Sabtu, 29 Januari 2011

Manajemen Dakwah Kampus

Secara harfiah, dakwah kampus artinya  Mengajak manusia kepada Allah dengan hikmah dan pelajaran yang baik sehingga manusia tersebut keluar dari kondisi jahiliyyah (kebodohan) menuju kepada Islam dengan kampus sebagai pusat kegiatannya. Adapun manajemen berasal dari bahasa Inggris, dari kata “to manage” yang artinya mengurus, membimbing atau mengawasi. Manajemen adalah usaha mencapai tujuan melalui kegiatan-kegiatan orang lain yang dilakukan oleh seorang pemimpin.

Dari pengertian da’wah kampus dan manajemen, kita bisa mengambil suatu kesimpulan bahwa, manajemen dakwah kampus adalah usaha mencapai tujuan memakmurkan dakwah kampus melalui kerjasama (amal jama’i) dari pengurus dakwah kampus dengan melibatkan masyarakat sekitarnya dengan kampus pusat perubahannya.

URGENSI MANAJEMEN DAKWAH KAMPUS
Manajemen dalam pengurusan dakwah kampus mempunyai arti yang sangat penting. Bila dakwah kampus dikelola tanpa menggunakan manajemen yang rapi, maka tidak mungkin tujuan yang sebenar-benarnya tercapai.
Karena itu manajemen dakwah kampus erat kaitannya dengan kepemimpinan (leadership). Pengurus dakwah kampus tentunya memerlukan seorang ketua atau pemimpin. Seorang pemimpin yang disamping harus seorang yang shaleh dengan aqidah yang salimah dan akhlak yang karimah, haruslah seorang yang memiliki beberapa hal :
1. Berpandangan jauh ke masa depan.
2. Bersikap dan bertindak bijaksana.
3. Berpengetahuan dan berwawasan yang luas.
4. Bersikap dan bertindak adil.
5. Memiliki pendirian yang teguh.
6. Berkeyakinan bahwa misinya akan berhasil.
7. Memiliki kondisi fisik yang baik.
8. Mampu berkomunikasiyang baik.
FUNGSI MANAJEMEN DAKWAH KAMPUS
Secara umum manajemen, termasuk manajemen dakwah kampus memiliki empat fungsi :
1. Planning.
Segala aktivitas, apalagi aktivitas yang besar sangat sangat diharuskan adanya planning (perencanaan). Dalam kaitannya dengan pengelolaan dakwah kampus, bila perencanaan dilaksanakan dengan matang, maka kegiatan dakwah kampus yang dilaksanakan akan berjalan secara terarah, teratur, rapih serta memungkinkan dipilihnya tindakan-tindakan yang tepat sesuai dengan situasi dan kondisi. Dengan perencanaan yang didahului oleh penelitian, lebih memungkinkan persiapan yang lebih matang, baik menyangkut tenaga sdm, fasilitas yang diperlukan, biaya yang dibutuhkan, metode yang akan diterapkan dan lain-lain.
Tanpa perencanaan yang matang, biasanya aktivitas tidak berjalan dengan baik, tidak jelas kemana arah dan target yang akan dicapai dari kegiatan itu serta sulitnya melibatkan orang yang lebih banyak. Keharusan melakukan perencanaan bisa kita pahamidari firman Allah yang artinya  : “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah siap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. 59 :18).
2. Organizing.
Di atas sudah disinggung bahwa tugas-tugas da’wah yang demikian banyak tidak mungkin bisa dilaksanakan oleh seorang diri atau hanya beberapa orang saja, karena itu diperlukan pembagian  tugas yang jelas yang dalam istilah ilmu manajemennya disebut pendelegasian wewenang dan menetapkan serta menyusun jalinan hubungan kerja. Pengorganisasian ini punya arti penting guna menghindari terjadinya penumpukan kerja, tumpang tindih dan kevakuman personil dalam menjalankan aktivitas.
Dalam kaitan ini perlu diperhatikan apa yang disebut prinsip-prinsip manajemen, antara lain :
a. Pembagian kerja, dengan memberi tugas pada seseorang sesuai denga keahliannya, pengalaman, kodisi fisik, mental serta akhlaknya.
b. Pemberian wewenang dan tanggung jawab kepada orang yang telah diberi pekerjaan, hal ini harus diberikan secara jelas dan tegas, antara keduanya harus seimbang sehingga setiap orang bisa memberikan tanggang jawab sesuai wewenang yang bisa diberikan kepadanya.
c. Kesatuan komando (perintah), yang datangnya dari satu sumber yaitu pimpinan agar seseorang tahu dan jelas kepada siapa dia bertanggang jawab.
d. Tertib dan disiplin, ini merupakan salah satu kunci utama bagi berhasilnya tujuan yang hedak dicapai. Dalam kaitan ini seorang pemimpin juga harus mampu memberikan contoh kedisiplinan kepada bawahannya, misalnya dia telah menetapkan waktu untuk rapat maka sang pemimpin harus datang tepat pada waktunnya, bila seorang pemimpin tidak disiplin, maka bawahannya juga akan mengikuti sikap yang demikian.
e. Memiliki semangat kesatuan, sehingga dengan semangat kesatuan itu akan bekerja dengan senang hati, saling membantu sehingga dapat terjalin kerja sama yang baik, dengan ini pula maka setiap personil memiliki inisiatif untuk memajukan da’wah.
f. Keadilan dan kejujuran. Seorang  pemimpin harus berlaku adil pada bawahannya dan seorang bawahan harus jujur, jangan sampai dia tidak melaksanakan tugas karena alasan-alasan yang tidak rasional, begitupun seorang pemimpin kepada bawahannya
g. Koordinasi (menghimpun dan mengarahkan kegiatan, sarana dan alat organisasi), integrasi(menyatukan kegiatan berbagai unit) dan sinkronisasi (menyesuaikan berbagai kegiatan  dari unit-unit guna keserasian dan keharmonisan).
Bila prinsip diatas tidak dijalankan, maka akan terjadi mismanajemen yang diantaranya disebabkan karena belum ada struktur organisasi yang baik, tidak sesuai antara rencana dengan kemampuan, belum adanya keseragaman metoda kerja yang baik dan belum adanya kesesuaian antara pimpinan dengan bawahan.
3. Actuating.
Fungsi ini merupakan penentu manajemen dakwah kampus. Keberhasilan fungsi ini sangat ditentukan oleh kemampuan pimpinan dakwah di kampus dalam menggerakkan da’wah. Adapun langkah-langkahnya adalah memberikan motivasi, membimbing, mengkoordinir, dan menjalin pengertian diantara mereka serta selalu meningkatkan kemampuan dan keahlian  mereka.
4. Controling.
Controling merupakan pengaman sekaligus pendinamis jalannya kegiatan dakwah kampus. Dengan fungsi ini, seorang pemimpin bisa melakukan tindakan-tindakan antara lain : Pertama, mencegah penyimpangan dalam pengurusan dakwah kampus. Kedua, menghentikan kekeliruan dan penyimpangan yang berlangsung, dan ketiga, mengusahakan pendekatan dan penyempurnaan .
Langkah langkah yang harus ditempuh antara lain :
1.      Menetapkan standar
2.      Mengadakan pemeriksaan serta penelitian pada pelaksanaan tugas yang telah ditetapkan .
3.      Membandingkan antara pelaksanaan tugas dan standar
4.      Mengadakan tindakan tindakan perbaikan.

Rabu, 26 Januari 2011

Ikhlashlah dalam Berda'wah


Ikhwah fillah, titik akhir dari perjuangan kita adalah mati syahid di jalan Allah, kematian yang mulia di sisi Allah, syahid fi sabilillah. Menjadi seorang syuhada adalah impian semua pejuang di jalan Allah. Ada yang sudah menunaikannya, ada pula yang masih menunggu gilirannya.

"Di antara orang-orang mu'min itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu- nunggu dan mereka tidak merobah (janjinya).." (QS. Al Ahzab: 23)

Untuk mencapai cita-cita tertinggi kita itu bukan jalan yang mudah. Jalan untuk mencapainya penuh dengan o nak dan duri. Segala tantangan dan cobaan senantiasa muncul, baik dari diri kita maupun dari luar. Untuk itu dibutuhkan kebersihan hati dan keikhlashan. Bila kita menemukan seorang aktivis yang tidak ikhlash, lepaskan dia dari barisan kita. Karena hanya akan membuat barisan ini menjadi tidak rapi.
Ali bin Abi Thalib pernah mengatakan mengenai 4 sikap yang terpuji tapi susah dilakukan. Keempat sikap itu adalah:
1. Memberi maaf ketika kita sedang marah.
2. Bersikap dermawan pada saat-saat krisis.
3. Menjaga diri dari perbuatan dosa ketika tidak ada orang lain (yang melihat kita).
4. Mengatakan yang haq kepada orang yang kita harapkan kebaikan darinya atau orang yang kita takuti.

Keempat sikap di atas memang sulit untuk dilakukan, tapi tidak akan sulit apabila pelakunya ikhlash. Karena orang-orang yang tidak ikhlash, mereka sebenarnya sedang tergelincir, tergelincir mengikuti hawa nafsu. Salafush sholeh mengatakan bahwa menundukkan hawa nafsu itu sebenarnya indah, sedangkan mengikuti hawa nafsu itulah yang sebenarnya tidak indah.
Ikhwah fillah, janganlah kita menjadi seperti orang yang seperti ini: dia sudah bertahun-tahun terlibat dalam da'wah dan tarbiyah, namun tidak ada pengaruh positif bagi dirinya dan orang lain di sekitarnya. Orang ini pasif, ada atau tidak-ada-nya dia tidak berpengaruh. Dia tidak memberi dukungan terhadap aktivitas da'wah. Tidak tampak perbaikan positif padanya. Dia tidak memperhatikan unsur ketidakhadirannya dalam aktivitas da'wah. Dan dia tidak menyampaikan udzur bila menolak amanah da'wah.

Jadilah kita al Akh yang ikhlash dalam berda'wah. Berani menempuh perjalanan panjang, perjalanan yang pernah ditempuh oleh Rasul dan para sahabatnya, perjalanan yang penuh dengan o nak dan duri, untuk menggapai ridho Illahi. Dan memiliki cita-cita tertinggi, yaitu mati syahid fisabilillah.

-hudzaifah.org-

Allah Mengetahui Bahwa Kita Sibuk


Sebagai seorang da'i, atau sebagai seorang anggota lembaga yang menamakan dirinya sebagai lembaga da'wah, sudah seharusnyalah ia mempunyai hubungan yang kokoh kuat (quwwatush-shilah) dengan Allah swt.

Ada banyak sarana yang bisa kita jadikan sebagai opsi atau pilihan untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas hubungan tersebut.

Di dalam al mustakhlash fi tazkiyatil anfus Sa'id Hawa rahimahullah menyebutkan 13 sarana yang bisa kita jadikan sebagai wasilah untuk mendekatkan diri kita kepada Allah swt. Mulai dari shalat, zakat-infaq-sedekah, puasa, haji, tilawatul qur'an, dzikrullah, tafakkur alam dan seterusnya.
Meskipun demikian, kita masih sering merasakan adanya kekeringan ruhani, karena kita memang sangat jarang mengalirinya dengan siraman-siraman ruhani yang berupa sarana-sarana tersebut. Atau istilah accu-nya, kita jarang ngeces accu dan baterai ruhani yang kita miliki dengan sarana-sarana Islamiyyah itu tadi.

Alasan yang sering kita kemukakan selalu sama dan klasik: sibuk dan repot alias susah mengatur dan mendapatkan waktu senggang untuk menyiram dan mengecesnya.
Kadangkala, kalau kita sedang berkumpul dengan sesama kader, kita ingat bahwa ruhani kita sedang sangat kekeringan. Namun begitu keluar dari majlis ikhwah, kita kembali lagi menjadi manusia-manusia yang "sibuk".

Namun, kita perlu mengingat bahwa kesibukan kita tidak berarti meninggalkan langkah-langkah untuk melakukan siraman-siraman dan pengecesan ruhani kita.
Mari kita renungkan bersama firman Allah swt berikut ini:

Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (sembahyang) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu. Dan Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu sekali-kali tidak dapat menentukan batas-batas waktu-waktu itu, maka Dia memberi keringanan kepadamu, karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Qur'an. Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah; dan orang-orang yang lain lagi yang berperang di jalan Allah, maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Qur'an dan dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik. Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan) nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. Dan mohonlah ampunan kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS Al Muzzammil: 20).

Ayat ini menjelaskan bahwa:
1. Allah swt mengetahui bahwa kemampuan kita dalam berqiyamullail berbeda-beda, ada yang hampir mampu mencapai 2/3 malam, ada yang mampu setengah malam, ada yang sepertiga malam.
2. Allah swt-lah yang membuat ukuran-ukuran siang dan malam.
3. Allah swt mengetahui bahwa kita ini lemah dan tidak akan mampu memenuhi kewajiban (ya, waktu itu qiyamullail setengah malam adalah kewajiban kaum muslimin) itu.
4. Allah swt mengetahui bahwa diantara kita ada yang sakit, ada yang sibuk mencari ma'isyah, ada yang sibuk berperang fi sabilillah.

Meskipun Dia mengetahui kesibukan kita, namun Dia tetap memerintahkan kepada kita untuk:
1. Membaca Al Qur'an (bahkan diulang dua kali) sesuai dengan kemudahan kita.
2. Menegakkan shalat.
3. Membayar zakat, dan
4. Memberikan pinjaman yang baik kepada Allah swt (sedekah dan semacamnya).
5. Banyak-banyak beristighfar.

Artinya, betapapun kesibukan yang melanda kita, kita tidak boleh melupakan tugas menyirami ruhani kita dan mengecesnya dengan berbagai sarana yang ada.
Ada banyak cara yang ditawarkan oleh Islam agar kita tetap bisa mendapatkan kesempatan melakukan siraman dan pengecesan ruhani kita. Diantaranya adalah:

1. Kita harus mensplit waktu-waktu yang kita miliki agar muncul menjadi berbagai macam saat, sehingga di hadapan kita akan muncul sederet waktu yang bisa kita daya gunakan.
Pada suatu kali seorang sahabat yang bernama Hanzhalah bertemu Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu. Begitu bertemu Hanzhalah berkata: Nafaqa Hanzhalah (Hanzhalah menjadi munafiq). Mendengar pernyataan seperti itu Abu Bakar kaget, lalu berkata: "Kenapa? Hanzhalah berkata: "Kalau kita berada di majlis nabi saw seakan kita melihat dengan kepala kita sendiri suasana surga danneraka, akan tetapi begitu ketemu anak-anak, kita lupa semua yang kita rasakan tadi". Mendengar penjelasan seperti itu Abu Bakar menjawab: "Kalau begitu sama dengan saya". Singkat cerita keduanya mendatangi nabi saw. Setelah keduanya menceritakan apa yang dirasakannya, nabi saw menjawab: "… Akan tetapi sa-'ah wa sa-'ah". Maksudnya: bagilah (spiltlah) waktumu agar ada saat untuk ini dan ada saat untuk itu. (HR Bukhari).

2. Kita harus pandai memanfaatkan "serpihan-serpihan" waktu yang kita miliki dan mendaya gunakannya untuk melakukan penyiraman dan pengecesan ruhani kita.
Pada suatu hari Rasulullah saw memperingatkan bahaya memaksakan diri sendiri untuk memperbanyak ibadah. Beliau bersabda: "Sesungguhnya agama ini mudah, dan tidak ada yang memberat-beratkan diri sendiri kecuali agama itu akan mengalahkannya, karenanya, luruskan langkah dan kokohkan, berusahalah untuk selalu mendekati (target ideal), bergembiralah (jangan pesimis), dan meminta tolonglah dengan waktu pagi, waktu sore dan sedikit malam". (HR Bukhari).
Saudara-saudara yang dimuliakan Allah …

3. Terakhir sekali, kita harus pandai-pandai membuat diversifikasi acara (keragaman acara) agar tidak cepat bosan, ingatlah bahwa "sesungguhnya Allah swt tidak bosan sehingga kita bosan, dan bebanilah jiwa ini sesuai dengan kadar kemampuannya, dan bahwasanya amal yang paling dicintai Allah swt adalah yang kontinyu" (HR Ahmad, Abu Daud dan An-nasa-i).
Semoga Allah swt memberikan taufiq, bimbingan dan kekuatan kepada kita untuk istiqamah di atas jalan agama-Nya, amiiin.[]

sumber: hidzaifah.org

Sembilan Energi Positif Mengatasi Kekecewaan di Jalan Da'wah

Beberapa kisah di bawah ini bukanlah fiktif, namun benar-benar terjadi di dalam perjalanan da’wah yang mendaki lagi sukar, sebagai sebuah sunnatullah untuk memisahkan orang-orang munafiq dari barisan orang-orang yang beriman, sebagai seleksi dari Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk membedakan antara loyang dan emas. 

Janganlah berpecah belah, kita semua bersaudara.
Janganlah merasa lebih, sesama kita.
Mengapa kau patahkan pedangmu sehingga musuh mampu membobol bentengmu.


Seorang ustadz berkisah tentang dua orang akhwat yang sangat tangguh dan berkualitas di jalan da’wah. Mereka ada dalam ‘satu kandang’ da’wah. Namun sangat disayangkan, hal itu justru menimbulkan persaingan da’wah yang tidak sehat di antara mereka. Futur melanda, situasi “panas” dan akhirnya seorang dari mereka melepas jilbabnya dan yang lainnya, hengkang dari jalan da’wah. Kekecewaan sangat mendalam, hingga berguguranlah mereka dari jalan yang mulia ini. 

“Ana tidak mau ikut-ikut (da’wah –red) lagi, habis adik-adiknya susah diatur!”, ucap seorang kader senior yang mendapat amanah sebagai mas’ul sebuah departemen lembaga da’wah. Ia memutuskan untuk tidak mau terlibat lagi dalam pergerakan da’wah. Ia mengaku kesal, kecewa dan jera dengan sikap adik-adik kampus yang “bandel” alias tidak taat pada perintahnya dan sering protes kepadanya. Kini ia berjalan sendiri di tengah dunia hedon, keluar dari lingkaran da’wah. Ia merasa “menang” dengan tindakannya itu karena ia beranggapan bahwa dengan demikian, lembaga da’wah telah kehilangan satu kadernya.

Di sebuah pengajian rutin, dua orang ikhwan dalam kondisi perang dingin. Bila yang satu datang, yang lain pasti tak mau datang hingga muncul motto, “Tidak boleh ada dua singa dalam satu kandang.”

Sebab-Sebab Kekecewaan

Tidak ada asap kalau tidak ada api. Kekecewaan dapat muncul karena ada keinginan yang tidak terpenuhi, tak terpuaskan. Kecewa yang kita bicarakan adalah kecewa di jalan da’wah. Kekecewaan ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor, dan penyebab kekecewaan yang seringkali terjadi adalah:

Pertama, kekecewaan aktivis karena jengah melihat jurang yang dalam antara idealisme dan realitas, antara ilmu dan amal. Sebagai contoh, sang aktivis membaca shirah nabawiyah yang di dalamnya dikisahkan bagaimana indahnya ukhuwah sang nabi dan para sahabat, pun firman Allah Subhanahu wa Ta’ala bahwa, “Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara.” Tapi realitanya, ukhuwah itu tidak ia dapatkan di lapangan, justru sebaliknya. 

Kedua, kekecewaan akitivis yang lebih dilandasi hawa nafsu dan tipu daya syetan, karena tidak tercapainya ambisi pribadi. Contoh ambisi pribadi itu adalah, ingin menjadi pemimpin, ingin kata-katanya selalu didengar, ingin pendapatnya harus diterima, pun tidak mau menerima nasehat dari yang ia anggap “lebih rendah” dan merasa diri paling berjasa dengan motto, “Kalau bukan karena ane, ngga bakal jalan da’wah ini.”

Ketiga, kekecewaan aktivis karena tidak puas dengan kebijakan-kebijakan qiyadah (pemimpin), keputusan syuro, kondisi da’wah yang selalu dibebankan padanya dan manajemen lembaga da’wah. 

Feed Back Positif dan Negatif

Tak ada manusia yang tak pernah kecewa karena sesungguhnya kecewa itu manusiawi. Hanya saja, feed backdari kekecewaan itu berbeda pada diri setiap orang. Ada orang-orang yang mampu mengatasi dan mengubah kekecewaan itu dengan energi positif yang konstruktif, namun ada juga orang-orang yang tidak mampu mengatasinya karena lebih didominasi energi negatif yang desdruktif. 

Kekecewaan tak lagi syar’i bila didasari hawa nafsu, dan bukan atas dasar kebenaran (al haq). Tak lagi rasional bila kemudian berubah menjadi kedengkian dan kebencian yang menghancurkan diri sendiri dan memporak-porandakan teman-teman di sekelilingnya, menjadi duri dalam daging. Maka motto yang sebaiknya ada dalam diri kita adalah, “Jangan terlalu banyak menuntut, jadikan diri kita bermanfaat bagi orang lain.” 

9 Energi Positif

Ada sembilan energi postif yang dapat menjadi bahan bakar di dalam jiwa untuk mengatasi kekecewaan yang melanda, yaitu:

1. Tentara terdepanmu adalah keikhlasan 

“Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia pun mengerjakan kebaikan……..” (QS. An Nisaa: 125)

Meminjam istilah dari sebuah artikel yang pernah penulis baca,Tentara Terdepanmu adalah Keikhlasan. Istilah ini sangat tepat karena memang keikhlasan adalah garda terdepan kita untuk menghadapi segala rintangan di jalan da’wah. Keikhlasan membuat kita tak kenal lelah dan tak kenal henti dalam menyampaikan Al Haq karena tujuan kita hanya satu, Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jika tujuan kita menyimpang kepada yang sifatnya duniawi, maka saat tujuan itu tak tercapai, kita akan mudah kecewa dan berbalik ke belakang. Bila berda’wah lantaran mengharapkan apa-apa yang ada pada manusia, berupa penghormatan, penghargaan, pengakuan eksistensi diri, popularitas, jabatan, pengikut dan pujian, maka hakekatnya kita telah berubah menjadi hamba manusia, bukan lagi hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala. 

Kisah yang sangat menarik ketika Khalid bin Walid selaku panglima perang yang notabene sangat berjasa bagi kaum muslimin, tiba-tiba diturunkan jabatannya menjadi prajurit biasa, oleh Khalifah Umar bin Khattab. Namun Umar melakukan itu karena melihat banyaknya kaum muslimin yang mengelu-elukan kepahlawanan dan cenderung mengkultuskan Khalid, sehingga Umar khawatir hal itu akan membuat Khalid menjadi ujub (bangga diri), yang dapat berakibat hilangnya pahala amal-amal Khalid di hadapan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Dan subhanallah…., Khalid tidak marah ataupun kecewa karena jabatannya diturunkan, bahkan ia tetap turut berperang di bawah komando pimpinan yang baru. Ketika ditanya tentang hal itu, Khalid menjawab dengan tenang, “Aku berperang karena Allah Subhanahu wa Ta’ala, bukan karena Umar. “ 

2. Harus Tahan Beramal Jama’i
“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada Tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai……” (QS. Ali Imran: 103)
Beramal jama’i itu jalannya tak selalu datar, ada kalanya mendaki, karena dalam beramal jama’i, kita akan menemui berbagai macam sifat manusia, berbagai pemikiran, fitnah dari luar, pun dari dalam. Namun bagaimanapun buruknya kondisi jamaah, tetap saja amal jama’i itu lebih baik dan lebih utama daripada sendirian. Ali bin Abi Thalib berkata, “Keruhnya amal jama’i, lebih aku sukai daripada jernih sendirian.“ 

Kekuatan utama kita adalah persatuan kaum muslimin. Sesungguhnya kekalahan kita saat ini bukanlah karena kehebatan bersatunya kaum kuffar, tetapi karena tidak bersatunya kaum muslimin. “Kejahatan yang terorganisir akan mampu mengalahkan kebaikan yang tidak terorganisir.”

Orang-orang yang memisahkan diri dan lari dari barisan da’wah, sesungguhnya tidak akan membuat barisan da’wah itu melemah atau kehilangan kader, justru barisan itu akan semakin solid dan kokoh karena mengindikasikan yang tergabung di dalamnya, tinggallah orang-orang yang teruji memiliki jiwa-jiwa pemersatu. Inilah sebuah sunnatullah yang senantiasa berlaku untuk membedakan antara loyang dan emas. Jadi, kita harus tahan beramal jama’i !

3. Bermanfaat bagi orang lain
Rasulullah Shalallahu Alaihi wa sallam bersabda, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.” (HR. Qudhy dari Jabir).

Bila kita melihat ukhuwah dalam barisan da’wah ternyata belum seindah seperti shirah yang kita baca, atau ternyata hijab di lembaga da’wah amat cair, maka adalah sangat wajar bila kita kecewa. Tetapi kekecewaan itu janganlah dipelihara, jangan justru membuat kita bersungut-sungut, menuntut lebih, berkeluh kesah, apatah lagi sampai memisahkan diri dari barisan. Mari ubah sudut pandang, dan kita tekankan bahwa segala kekurangan yang ada pada barisan da’wah adalah justru menjadi kewajiban kita untuk membenahinya. “Jangan banyak menuntut, jadikan diri kita bermanfaat bagi orang lain.”

4. Penuhi hak sesama muslim
- Saling menasehati. (QS. Al Ashr: 1-3)
Kekurangan dalam diri qiyadah, jundi, lembaga, manajemen, hendaknya disampaikan dalam bentuk nasehat. Untuk yang sifatnya pribadi - sebagai adab nasehat- adalah disampaikan tidak dalam forum, tetapi disampaikan pribadi, berdua saja, dalam rangka saling berpesan untuk nasehat menasehati dalam menetapi kesabaran. Karena bila kita memberi nasehat dihadapan orang banyak, maka itu sama saja dengan membuka aibnya dan menjatuhkannya, apalagi bila sampai melakukan sidang layaknya menghakimi terdakwa. Sangatlah tipis perbedaan antara orang yang ingin menasehati karena landasan kasih sayang, dengan orang yang menasehati karena sekaligus ingin membuka aib saudaranya, sehingga membuat diri yang dinasehati seakan lebih rendah, dari yang menasehati. 

- Lemah lembut. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang salah satu ciri jundullah (tentara Allah), yaitu ”…….yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mu’min………” (QS. Al Maidah: 54)

- Jangan dengki. Rasulullah Shalallahu Alaihi wa sallam bersabda, “Takutlah kamu semua akan sifat dengki sebab sesungguhnya dengki itu memakan segala kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar.” (Riwayat Abu Daud dari Abi Hurairah)

- Jangan suudzon. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian dari prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain………” (QS. Al Hujuurat: 12)

- Berendah Hatilah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman.” (QS. An Naml: 215)

- Jangan Berbantahan 
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “…..dan Janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menjadikan kamu gentar, dan hilang kekuatanmu…….”(QS. Al Anfaal:46). Berbantah-bantahan sesama kita, padahal musuh di luar, sudah siap menerkam. 

5. Musuh terbesar kita adalah syetan 
Musuh kita bukanlah seorang muslim, apatah lagi sesama aktivis. Musuh terbesar kita adalah iblis dan bala tentaranya. Mereka senantiasa akan merusak ukhuwah kita dari kiri, kanan, depan, dan belakang (QS. Al A’raf: 17). Hendaknya kita senantiasa ingat akan janji iblis untuk menyesatkan hamba-hamba-Nya (QS. Al Israa:62). Ini akan menjadi landasan kita untuk selalu menatap saudara kita dengan penuh kasih sayang karena boleh jadi saat saudara kita menyakiti kita, adalah lantaran banyaknya syetan di sekelilingnya yang terus menerus membisikinya untuk membenci kita, demikian pula sebaliknya, bisa jadi syetan menghembuskan prasangka-prasangka di dalam benak kita. Maka, mari kita jadikan syetan sebagai musuh bersama. 

6. Sukses da’wah bukanlah karena kehebatan kita 
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Maka, bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allahlah yang membunuh mereka. Dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar…” (Al Anfâl: 1)
Ayat ini menyatakan bahwa kemenangan dalam medan peperangan, pun dalam suksesnya da’wah, bukanlah karena kepintaran kita dalam membuat strategi da’wah, tetapi tak lebih karena pertolongan dari Allah. Jika tidak, maka apa bedanya kita dengan Qarun yang berkata, “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku…..” (QS. Al Qashash:78). Dan kita lihat bagaimana ending kehidupan dari Qarun yang ditenggelamkan Allah Subhnahu wa Ta’ala ke perut bumi. 

7. Mujahid itu teman kita sendiri
Mujahid dan mujahidah itu sesungguhnya ada di sekeliling kita, di dekat kita. Ya, bisa jadi mereka adalah teman-teman kita sendiri. Maka sangat aneh bila kita kerap kali menitikkan air mata saat ingat mujahid-mujahid di Palestina, Iraq, Chechnya, Afghanistan, dan lain-lain, tetapi dengan saudara-saudara mujahid di sesama lembaga saja, kita tidak bisa berlapang dada. 

8. Ingat Kematian 
Rasulullah Shalallahu Alaihi wa sallam bersabda, “Perbanyaklah kalian mengingat mati, sebab seorang hamba yang banyak mengingat mati, maka Allah akan menghidupkan hatinya, dan Allah akan meringankan baginya rasa sakit saat kematian.”

9. Doakan di shalat malam kita
Doa adalah senjata orang-orang beriman dan bila kita mendoakan saudara muslim kita tanpa sepengetahuannya, maka para malaikat akan berkata, “untuk kamu juga…”. Rasulullah Shalallahu Alaihi wa sallam bersabda, "Tidak seorang Muslim pun mendoakan kebaikkan bagi saudaranya sesama Muslim yang berjauhan melainkan malaikat mendoakannya pula. Mudah-mudahan engkau beroleh kebaikkan pula." (HR. Muslim)


Penutup
Menyatakan diri sebagai orang beriman, sebagai seorang du’at (pengemban da’wah), sebagai seorang aktivis da’wah, sesungguhnya mengandung konsekuensi yang tidak ringan. Yaitu kita senantiasa akan mendapat ujian keimanan dari sang pemilik 99 Al Asmaul Husna. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan dibiarkan (begitu saja), sedang Allah belum mengetahui (dalam kenyataan) orang-orang yang berjihad di antara Kamu………. “ (QS. 9:16). Dan di surat lainnya, “Apakah kamu mengira kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu cobaan sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan serta macam-macam cobaan." (QS. Al-Baqarah:214)

Tersenyumlah dalam duka dan tenanglah dalam suka. Insya Allah dengan mengingat sembilan energi positif, akan membuat kita bersabar, dan enggan berpisah dari jalan da’wah ini. “Dan janganlah kamu bersikap lemah dan janganlah pula kamu bersedih hati, padahal kamulah orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman. “ (QS. Ali Imran: 139). (AW) 


sumber: hudzaifah.org

Mukmin yang Tangguh dalam Barisan Dakwah

Allah tujuan kami
Rasulullah teladan kami
Al Qur’an pedoman hidup kami
Jihad jalan juang kami
Mati di jalan Allah cita-cita kami tertinggi

Ketika kami memperkenalkan dakwah ini kepada umat manusia sebagai risalah Islam yang suci, kami selalu yakin bahwa ini adalah jalan dakwah generasi pertama. Di atas jalan ini, kita akan mendapatkan berbagai macam rintangan, cobaan, dan penderitaan sebagaimana yang didapatkan oleh para mujahidin, sahabat-sahabat Rasulullah saw.

Namun demikian, kami tak akan merasa lemah ketika muncul di tengah masyarakat dengan tampilan seperti ini, di mana hakikat dan amal-amal Islam tidak menemukan kehidupan di dalam hati mereka. Tak ada yang tersisa di dalam hati mereka selain perasaan lemah dan tidak berdaya serta pengaruh keberagamaan yang tidak membuat mereka puas.

Kami juga tak akan merasa lemah ketika kami datang di tengah masyarakat untuk menggusung dakwah ini. Kami juga tidak datang menemui mereka hanya untuk memperkenalkan diri agar kami memperoleh jabatan, popularitas, dan status sosial yang terpandang di tengah masyarakat. Karena sesungguhnya, sejak dahulu hingga sekarang, kami masih tetap menyandang predikat “pekerja dakwah”, dan kami tidak melakukan pekerjaan ini untuk mendapatkan “bantuan” pemerintah. Kami akan tetap melakukan dakwah ini, walaupun orang-orang yang tidak berbuat itu berkata, “Ini adalah pangkal kesuksesan setiap pekerjaan di negeri ini.”

Kami juga tidak membawa dakwah ini ke tengah mereka untuk meraih popularitas dan berbagai gelar yang disematkan di pundak kami untuk dipertontonkan pada setiap acara dan pesta-pesta besar, sehingga setiap orang dapat menyaksikan wajah kami terpampang di media massa. Sebab, semua itu adalah bagian dari kelompok manusia yang hatinya mati, walaupun mereka menyandang nama besar di dunia ini.

Kami tidak menggusung dakwah ini ke tengah masyarakat agar kami dapat memenangkan pertarungan atas lawan-lawan kami, sehingga kami dapat melampaui mereka merebut nikmatnya kehidupan dunia.

Kami tidak pernah membayangkan hal-hal tersebut akan terjadi atau kami melakukan hal-hal seperti itu. Akan tetapi, kami mempersembahkan dakwah ini dengan kerelaan membawa beban beratnya, lalu menggaungkannya di tengah-tengah masyarakat karena adanya keyakinan kuat dalam diri kami terhadap persoalan-pesoalan berikut.

Pertama, sesungguhnya, kami berada di tengah masyarakat yang tidak sadar bahwa musuh-musuh mereka yang cerdas itu telah berhasil menjauhkan mereka dari Al Qur’an dan ajaran yang terkandung di dalamnya. Musuh-musuh itu pun berhasil mempengaruhi jiwa, semangat dan gaya hidup mereka dengan tampilan yang jauh dari nilai-nilai Islam, sehingga mereka menjadi asing terhadap agamanya sendiri. Oleh karena itu, kami menyerukan Islam kepada mereka. Kami serukan bahwa agama ini adalah akidah, ibadah, tanah air, pemerintahan, Al Qur’an dan pedang (kekuatan).

Kedua, adanya sekelompok manusia yang mengatakan bahwa mereka adalah orang besar dan terkemuka. Mereka itu adalah para penguasa negeri yang menjadikan hukum sebagai negara di tengah-tengah mereka. Kelompok manusia seperti ini akan menjadi musuh bebuyutan bagi dakwah, karena dakwah ini akan berdiri tegak melawan hawa nafsunya, sebagai benteng yang kokoh di hadapan ketamakannya pada dunia, sekaligus akan membuka kedok mereka sebagai politisi busuk di mata rakyat. Sementara itu, mereka akan mengerahkan segala kemampuannya untuk menaklukkan dakwah ini, dan melemparkan berbagai tuduhan keji terhadapnya. Begitulah seterusnya. Dakwah yang menggusung kebaikan dan kebenaran ini akan selalu berhadapan dengan seruan yang mengandung kebatilan dan penyimpangan.

Oleh karena itu pula, kami akan mengerahkan segala daya dan kemampuan kami. Kami rela mengorbankan apa saja dan mengharamkan diri kami membantu pemerintahan dengan model seperti itu atau berlemah lembut kepada penguasa yang busuk. Semua itu menyebabkan kami selalu diawasi karena aktivitas kami yang mengancam kedudukan mereka. Gerak-gerik kami pun semakin dibatasi. Kehidupan keluarga kami diputus. Kemudian, kami meninggalkan keluarga menuju penjara atau diasingkan di pulau tak bertuan, dan akhirnya kami temukan kematian di atas jalan Allah. Semua gambaran seperti ini, sesungguhnya, teramat sedikit sebagai risiko perjuangan. Dan, dakwah hanya akan menemui kegagalan tanpa pengorbanan jiwa, darah dan air mata.

Kami memahami dengan sangat baik hakikat ini sejak langkah kaki kami yang pertama. Meskipun demikian, kami tidak gegabah untuk mengerahkan tenaga dan kemampuan kami pada sesuatu yang tidak kami butuhkan atau mengorbankan tenaga dan diri kami tanpa keuntungan. Atau, melangkahkan kaki kami tanpa tujuan terencana, sehingga kami terluka tanpa ada kebaikan yang kami peroleh. Kami berjalan di atas jalan ini untuk meraih hasil dan kebaikan sebelum yang lainnya merebut apa yang kami cita-citakan.

Apabila dakwah ini menuntut haknya kepada kami dalam bentuk kesiapan mengorbankan segala yang kami miliki, murah atau mahal, berisiko atau tidak –demi kemenangan dakwah ini—kami akan senantiasa siap melakukannya, walaupun itu harus ditebus dengan nyawa. Sebagaimana yang dikatakan seorang Mujahid, “Kembali kepada Allah tanpa bekal sedikit pun.”

Di atas prinsip ini, kami berjalan bersama dakwah Ikhwan. Dan sesungguhnya, kalian, wahai Ikhwan, akan semakin mendekat kepada hari-hari yang sarat dengan ujian, yang tidak berasal dari hasil karya tangan kalian, tetapi terkait dengan situasi dakwah kalian, kebodohan orang-orang yang menjadi lawan dan musuh kalian. Namun, kalian akan senantiasa ikhlas di jalan ini.

Wahai Ikhwan, kita ingin melekatkan dalam diri kita ciri keistimewaan tersendiri, sehingga takkan ada manusia yang mengikuti langkah kaki kita, kecuali ia seorang mukmin dan mujahid yang siap mengorbankan segala yang ia miliki di atas jalan dakwah Muhammad saw., seruan Allah, dan Al Qur’an. Barangsiapa yang bersedia memikul beban tersebut, ia boleh ikut dan maju terus bersama kami. Tapi, bila ia seorang penakut dan pengecut, sesungguhnya, ia hanya menginginkan gelar atau kekuasaan. Oleh karena itu, hendaknya ia segera menyingkir dari barisan ini. Bila tidak, ia sendiri yang akan membayar harga yang ia berikan, dan tak ada kebaikan apa pun untuknya di dunia dan akhirat.[]



diambil dari: Hudzaifah.org