkan sikap isti'jaal yang tercela yaitu jika mengabaikan perhitungan yang matang. Atau dengan perkataan lain pengambilan keputusan secara cepat, namun dengan cara nekad atau membabi-buta. Sikap isti'jaal seperti itulah yang dimaksud oleh Rasulullah shallahu alaihi wa sallam saat beliau bersabda kepada Khabbab Ibnul Art.
Suatu hari Khabbab mendatangi Nabi, mengeluhkan siksaan dan penderitaan yang tengah dialami oleh dirinya dan para sahabat lainnya. Dia kemudian Rasulullah shallahu alaihi wa sallam, untuk memohonkan pertolongan dari Allah serta mendo'akannya. Rasulullah shallahu alaihi was sallambersabda :
"Orang sebelum kalian digalikan sebuah lubang untuknya di atas tanah, kemudian mereka dimasukkan ke dalamnya. Setelah itu diambilkan sebuah gergaji dan diletakkan di atas kepalanya hingga terpotong menjadi dua bagian. Akan tetapi, hal tersebut tidak menggoyahkan agamanya. Kemudian ada juga yang disisir besi, sehingga terlepas daging dari tulangnya. Akan tetapi, hal itu juga tidak menggoyahkan agamanya. Allah pasti akan menyempurnakan masalah ini, sehingga akan berjalan seorang dari Sana'a ke Hadramaut, di mana ia tidak sedikitpun terhadap sesuatu kecuali kepada Allah, dan dari serigala yang akan menyerang kambingnya. Akan tetapi, kalian terburu-buru." (HR. Bukhari).
Wallahu'alam.


eramuslim.com

Sabtu, 23 Juli 2011

8 LANGKAH MENYAMBUT BULAN SUCI RAMADHAN

Sebentar lagi Ramadhan datang. Bulan yang penuh kelimpahan kebaikan dan keutamaan ini akan hadir di tengah-tengah kita. Pastikan kita siap menyambutnya, menjamunya dan memuliakannya. Gimana caranya? Kita liat yuk…!
Kita semua tahu, bulan Ramadhan adalah bulan yang sangat special. Bulan ini dipenuhi dengan berkah dan kemulian. Ada banyak keutamaan yang Allah turunkan di bulan yang sering disebut syahrul mubarok ini. Para sahabat selalu merindukannya. Mereka berdo’a selama enam bulan sebelum kedatangannya agar bisa dipertemukan dengan Ramadhan. Dan saat Ramadhan tiba, mereka sungguh-sungguh meraih kebaikan dan keuatamaan dengan puasa dan ibadah. Dan ketika mereka berpisah dengan Ramadhan, mereka berdo’a selama enam bulan setelahnya, agar kesungguhan ibadahnya bisa diterima Allah swt.
Kerinduan itu ada pada diri mereka, karena mereka sadar dan paham betul keutamaan dan keistimewaan Ramadhan. Nah, bagaimana denga kita. Tentu kita gak mau ketinggalan dong. Mari kita sambut Ramadhan dengan 8 langkah berikut:
Pertama, Berdoa agar Allah swt. memberikan umur panjang kepada kita sehingga kita berjumpa dengan bulan Ramadhan dalam keadaan sehat. Dengan keadaan sehat, kita bisa melaksanakan ibadah secara maksimal: Puasa, shalat, tilawah, dan dzikir. Dari Anas bin Malik r.a. berkata, bahwa Rasulullah saw. apabila masuk bulan Rajab selalu berdoa, ”Allahuma baariklanaa fii rajab wa sya’ban, wa balighnaa ramadhaan. Ya Allah, berkahilah kami pada bulan Rajab dan Sya’ban, dan sampaikanlah kami ke bulan Ramadan.” (HR. Ahmad dan Thabrani)
Kedua, Pujilah Allah swt. karena Ramadhan telah diberikan kembali kepada kita. Imam An Nawawi dalam kitab Adzkar-nya berkata: ”Dianjurkan bagi setiap orang yang mendapatkan kebaikan dan diangkat dari dirinya keburukan untuk bersujud kepada Allah sebagai tanda syukur; dan memuji Allah dengan pujian yang sesuai dengan keagunganNya.” Dan di antara nikmat terbesar yang diberikan Allah swt. kepada seorang hamba adalah ketika dia diberikan kemampuan untuk melakukan ibadah dan ketaatan.
Ketiga, Bergembira dengan datangannya bulan Ramadhan. Rasulullah saw. selalu memberikan kabar gembira kepada para sahabatnya setiap kali datang bulan Ramadhan: “Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah. Allah telah mewajibkan kepada kalian untuk berpuasa. Pada bulan itu Allah membuka pintu-pintu surga dan menutup pintu-pintu neraka.” (HR. Ahmad).
Keempat, Rencanakan agenda kegiatan harian untuk mendapatkan manfaat sebesar mungkin dari bulan Ramadhan. Ramadhan sangat singkat, karena itu, isi setiap detiknya dengan amalan yang berharga, yang bisa membersihkan diri, dan mendekatkan diri kepada Allah swt.
Kelima, Kuatkan azam, bulatkan tekad untuk mengisi waktu-waktu Ramadhan dengan ketaatan. Barangsiapa jujur kepada Allah swt., maka Allah swt. akan membantunya dalam melaksanakan agenda-agendanya dan memudahnya melaksanakan aktifitas-aktifitas kebaikan. “Tetapi jikalau mereka benar terhadap Allah, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka.” Muhamad:21.
Keenam, Pahami fiqh Ramadhan. Setiap mukmin wajib hukumnya beribadah dengan dilandasi ilmu. Kita wajib mengetahui ilmu dan hukum berpuasa sebelum Ramadhan datang agar amaliyah Ramadhan kita benar dan diterima oleh Allah swt. “Tanyakanlah kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui” Al-Anbiyaa’ ayat 7.
Ketujuh, Kondisikan qalbu dan ruhiyah kita dengan bacaan yang mendukung proses tadzkiyatun-nafs –pembersihan jiwa-. Hadiri majelis ilmu yang membahas tentang keutamaan, hukum, dan hikmah puasa. Sehingga secara mental, dan jiwa kita siap untuk melaksanakan ketaatan kepada Allah swt. di bulan Ramadhan.
Kedelapan, Tinggalkan dosa dan maksiat. Isi Ramadhan dengan membuka lembaran baru yang bersih. Lembaran baru kepada Allah, dengan taubat yang sebenarnya taubatan nashuha. “Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman, supaya kamu beruntung.” An-Nur:31. Lembaran baru kepada Muhammad saw., dengan menjalankan sunnah-sunnahnya dan melanjutkan risalah dakwahnya. Kepada orang tua, istri-anak, dan karib kerabat, dengan mempererat hubungan silaturrahim. Kepada masyarakat, dengan menjadi orang yang paling bermanfaat bagi mereka. Sebab, “Manusia yang paling baik adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.”
Itulah delapan tip yang bisa kita siapkan untuk menyambut bulan suci Ramadhan. Semoga Allah swt. memanjangkan umur kita sehingga bisa berjumpa dengan Ramadhan, bisa memuliakannya dan meraih kebaikan-kebaikan yang ada di dalamnya. Amin ya Rabbana. Allahu a’lam.


rahmatmuntaha.com

Minggu, 26 Juni 2011

MENUJU KESOLIDAN ORGANISASI

 
Paling tidak ada tiga fase yang biasa dilalui oleh sebuah organisasi sebagai suatu perputaran, yaitu planning, konsolidasi, dan mobilisasi. Dan saat ini kita sedang melewati sebuah fase, di mana pada fase ini kita sedang sibuk-sibuknya menata kembali organisasi da’wah kita, setelah melewati proses regenerasi dari satu kepengurusan ke kepengurusan berikutnya.
Perencanaan demi perencanaan adalah suatu kebutuhan. Dalam fase ini akan terlihat betapa berat tugas-tugas yang akan kita lalui. Betapa berat tanggung jawab yang akan kita hadapi di hadapan Allah dan di hadapan ummat. Oleh karena itulah kita harus mempunyai basis yang kokoh sebagai titik tolak untuk melaksanakan tugas-tugas tersebut.
Ikhwan wa akhwat fillah..
Salah satu basis utama sebagai modal titik tolak dalam melaksanakan tugas-tugas kita adalah kesolidan jamaah atau kekokohan organisasi. Hal ini sebenarnya sudah sering kita dengar, baik itu dalam taujih-taujih, taushiyah, tarbiyah, dan sebagainya. Namun karena kesibukan dan tanggung jawab kita yang berat, maka kadang kala kita selalu lupa. Oleh karena itulah perlu senantiasa adanya pengingat, tadzkirah, sebagai suatu kebutuhan bagi orang-orang yang aktif. Dan taujih ini mencoba mengingatkan kita semua mengenai kesolidan jamaah.
Ikhwan dan akhwat fillah...
Untuk sebuah kesolidan atau kekokohan organisasi, paling tidak kita membutuhkan suatu kondisi yang sering disebut dengan istiqrar, ketenangan, atau kestabilan. Sudah barang tentu kondisi ini paling utama dituntut kepada setiap personal kader, kepada setiap ikhwan akhwat yang komitmen kepada gerakan da’wah ini.
Stabilitas (Ketenangan) Jiwa
Pertama, setiap kader dituntut untuk selalu memperhatikan ketenangan jiwanya. Jangan sampai akibat kesibukan yang demikian banyak, tantangan yang demikian berat, tuntutan dan pengorbanan yang melampaui batas-batas kemampuan, membuat jiwa kita menjadi kacau. Yang kacau akan terguncang, yang akhirnya akan seperti yang disindirkan oleh Sayyid Quthb sebagai an nuful al mahzumah, jiwa yang kalah lebih dahulu sebelum terjun ke medan pertempuran. Oleh karena itu setiap kader ikhwan akhwat harus memperhatikan dan memberikan inayah yang cukup terhadap ketenangan jiwanya.
Ketenangan jiwa hanya bisa diraih melalui upaya bagaimana kita bisa mengarahkan hati kita selalu berhubungan dengan Allah Ta’ala. Hanya dengan itulah ketenangan jiwa bisa ditumbuhkan, bisa dipelihara, dan dikembangkan. Karena hanya dengan mengingat Allah-lah hati bisa menjadi tenang, ala bidzikrillah tahtmainnul qulub.
Ikhwan akhwat yang dicintai Allah..
Kita sebagai duat dan dai Ilallah harus menjadi orang yang paling sanggup memelihara hatinya dalam kondisi yang tenang dan stabil. Karena dari sanalah akan tumbuh tsiqah, yakin betul kepada Allah, yakin betul akan adanya kemenangan yang dianugerahkan oleh Allah. Tanpa itu, dengan tantangan dan tugas yang berat ini, kita akan gelisah, oleh karena itu hati kita harus senantiasa dihubungkan dengan kekuatan Maha Besar, yaitu Allah Ta’ala. Yang bukan saja menggerakkan alam semesta ini, tapi Dialah Pencipta alam semesta ini. Dialah yang mengarahkan ke mana bergeraknya alam semesta, termasuk fenomena dengan aneka ragam kelompok dan ideologinya, aneka raga programnya, seluruhnya digerakkan oleh Allah dan akan mencapai target-target yang sudah dibatasi oleh iradah dan kehendak-Nya.
Menghadapi akan hal ini, kita tidak akan pernah bisa merasa gentar melihat kekuatan besar, karena Allahlah yang Maha Besar. Kita tidak akan pernah merasa minder melihat lawan lawan yang kaya raya, karena Allah-lah yang Maha Kaya, Yang Maha Mulia. Yakin! Mungkin apa yang kita miliki sekarang sedikit, tetapi yang dijanjikan Allah sebagai pertolongan-Nya adalah Maha, Maha Besar. Apa-apa yang disediakan Allah adalah untuk para mujahid. Sifat qanaah inilah yang harus kita miliki. Tanpa qanaah kita akan ngeri melihat kekayaan yang dimiliki lawan dengan hasil rampokannya yang demikian banyak, seolah-olah di mata kita akan berlomba dengan kekuatan seperti itu. Tetapi kalau kita yakin bahwa yang memerintahkan kita adalah Allah Ta’ala dalam rangka berlomba-lomba dalam kebaikan, insya Allah tidak akan ragu untuk mulai dan berjalan dengan manhaj Allah dan mencapai finish. Allahu Akbar!
Jiwa itulah yang harus dimiliki oleh para duat sehingga apapun yang kita hadapi kalkulasinya bukan kalkulasi bumi, tetapi kalkulasi samawi, di mana seluruh fenomena universal ini tidak ada yang terlepas dari tadbir rabbani. Sekali-kali hanya ketenangan jiwa sajalah yang akan betul-betul yakin akan Allah dan pertolongan Allah.
Ikhwah fillah...
Allah telah mengarahkan kepada kita bagaimana agar ketenangan jiwa itu bisa dipelihara, maka kemudian Allah mewajibkan dan menyunahkan akan adanya sunnah berumah tangga dan berkeluarga. Karena keluarga adalah salah satu jenjang, salah satu sarana, salah satu wadah untuk memelihara jiwa-jiwa yang tentram. Allah SWT berfirman:
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS. Ar Ruum: 21)
Kestabilan dan Ketenangan Keluarga para Da’i
Oleh karena itu, kestabilan jiwa harus dilanjutkan dengan upaya mewujudkan yang kedua, yaitu ketenangan dan kestabilan keluarga para dai dan daiyah. Keluarga para da’i tidak seperti keluarga kebanyakan manusia. Dari mulai titik tolaknya mereka berumah tangga, di mana rumah tangga itu dibangun dengan mahabbah fillah. Apalagi sama-sama dibangun melalui kesatuan aqidah, kesatuan fikrah, dan kesatuan minhaj. Bahkan selalu seiring bergandengan tangan dalam perjalanan dakwah dengan segala pengorbanannya, maka ikatan mahabbah fillah yang didasari wihdatul aqidah, wihdatul fikrah dan wihdatul minhaj itu diikat pula oleh ikatan romantisme dakwah. Ikatan romantika dakwah yang mengikat rumah tangga kita. Allahu Akbar!!
Oleh karena itu setelah kita selalu memelihara ketenangan jiwa, kita pun harus betul-betul memelihara ketenangan keluarga. Rumah tangga da’i adalah homebase bagi dakwah itu sendiri. Oleh karena itu perlu dijaga ketenangannya. Keluarga yang guncang akan cukup merepotkan jamaah. Karena ia merupakan salah satu batu bata dari struktur jamaah ini. Ingat, setelah binaur fard adalah binaul usrah (keluarga), baik itu usrah harakiyah, usrah fithriyah, kauniyah maupun nasabiyai. Pelihara hubungan dengan istri, suami, dengan anak, dengan orang tua, mertua, dengan saudara, dengan siapapun yang tekait dengan keluarga kita. Karena seluruhnya merupakan modal utama bagi da’wah ini.
Stabilitas Sosial
Ikhwan dan akhwat fillah..
Yang ketiga adalah stabilitas sosial kita dalam berkomunikasi dengan tetangga, dengan masyarakat, masyarakat kampus, lingkungan, dsb. Kalau kita bisa memelihara kestabilan sosial, insya Allah lingkungan kita akan menjadi basis sosial bagi dakwah kita. Apalagi sekarang kita seringkali bergaul dalam lingkungan kita sendiri, misalnya di musholla, di masjid, dan sebagainya. Seharusnya kita bisa memberi keteladanan dalam membina hubungan sosial yang baik, harus memancarkan qudwah, masyarakat yang tenang dan tentram. Karena masyarakat yang tenang dan tentramlah yang dapat memberikan sumbangsihnya bagi lingkungan-lingkungan yang lebih luas, umat, bangsa, dan negara.
Kestabilan sosial dapat diwujudkan dengan mengembangkan komunikasi dan hubungan dengan siapa pun yang mempunyai prospek untuk kita membangun hubungan.
Kestabilan Tandzimi
Ikhwan dan akhwat fillah. Dengan modal kestabilan jiwa, kestabilan keluarga, dan kestabilan sosial, insya Allah secara struktural (tandzimi) kita pun akan tenang. Tandzim kita akan tenang tidak banyak PR, tidak banyak urusan internal, tidak mendengar sindiran sebagai organisasi qodhoya (penuh dengan masalah), karena yang selalu dibahas adalah qodhoya dan qodhoya. Dan ini tadzkirah. Sebenarnya fenomena tersebut hanya sedikit, tapi bagi organisasi cukup mengusik, mengusik hati, mengusik pikiran. Potensi qiyadah dan jundiyah terkuras oleh hal-hal yang demikian.
Oleh karena itu, dengan bermodalkan kestabilan jiwa, kestabilan keluarga, kestabilan sosial, insya Allah akan mencapai yang keempat, yaitu kestabilan tandzimi. Tandzim kita insya Allah akan menjadi struktur yang stabil, yang tenang, tidak direpotkan oleh isu, oleh gosip, oleh kasak-kusuk, oleh friksi-friksi yang na’udzubillah jika dibiarkan akan menjadi fraksi-fraksi..
Jika tercapai kestabilan tandzimi, maka kesolidan lembaga yang kita harapkan insya Allah dapat diwujudkan. Semoga lembaga da’wah kampus kita senantiasa dalam kondisi yang solid, tenang dan tentram, sehingga dapat menuntaskan perubahan dan mencetak mahasiswa-mahasiswi muslim sebagai da'i, agent of change, dan iron stock untuk masa depan menuju kemenangan. Allahu Akbar.


Hudzaifah.org