Selasa, 17 Juni 2008

Sutradara dan Artis…

Pernahkah anda menonton drama, sinetron dan layar labar…? Jawabannya tentu pernah. Apa judul filmnya ? itu pastinya tergantung dengan selera anda masing-masing. Setiap bulan saya luangkan waktu untuk menonton film-film inspirasional. Persuit Happiness, Goal, Cinderella man, The Gretest Game ever played dan kisah success lainnya. Tentunya andapun punya movie favorit menginspirasikan kehidupan anda.

Apakah yang menyebabkan kita tersanjung terhadap sebuah film…? Mungkin anda akan menjawab “ Isi narasi, cerita dan scenario film tersebut mengisahkan layaknya kehidupan saya “ atau barangkali “ ya karena artisnya cantik dan tampan” bisa jadi anda berargumen “ the story very inspirits me ? ”.

Apa yang anda katakan benar, dan saya mengajak anda untuk melihat sebuah kesuksesan film itu dari konteks anda dan saya. “ Tersanjung, terinspirasi dan mengesankan sebuah film karena saya menonton nya dari awal hingga akhir (Pen.) Bisakah kita mengatakan sebuah kisah layar lebar bagus atau tidaknya dari 30 menit pertama ? Bagaimana kita bisa berpendapat bahwa suatu drama tidak romantis, namun anda hanya menyaksikannya Cuma 10 menit saja ?

Saudara yang Power…

Begitu juga dengan kehidupan kita. Hidup yang sedang anda dan saya jalani, bagaikan sebuah kisah yang diangkat dalam layar lebar. Bagaimana anda bisa mengatakan bahwa diri anda adalah seorang pecundang ? Semenjak kapan anda memutuskan dilahirkan kedunia ini sebagai looser ? Siapa yang berhak mengatakan anda tak pantas menjadi pemimpin ? Hal apa menyebabkan anda mengadjust diri anda sebagai ; pemarah, orang tak bertanggung jawab, penakut, pesismis, miskin dan orang yang lemah ?

Saudara… Kisah ini belum berakhir. Cerita kita belum tamat. Sang sutradara (Allah swt) telah menjadikan manusia sebagai SUPERSTAR. Anda adalah pemeran utamanya. Ada perbedaan bintang layar lebar dan diri kita. Para pemain film, mereka mengetahui naskah dari awal hingga akhir. Namun mereka tidak diberikan wewenang untuk merubahnya.

Sementara kita, dikasih klu akan kehidupan ini. Apakah petunjuk tersebut…?

Pertama ; We are perfect creation.

Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”.

(QS ; at-tin ; 4)

Selain itu, kita telah terpilih sebagai permeran utamanya. Audisi untuk menjadi bintang diikuti lebih dari 250.000.000 calon pemain. Namun anda dan sayalah yang berhak melakoninya.

Kedua ; The end of movie depend on us

Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, Maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia”.

(QS;Ar-Ra’du ; 11)

Film ini akan berakhir happy ending atau selesai dengan sedih, itu semua kita lah yang menentukan. Bukan berarti saya mengatakan tidak percaya dengan TAKDIR tuhan. Kebijaksaan- Nyalah menjadikan takdir kita dirahasiakan. Oleh sebab itu pula, manusia diperintahkan untuk terus berusaha. Sesungguhnya Allah tidak melihat hasil yang kita capai melainkan PROSES yang kita lalui…

“Aku sebagaimana prasangka hambaKu”

(Hadits Qudsi)

Saudara… Anda telah dilahirkan sebagai elang, jadilah elang. Bukan ayam. Kita telah dibentuk menjadi harimau, jadilah harimau. Bukan kucing. Anda telah dipilih untuk berperan sebagai pemenang, bangkit dan jadilah a winner. Bukan a looser. Anda dan saya ditentukan sebagai orang sukses, Jadilah success people. Bukan orang gagal. Anda diciptakan sebagai tokoh bahagia, bertindaklah bahagia. Bukan perilaku sedih.

Selama anda masih bisa melihat mentari terbit dari ufuk timur. Udara segar masih dapat anda hirup. Gerakan detak jantung dan denyut nadi masih anda rasakan. Itu maknanya cerita belum berakhir.

Bila hari ini anda ditolak dalam menawarkan produk. lamaran anda tidak diterima oleh perusahaan, pinangan anda belum disambut oleh mertua. Persentasi anda belum menyenangkan. Nomor peserta anda tidak terlampir didaftar kelulusan SPMB. Nama anda tidak tertulis dalam list beasiswa S1,S2 dan S3. Bisnis anda bangkrut. Uang anda dibawa lari oleh klien. Anda dibohongi oleh teman sendiri. Karyawan anda memurkup dana perusahaan.. BBM naik. Anda di PHK dan difitnah. Itu semua bukan berarti akhir dari segala-galanya.

ikan menjadi kuat karena melawan arus”

“ Karang kuat karena dihantam ombak”

“Kayu yang kokoh karena diterpa angin”

Tsunami menghancurkan bumi serambi mekkah. Saya kehilanggan kedua orang tua, Harta, dan tempat tinggal. Saat itu harta yang saya miliki Cuma sepotong kaos oblong putih dan celana puntung. Bukan maksud menyampaikan lihatlah saya. Namun yang ingin saya katakan, dalam kehidupan ini ; Bahagia, sedih, semangat, depresi, loyo, perasaan menang dan motivasi. Andalah yang menentukannya.

“Perbedaan antara orang sukses dan gagal ditentukan pada jatuh dan bangkitnya. Orang sukses segera mengambil tindakan untuk bangkit kembali. Sementara orang gagal jatuh tersungkur dan tak pernah bangkit lagi”.

Saudara Power

Sekali lagi saya ulangi. Kisah kehidupan anda dan saya ditentukan oleh tindakan-tindakan yang anda ambil. Pemberian gelar pemenang, pecundang, sukses dan gagal adalah pada akhir episode kehidupan ini. Selama kita masih hidup, semua manusia memiliki peluang untuk memperbaiki karirnya.

Bagaimankah anda ingin mengakhiri kisah ini… ?

Do it now or never forever

Rahmadsyah (www.trainer- tcc.blogspot. com)



Dialog Selepas Malam


"Akhi, dulu ana merasa semangat saat aktif dalam dakwah. Tapi belakangan rasanya semakin hambar. Ukhuwah makin kering. Bahkan ana melihat ternyata ikhwah banyak pula yang aneh-aneh." Begitu keluh kesah seorang mad'u kepada murobbinya di suatu malam. Sang murobbi hanya terdiam, mencoba terus menggali semua kecamuk dalamdiri mad'u-nya.

"Lalu, apa yang ingin antum lakukan setelah merasakan semua itu?" sahut sang murobbi setelah sesaat termenung.. "Ana ingin berhenti saja, keluar dari tarbiyah ini. Ana kecewa dengan perilaku beberapa ikhwah yang justru tak islami. Juga dengan organisasi dakwah yang ana geluti; kaku dan sering mematikan potensi anggota-anggotanya. Bila begini terus, ana lebih baik sendiri saja" jawab ikhwah itu.

Sang murobbi termenung kembali. Tak tampak raut terkejut dari roman wajahnya. Sorot matanya tetap terlihat tenang, seakan jawaban itu memang sudah diketahuinya sejak awal.

"Akhi, bila suatu kali antum naik sebuah kapal mengarungi lautan luas. Kapal itu ternyata sudah amat bobrok.Layarnya banyak berlubang, kayunya banyak yang keropos bahkan kabinnya bau kotoran manusia. Lalu, apa yang antum lakukan untuk tetap sampai pada tujuan?" tanya sang murobbi dengan kiasan bermakna dalam. Sang mad'u terdiam berpikir.

Tak kuasa hatinya mendapat umpan balik sedemikian tajam melalui kiasan yang amat tepat.
"Apakah antum memilih untuk terjun ke laut dan berenang sampai tujuan?"
sang murobbi mencoba memberi opsi. "Bila antum terjun ke laut, sesaat antum akan merasa senang. Bebas dari bau kotoran manusia, merasakan kesegaran air laut,atau bebas bermain dengan lumba-lumba. Tapi itu hanya sesaat. Berapa kekuatan antum untuk berenang sampai tujuan? Bagaimana bila ikan hiu datang? Darimana antum mendapat makan dan minum? Bila malam datang, bagaimana antum Mengatasi hawa dingin?" serentetan pertanyaan dihamparkan di hadapan sang ikhwah tersebut.

Tak ayal, sang ikhwah menangis tersedu. Tak kuasa rasa hatinya menahan kegundahan sedemikian. Kekecewaannya kadung memuncak, namun sang murobbi yang dihormatinya justru tak memberi jalan keluar yang sesuai dengan keinginannya.

"Akhi, apakah antum masih merasa bahwa jalan dakwah adalah jalan yang paling utama menuju ridho Allah swt?" Pertanyaan menohok ini menghujam jiwasang ikhwah. Ia hanya mengangguk. "Bagaimana bila ternyata mobil yang antum kendarai dalam menempuh jalan itu ternyata mogok? Antum akan berjalan kaki meninggalkan mobil itu tergeletak di jalan, atau mencoba memperbaikinya? " tanya sang murobbi lagi.

Sang ikhwan tetap terdiam dalam sesenggukan tangis perlahannya.
Tiba-tiba ia mengangkat tangannya; "Cukup akhi, cukup. Ana sadar. Maafkan ana, Insya Allah ana akan tetap istiqomah. Ana berdakwah bukan untuk mendapat medalikehormatan. Atau agar setiap kata-kata ana diperhatikan"

"Biarlah yang lain dengan urusan pribadi masing-masing. Biarlah ana tetap berjalan dalam dakwah. Dan hanya Allah saja yang akan membahagiakan ana kelak dengan janji-janji- Nya. Biarlah segala kepedihan yang ana rasakan jadi pelebur dosa-dosa ana." Sang madââ¬â¢u berazzam di hadapan sang murobbi yang semakin dihormatinya.

Sang murobbi tersenyum. "Akhi, jama'ah ini adalah jama'ah manusia. Mereka adalah kumpulan insan yang punya banyak kelemahan. Tapi di balik kelemahan itu, masih amat banyak kebaikan yang mereka miliki. Mereka adalah pribadi-pribadi yang menyambut seruan Allah untuk berdakwah. Dengan begitu, mereka sedang berproses menjadi manusia terbaik pilihan Allah."
"Bila ada satu dua kelemahan dan kesalahan mereka, janganlah hal itu mendominasi perasaan antum.

Sebagaimana Allah taâala menghapus dosa manusia dengan amal baik mereka, hapuslah kesalahan mereka di mata antum dengan kebaikan-kebaikan mereka terhadap dakwah selama ini.
Karena di mata Allah, belum tentu antum lebih baik dari mereka."

"Futur, mundur, kecewa atau bahkan berpaling menjadi lawan bukanlah jalan yang masuk akal. Apabila setiap ketidaksepakatan selalu disikapi dengan jalan itu; maka kapankah dakwah ini dapat berjalan dengan baik?" sambungnya panjang lebar.

"Kita bukan sekedar pengamat yang hanya bisa berkomentar. Atau hanya pandai menuding2 sebuah kesalahan. Kalau hanya itu, orang kafir pun bisa melakukannya.

Tapi kita adalah da'i. Kita adalah khalifah. Kitalah yang diserahi amanat oleh Allah untuk membenahi masalah-masalah di muka bumi. Bukan hanya mengeksposnya, yang bisa jadi justri semakin memperuncing masalah."

Sang mad'u termenung merenungi setiap kalimat murobbinya. Azzamnya Memang kembali menguat. Namun ada satu hal tetap bergelayut di hatinya. "Tapi bagaimana ana bisa memperbaiki organisasi dakwah dengan kapasitas ana yang lemah ini?" sebuah pertanyaan konstruktif akhirnya muncul juga.

"Siapa bilang kapasitas antum lemah? Apakah Allah mewahyukan begitu kepada antum? Semua manusia punya kapasitas yang berbeda. Namun tak ada yang bisa menilai bahwa yang satu lebih baik dari yang lain!" sahut sang murobbi.

"Bekerjalah dengan ikhlas. Berilah tausyiah dalam kebenaran, kesabaran,dan kasih sayang pada semua ikhwah yang terlibat dalam organisasi itu. Karena peringatan selalu berguna bagi orang yang beriman. Bila ada sebuah isu atau gosip, tutuplah telinga antum dan bertaubatlah. Singkirkan segala ghil
antum terhadap saudara antum sendiri. Dengan itulah, Bilal yang mantan budak hina menemui kemuliaannya. "


Malam itu, sang mad'u menyadari kesalahannya. Ia bertekad untuk tetap berputar bersama jama'ah dalam mengarungi jalan dakwah.

kembalikan semangat itu saudaraku, jangan biarkan asa itu hilang, ditelan gersangnya debu yang menerpa. Biarlah itu semua menjadi saksi, sampai kita diberi 2 kebaikan oleh Allah swt: kemenangan atau mati syahid.


KADANG KITA SIPUT


* Afwan akhi, ane telat datang nich,
* Akh, Sabtu-Ahad depan ada undangan daurah,
* Acara liqoâ-nya dimajukan besok lusa akh,

Hmmm, tiga contoh ungkapan di atas kadang datang menghiasi telinga kita. Datang telat saat acara liqoâ, pemberitahuan acara yang serba mendadak, atau sejenisnya. Sungguh disayangkan ketika semua peristiwa di atas ikut âmenghiasiâ agenda yang begitu pentingnya, yakni dakwah, apalagi muncul dari pelaku yang menyandang sebutan âkader dakwahâ.

Mungkin tak pernah terlintas dalam pikiran kita, saat kita telat datang dalam menghadiri sebuah agenda yang telah disepakati bersama itu berarti kita telah âmenyiayiakanâ waktu al-akh yang lain yang datangnya lebih awal. Keterlambatan kita datang akan berdampak pada âmolorâ-nya acara dan tentunya akan berdampak pula pada agenda-agenda pasca âacaraâ yang mungkin telah disusun rapi oleh seorang al-akh. Atau saat kita memberitahukan sebuah agenda secara mendadak (misalnya hanya beberapa hari sebelum hari H), bisa jadi hal itu akan berdampak pada peng-cancle-an agenda-agenda lain yang telah disusun seorang al-akh jauh hari sebelumnya.

Ada sebuah âsifatâ yang harus melekat diantara al-akh, yakni sikap senantiasa mau memaâafkan, tsiqah dan ketaataan. Di segala âlini dakwahâ dan kondisi, tiga sifat tersebut haruslah senantiasa dimiliki. Tapi jangan sampai âtiga sifatâ tersebut seolah-olah âdibenturkanâ dengan beberapa âperistiwaâ atau âungkapanâ seperti di atas. Artinya, biarlah âtiga sifatâ tersebut tumbuh di setiap al-akh dengan alamiyah dan proses âpenempaanâ yang baik. Misalnya, janganlah âperistiwaâ keterlabatan seorang al-akh datang ke sebuah acara dijadikan sebuah âlatihanâ guna menumbuhkan ârasa maklum dan memaafkanâ. Atau, janganlah âpemberitahuan/undangan mendadakâ dijadikan sebuah âlatihanâ guna menumbuhkan âketaatanâ.

Terakhir, mari kita renungi lagi 10 muwassafat yang harus dimiliki oleh setiap al-akh. Jika kesepuluh muwassafat tsb bisa âmelekatâ di setiap al-akh, InsyaaALLOH akan terlahir kader dakwah yang âtangguhâ dan âprofesionalâ yang akan mampu mengemban amanah dakwah di era modern ini. Salah satu dari 10 muwassafat yang terkait dengan tulisan ini yakni, Pandai menjaga waktu (harishun ala waqtihi) yang merupakan faktor penting bagi manusia. Hal ini karena waktu itu sendiri mendapat perhatian yang begitu besar dari Allah dan Rasul-Nya. Allah Swt banyak bersumpah di dalam Al-Qurâan dengan menyebut nama waktu seperti wal fajri, wad dhuha, wal asri, wallaili dan sebagainya.

Allah Swt memberikan waktu kepada manusia dalam jumlah yang sama setiap, yakni 24 jam sehari semalam. Dari waktu yang 24 jam itu, ada manusia yang beruntung dan tak sedikit manusia yang rugi. Karena itu tepat sebuah semboyan yang menyatakan: âLebih baik kehilangan jam daripada kehilangan waktu.â Waktu merupakan sesuatu yang cepat berlalu dan tidak akan pernah kembali lagi.

Oleh karena itu setiap muslim amat dituntut untuk memanaj waktunya dengan baik, sehingga waktu dapat berlalu dengan penggunaan yang efektif, tak ada yang sia-sia.

Sumber : Dari milist tetangga


Salam Power


Suatu hari,seorang anak berusia 7 tahun.Bermain bergembira sambil lompat kanan-kiri dan berlari-lari dipekarangan rumahnya.Didinding rumah bocah berkulit putih berambut pendek itu,ditumbuhi beberapa jenis tumbuhan.

Dinding utara,ada tumbuhan pisang dan pohon jeruk.Sianak kemudian mendekati kedua pohon itu.Sambil memperhatikan dedaunan dan ranting cabang jeruk..Tiba- tiba sianak kecil tadi melihat pada salah satu daun pisang,terdapat 2 buah telur ulat yang telah menjadi kepompong siap untuk menjadi kupu-kupu…

Pada salah satu kepompong,dia memperhatikan, ada sebuah benda sedang berusaha dengan sangat keras untuk keluar dari lilitan telur tersebut.beberapa saat kemudian dia amati,mucullah kepala dari telur itu.Dengan segenap tenaga yang dimiliki,benda dari kepompong terus bergerak,dia terus mencoba untuk keluar dari cengkraman telur itu.

Dengan menahan kesakitan,muncullah sayap sebelah kanannya.Sesaat kemudian,sayap sebelah kirinya juga muncul.Benda tersebut jatuh ketanah.Dan dalam sekejab dia bangun sambil mengepakkan sayapnya terbang menghiasi halaman rumah bocah 7 tahun itu.Bocah tersebut terdiam terpensona melihat kecantikan kupu-kupu itu.

Sementara telur yang satunya lagi pun,ada sebuah benda yang akan keluar dari balutan tubuhnya.Sang bocah memperhatikan, calon kupu-kupu itu berusaha dengan keras untuk keluar.Menahan kesakitan yang luar biasanya.

Lelaki kecil berkulit putih ini,merasa kasihan dan iba terhadap calon kupu-kupu.Sehingga dia mengambil sebatang lidi,dengannya dia merobek balutan kepompong.Akhirnya sikupu-kupu dapat keluar dari lilitan yang ada ditubuhnya dan jatuh ketanah.Namun sayang,kupu- kupu ini hanya dapat berdiri namun tidak dapat terbang sebagaimana temannya yang lain…

Saudara Power…

Demikian juga dengan kehidupan kita.Untuk mendapatkan kesuksesan,kita membutuhkan proses menuju kesana.”Tidak ada sukses yang instan”.Sekali lagi saya ulangi “tidak ada sukses yang instan”,yang ada hanyalah Mie Instan dan susu Instan…he…he…

Dewasa ini,banyak saudara kita memilih jalan alternative untuk menggapai impianya.Mendatangi kuburan,mbah dukun,menyembah pohon,judi dan benda-benda tertentu.

Contoh nyata,sebagaimana yang terjadi dengan saudara kita di Aceh.Rumah bantuan tsunami dari BRR di buat secepat mungkin untuk jadi.Dari luar kalau kita perhatikan,rumah nya sudah layak untuk ditempati.Tapi didalamnya terdapat kerusakan didinding,lantai dan platfonnya.Ini adalah ulah dari oknum kontraktor yang tak bertanggung jawab.Menginginkan rumah kilat,agar bisa mendapatkan proyek lainnya…

“No pain no gain”

Tanyakanlah kepada para achiver-achiver, apakah mereka mendapatkan impian dan cita-cita mereka dengan hanya berpangku tangan?apakah mereka meraihnya dengan santai dan manis..?

Tidak,,,sekali lagi tidak.K Ronald dan K lily,instruktur NAC system.Selama tiga tahun tinggal dirumah kontrakan berukuran 4x5 meter.Andrie Wongso pernah menjadi Kuli bangunan.Ali sakti researcher BI,pernah menjadi kuli beras untuk menghidupi keluarganya di Malaysia,tinggal bersama istri bahkan tidak beralaskan kasur.Mohamad Yunus,selama 27 tahun berjuang,menyisakan uang gajinya dari kampus untuk para pengrajin disekitar tempat tinggalnya.Cris Gradner,pernah tingal ditempat rumah panti dan bekerja selama 6 bulan tanpa digaji…

Masih banyak contoh kisah nyata dari para achiver yang membuktikan, Bahwa keberhasilan dan kesuksesan tidak diperoleh dengan instan.Kesuksesan itu adalah sebuah proses yang harus dijalani dan dinikmati.

Do it now or never forever

Rahmadsyah ( www.trainer- tcc.blogspot. com )



Kamis, 12 Juni 2008

Jangan jadi Monyet

Astaghfirullah! Menulis judulnya saja sebenarnya saya sudah nggak mau. Tapi, ini memang ceritera yang pernah diceriterakan oleh Almarhum Ustadz Rahmat Abdullah Allahuyarham, di berbagai kesempatan saat mengisi dauroh. Teringat akan ceritera ini, saya pun memutuskan untuk memasukkannya ke dalam dialog pada adegan terakhir sebelum beliau wafat.

Adegannya begini :
Saat Ustadz Rahmat Abdullah menaiki tangga gedung Kindo, beliau bertemu dengan seseorang (diperankan oleh sahabat saya, yang sudah mewanti-wanti untuk tidak disebutkan namanya sebelum film ini jadi. “Takut ngetop!” katanya bercanda). Seseorang itu curhat pada Ustadz Rahmat.

Seseorang :
Ustadz, gimana nih? Teman-teman udah pada kendor semangatnya. Kalau kita ketemu nggak pernah ngomongin pengajian lagi. Yang diomongin soal ekonomi… politik… Gimana dong, tadz?!

Ustadz Rahmat :
Akhi, antum mesti sabar dan ikhlas. Antum tahu monyet?

Seseorang :
Ya, tahu Ustadz. Tapi bukan ane kan monyetnya?

Ustadz Rahmat :
(Tersenyum) Ada ceritera, seekor monyet nangkring di pucuk pohon kelapa. Dia nggak sadar lagi diintip sama tiga angin gede. Angin Topan, Tornado sama Bahorok. Tiga angin itu rupanya pada ngomongin, siapa yang bisa paling cepet jatuhin si monyet dari pohon kelapa. Angin Topan bilang, dia cuma perlu waktu 45 detik. Angin Tornado nggak mau kalah, 30 detik. Angin Bahorok senyum ngeledek, 15 detik juga jatuh tuh monyet. Akhirnya satu persatu ketiga angin itu maju. Angin Topan duluan, dia tiup sekenceng-kencengnya, Wuuusss…. Merasa ada angin gede datang, si monyet langsung megang batang pohon kelapa. Dia pegang sekuat-kuatmya. Beberapa menit lewat, nggak jatuh-jatuh tuh monyet. Angin Topan pun nyerah. Giliran Angin Tornado. Wuuusss… Wuuusss… Dia tiup sekenceng-kencengnya. Ngga jatuh juga tuh monyet. Angin Tornado nyerah. Terakhir, angin Bahorok. Lebih kenceng lagi dia tiup. Wuuuss… Wuuuss… Wuuuss… Si monyet malah makin kenceng pegangannya. Nggak jatuh-jatuh. Ketiga angin gede itu akhirnya ngakuin, si monyet memang jagoan. Tangguh. Daya tahannya luar biasa.

Ngga lama, datang angin Sepoi-Sepoi. Dia bilang mau ikutan jatuhin si monyet. Diketawain sama tiga angin itu. Yang gede aja nggak bisa, apalagi yang kecil. Nggak banyak omong, angin Sepoi-Sepoi langsung niup ubun-ubun si monyet. Psssss… Enak banget. Adem… Seger… Riyep-riyep matanya si monyet. Nggak lama ketiduran dia. Lepas pegangannya. Jatuh tuh si monyet.

Nah, akhi. Tantangan dakwah seperti itu. Diuji dengan kesusahan… Dicoba dengan penderitaan… Insya Allah, kita kuat. Tapi jika diuji oleh Allah dengan kenikmatan, ini yang kita mesti hati-hati. Antum mesti sabar… ikhlas… Ingetin terus temen-temen antum, jangan seperti monyet…

sumber : www.zul3.multiply.com

KEKUATAN



Besarnya otot bukanlah lambang dari sebuah kekuatan. Ia tidak bisa menjadi segalanya, juga tidak dapat berbuat banyak. Bukan hal mudah untuk menyadari dua hal yang antagonis kekuatan, keterbatasan dan kerendahan hati.
Barang siapa yang membiasakan diri melakukan dosa kecil maka ia pun akan mudah terseret untuk melakukan dosa yang lebih besar lagi. Kekuatan cahaya iman pun akan semakin redup tertutup oleh banyaknya noda-noda hitam akibat banyaknya dosa kecil yang dikerjakan. Na’uzubillah.

Saudaraku, bagaimanakah engkau menyikapi dosa-dosa kecil yang sering menghampiri mu. Masihkah engkau memiliki kecendrungan untuk meremehkannya karena kecilnya ia di pelupuk mata mu? Kekuatan apa yang engkau miliki untuk menyikapi hal ini. Ingat kah kita akan sebuah niat, apa yang kita ketahui dengan niat? Kekuatan niatlah yang akan meruntuhkan keraguan yang sebenarnya tidak sesuai dengan hati kecil. Seorang muslim itu harus memiliki sikap tegas penuh kekuatan untuk melawan semua itu.
Cinta Yusuf AS kepada Allah telah membuktikan kekuatannya dalam melawan keingian Zulaykha yang berusaha merayunya meskipun penjara balasanya. Saudaraku, cintamu yang mendalam kepada sesuatu selain Allah akan bisa membutakan dan menjadikanmu berpaling dari-Nya, kecuali kekuatan cintamu kepada sesuatu yang dapat mendatangkan kecintaan Allah kepadamu. Rasulullah saw adalah manusia yang paling dicintai Allah, maka apabila engkau mencintainya, hal itu akan mendatangkan kecintaan Allah padamu. Seperti apa yang telah disabdakan Rasulullah saw:

“Cintamu pada sesuatu menjadikanmu buta dan tuli”
(HR.Abu Dawud dan Ahamd)

Kita lihat lagi contoh yaitu Abu Bakar r.a ! Dia adalah seorang sahabat yang paling mencintai dan paling dekat di hati rasulullah saw. Dia takut akan tersesat bila meninggalkan petunjuk yang disampaikan Rasulullah oleh karena itu diapun berusaha sekuat tenaga untuk meneladani perilaku dan menaati perintah beliau. Ada kekuatan cinta yang mengakar dalam diri Abu bakar, demi menjaga kecintaanya kepada Sang Pencipta yang memiliki cinta yang abadi. Kekuatan adalah sebuah cahaya yang berjalan di tengah-tengah kegelapan zaman. Berusahalah untuk menjaga cahaya tersebut agar tidak padam sebelum perjalan kita berakhir. Wallahu’alam.