Selasa, 23 November 2010

Manajemen Prioritas dalam Dakwah Kampus

Oleh: Hendratno, ST. *)



Hudzaifah.org - Dakwah kampus adalah arena yang penuh dengan aktivitas yang
dinamis, ditengah-tengah miniatur masyarakat kecil, yaitu masyarakat kampus.
Akan ada banyak opsi-opsi yang harus dipilih oleh dakwah kampus dalam
menjalankan roda dakwahnya. Oleh karena itu, penting kiranya kita mengkaji
mengenai manajemen prioritas.

Kajian mengenai Manajemen Prioritas dalam Dakwah Kampus harus didahului dengan
kajian mendalam mengenai Fiqh Prioritas. Jadi, saya menyarankan sebelum membaca
tulisan ini, sebaiknya baca dahulu buku Fiqh Prioritas (Fiqh Aulawiyat) yang
pernah disusun oleh DR. Yusuf Qardhawi.

Mengenai manajamen prioritas dalam dakwah, ada beberapa hal yang menjadi ruang
lingkupnya, agar jelas sudut pandang kita dan tidak terlalu melebar
pembahasannya. Berikut ini adalah ruang lingkupnya.


Follow up:
Aulawiyat (prioritas) yang kita pahami dalam konteks da'wah, bukan memilih
antara iman dan kufur, al-haq dengan yang al-bathil, antara halal dengan yang
haram, antara yang lurus dengan yang menyimpang, atau antara berda'wah dengan
tidak berda'wah. Karena dalam hal ini, sudah jelas bahwa keimanan adalah
keharusan, sedangkan kekufuran harus ditolak, sebagaimana pernyataan Laa ilaaha
illallah yang menolak semua tuhan-tuhan itu, kecuali Allah SWT. Begitu pula
antara al-haq dengan al-bathil, al-haq adalah barisan yang harus kita ikuti,
sedangkan al-bathil harus ditinggalkan. Dan seterusnya.
Aulawiyat di sini adalah dalam hal memilih satu atau sebagian dari sejumlah
perkara yang halal. Lalu dari perkara-perkara halal tersebut, kita memilih mana
yang afdhal dari yang mafdhul, mana yang “ashlah” dari yang sholih.

Dan yang perlu dipahami lagi, memilih sesuatu yang diprioritaskan bukan berarti
meninggalkan atau membatalkan suatu pekerjaan yang baik demi untuk mengerjakan
pekerjaan baik yang lain. Maksudnya adalah mendahulukan mana yang lebih tepat
didahulukan, memberinya lebih banyak alokasi dan dukungan waktu, tenaga serta
sarana lainnya yang diperlukan. Inilah ruang lingkup kita sebagai batasan kajian
Manajemen Prioritas kita.

Aulawiyat merupakan salah satu prinsip fithrah. Dalam Al Qur'an banyak sekali
prinsip-prinsip aulawiyat ini, dimana Allah mendahulukan sesuatu dari sesuatu
yang lain. Contohnya adalah firman Allah berikut ini:

"Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang
kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik
untuk menjadi harapan." (QS. Al Kahfi: 46)

Ayat di atas menyiratkan bahwa amalan-amalan shaleh adalah lebih baik untuk
diprioritaskan ketimbang perhiasan dunia yang disebutkan sebelumnya. Lalu kita
lihat contoh ayat berikut ini:

"...Dan orang-orang yang mempunyai hubungan darah satu sama lain lebih berhak
(waris-mewarisi) di dalam Kitab Allah daripada orang-orang mukmim dan
orang-orang Muhajirin, kecuali kalau kamu berbuat baik kepada saudara-saudaramu
(seagama). Adalah yang demikian itu telah tertulis di dalam Kitab (Allah)." (QS.
Al Ahzab: 6)

Ayat di atas berkaitan dengan hukum waris, dimana orang-orang yang mempunyai
hubungan darah adalah orang yang lebih berhak didahulukan dalam hal waris
mewarisi.

Rasulullah SAW juga pernah bersabda, berkaitan dengan prioritas dalam hal
ibadah:

"Amal yang afdhal adalah yang lebih kontinyu. Dan shodaqoh yang afdhal
dikeluarkan saat sedang membutuhkan dan terasa besar pengorbanannya." (Hadits)



.:(Prinsip Prioritas dalam Manajemen Dakwah Kampus):.

Dalam mengatur jalannya roda dakwah kampus, diperlukan manajemen. Dan dalam
manajemen digunakan beberapa prinsip, salah satunya prinsip prioritas untuk
memilih beberapa pilihan-pilihan yang berkaitan dengan strategi dakwah kampus
secara umum.

Di antara pilihan-pilihan itu, lihatlah mana yang lebih kuat korelasinya dengan
mempertahankan prinsip dan pilihan mana yang lebih merefleksikan prioritas
syar'iyah. Lalu kita juga musti lihat, di antara pilihan-pilihan itu mana yang
mempunyai perspektif idiologis, mana yang hanya politis, mana yang teknis, dan
mana yang pragmatis. Dalam hal mencapai tujuan dakwah kampus, kita juga harus
lihat jangkauan manfaat yang mungkin dicapai dari pilihan-pilihan itu, mana yang
lebih luas manfaatnya. Lalu lihat juga mana yang lebih didukung oleh
ketersediaan informasi sehingga kita bisa "well informed" dan
"sound-perception"(tassawur yang tepat). Perlu juga dipertimbangkan mana yang
lebih didukung dengan kemampuan atau kafaah untuk komitmen dan konsisten dalam
opsi yang dipilih. Dan yang paling penting, pilihan mana yang lebih sesuai
dengan tabiat marhalah perjuangan dan kerja da'wah.

Sebagai gambaran, dalam dakwah kampus ada tiga arena yang dilakoni oleh struktur
dakwah kampus, yaitu arena da'awi, arena siyasi, dan akademik/profesi. Ketiga
arena tersebut merupakan peran dan fungsi mahasiswa. Kalau dilihat dari sudut
pandang individu, seorang aktivis dakwah kampus harus tawazun antara peran
da'awi, peran siyasi, dan peran akademik tersebut. Artinya, seorang aktivis
dakwah kampus, sejatinya harus memiliki kemampuan dakwah dan tarbiyah, kemampuan
mengusung perubahan di tengah-tengah masyarakat (khususnya masyarakat kampus),
tanpa mengurangi prestasi akademik. Bahkan kalau perlu justru meningkatkan
prestasi akademik, karena sejatinya dakwah itu adalah teladan.

Tapi secara kelembagaan, sebuah struktur dakwah kampus ada tahapan yang harus
dilalui dalam menyeimbangkan ketiga hal tersebut.

Tahapan pertama yang harus dilalui adalah penetrasi dalam peran da'awi, artinya
kaderisasi dan pembinaan sangat ditekankan pada sebuah struktur dakwah kampus
yang baru berdiri. Rekrutmen-rekrutmen lebih banyak dilakukan dengan dakwah
fardhiyah. Pada tahap ini, dakwah kampus juga harus berupaya memunculkan
simpatisan yang loyal terhadap personil aktivitas dakwah kampus. Fungsi
mahasiswa yang lebih diutamakan adalah fungsi da'awi, artinya mencetak
kader-kader robbani yang muntijah sangat prioritaskan di tahap ini. Sedangkan
aktivitas dakwah yang lebih diutamakan adalah aktivitas pelayanan dan aktivitas
da'awi.

Jika sudah matang, maka dakwah kampus baru bisa beranjak kepada tahap
selanjutnya. Untuk membahas mengenai hal ini, perlu kajian tersendiri. Pada
intinya, ada tahapan yang harus ditempuh untuk menuju dakwah kampus yang matang.
Dan itu tidak terlepas dari prinsip manajemen prioritas. Tahapan-tahapan
tersebut harus dipegang teguh oleh aktivis dakwah kampus dan lembaganya dalam
menjalankan roda dakwah di kampus.



.:(Prinsip Prioritas dalam Aktivitas Sehari-hari di Dakwah Kampus):.

Dalam aktivitas sehari-hari di kampus, akan ada banyak alternatif yang
terpampang di depan mata kita, yang harus dipilih dan diutamakan salah satu
diantaranya.

Sebagai gambaran, misalnya dalam hal pengelolaan isu-isu, baik itu isu di kampus
maupun eksternal kampus. Dakwah kampus harus mampu memilih isu mana yang harus
diprioritaskan. Selain itu dalam hal program kerja, biasanya ada program kerja
yang harus didahulukan dari program kerja lainnya. Hal ini berkaitan dengan
pengendalian dan pengotrolan program kerja. Dalam menetapkan program kerja juga
harus dipikirkan mengenai porsi-porsinya, porsi mana yang harus diperbesar
antara tabligh, ta'lim ataukah takwin/tarbiyah.



.:(Kendala-kendala):.

Penerapan prinsip aulawiyat bukan tanpa kendala. Ada beberapa kendala yang
menyebabkan manajemen prioritas ini menjadi kacau balau. Kendala-kendala
tersebut antara lain adanya penyakit diri, misalnya hawa nafsu yang
diperturutkan, adanya urusan duniawi yang mendominasi, atau tidak mau
mengeluarkan biaya. Kondisi kultural setempat kadangkala juga mempengaruhi hal
ini. Selain itu juga disebabkan adanya konspirasi eskternal yang menginginkan
agar cahaya dakwah ini padam.

Demikianlah kajian singkat mengenai manajemen prioritas dalam dakwah kampus.
Semoga dapat memberikan pencerahan agar dakwah kampus dapat berjalan dengan
baik.[]



*) Alumni Teknik Informatik FTI Usaki angkatan 98. Mantan Koordinator Dept
Kaderisasi UKM Hudzaifah periode 2001/2002, dan 2002/2003.

Rabu, 03 November 2010

Sebaik-Baik Umat

Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia (karena kamu) menyuruh (berbuat) kepada yang makruf, mencegah kemungkaran, dan kamu beriman kepada Allah. (Ali Imran [3]: 110)

Menjadi juara umum (global champion) berarti menjadi orang paling berpengaruh, yang terbaik, dan memimpin dunia secara adil dan benar menurut Islam. Kaum Muslim seperti ini akan menjadi teladan bagi bangsa-bangsa lain.
Untuk itu, yang pertama harus ada dalam diri kaum Muslim adalah kebanggan berislam. Kita harus bangga menjadi bagian dari miliaran umat Islam dunia. Kita harus merasa mulia dengan syariah Islam. Kita memiliki izzah, harga diri. Kita tidak merasa rendah di hadapan kaum yang lain.
Kita harus merasa bangga dengan Islam karena Islam adalah ajaran agung yang sengaja diperuntukkan bagi keselamatan dan kesejahteraan manusia. Allah Yang Maha Agung telah merancang ajaran Islam untuk kemuliaan dan keagungan manusia.

Ajaran ini juga dibawa oleh manusia agung, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dikenal memiliki akhlak mulia dan perilaku yang sempurna.

Islam didesain menjadi ajaran yang sempurna, komprehensif, dan meliputi apa saja. Islam merupakan ajaran yang lengkap, tak ada cela. Semua hal mengenai kehidupan manusia tidak ada yang luput dari pengaturannya.
Islam tidak saja mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya, tapi juga mengajarkan bagaimana cara berhubungan secara baik antara manusia dengan manusia dan antara manusia dengan makhluk Tuhan lainnya.
Perhatikanlah, belum pernah ada praktek toleransi yang berjalan begitu baik dan damai melebihi penerapannya saat di Cordova, Spanyol. Kala itu, golongan Kristen menikmati kebebasan beragama sepenuhnya pada pemerintahan Islam. Demikian juga golongan Yahudi. Sementara orang-orang Barat saat itu baru mengadopsi ajaran ini untuk diterapkan di negara-negara yang belum mengenal arti peradaban. Orang-orang Barat harus berterimakasih kepada Islam.

Saat dunia Barat masih gelap gulita, belum mengenal peradaban, bahkan belum mengenal mandi, Islam sudah jauh lebih maju. Saat itu, umat Islam sudah memakai sabun mandi, menggunakan parfum, bahkan sudah terbiasa dengan tradisi bersih.

Saat dunia belum mengenal sains, para ilmuwan Islam sudah banyak yang menemukan teori-teori ilmiah di bidang fisika, biologi, matematika, astronomi, geografi, dan lainnya.

Dalam hal penghormatan terhadap wanita, belum ada satu pun agama yang memberi tempat yang pas bagi wanita. Di masa jahiliyah, masyarakat Arab merasa malu dan terhina jika mempunyai anak perempuan. Ketika Islam datang, justru para perempuan diberi tempat yang mulia, dilindungi dan dihormati.
Di dunia modern sekarang ini, atas nama kebebasan dan hak asasi, justru wanita ditempatkan pada posisi yang tidak terhormat. Sebagian besar mereka dieksploitasi untuk kepentingan bisnis dan ekonomi.
Di era industri ini justru para wanita dijadikan alat atau barang industri. Ironisnya justru sebagian mereka bangga dengan perlakuan seperti itu.

Sebagai Muslim kita harus bangga dengan keislaman kita. Kebanggan itu harus kita wujudkan dalam bentuk penampilan identitas. Kita bangga memakai pakaian Muslim, karena pakaian merupakan identitas yang paling mudah dikenali.

Merasa mulia dan bangga dengan ajaran Islam menuntun kita agar senantiasa terarah dalam berpikir dan bertindak. Orang yang merasa bangga dengan syariahnya akan senantiasa menjaga dirinya tetap dalam jalur syariah tersebut. Mereka senantiasa terjaga dari segala bentuk pelanggaran. Sebab, setiap pelanggaran sekecil apa pun akan menjatuhkan harga dirinya.


sumber: Hidayatullah.or.id