Kamis, 05 Agustus 2010

Ikhtiar Beriring Keiklasan

Ikhtiar adalah usaha seseorang dan  usaha yang benar adalah usaha yang sungguh-sungguh (jiddiyah). Usaha yang sungguh-sungguh ini ditandai dengan adanya pengorbanan (tadhiyyah). Jika kita ingin mengukur seberat apa usaha yang sudah kita lakukan, mudah saja.. sudah seberapa banyak pengorbanan yang telah dilakukan? Pengorbanan punya banyak jalan. Pengorbananmu bangun malam untuk shalat dan belajar, pengorbananmu untuk menahan rasa kantuk demi mendapatkan materi kajian, dan banyak lagi. 

"(yaitu) kamu beriman kepada Alloh dan Rosul-Nya dan berjihad di jalan Alloh dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui." (QS.Ash-Shaff:11)
Semestinya kesungguhan ini dilakukan dalam berbagai keadaan. Artinya kesungguhan (jiddiyah) yang dilakukan secara terus-menerus (istimrariyah), baik dalam keadaan ringan ataupun berat, keadaan lapang maupun sempit,  di kala mudah maupun susah, dikala senang maupun sedih. Jadi, ibadah sunnah bukan cuma di waktu luang saja... Anggap saja ibadah sunnah yang kita lakukan ketika kondisi kita sedang MALES BANGET adalah sebagai kesungguhan dan pengorbanan kita ketika kita sedang dalam keadaan berat.
"Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Alloh. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui." (QS.At taubah:41)
Kesungguhan (jiddiyah) yang disertai pengorbanan (tadhiyyah) apabila dilakukan secara berkesinambungan atau terus-menerus (istimrariyah) maka buahnya adalah KERJA yang PROFESIONAL (itqanul amal) atau IKHTIAR maksimal yang bisa kamu lakukan. Ketiga elemen ini apabila dilakukan secara simultan makan akan menghasilkan suatu ENERGI besar bagi seseorang dalam berikhtiar.



Sudah berikhtiar, selanjutnya belajar untuk ikhlas...
Ciri-ciri dari orang yang memiliki keikhlasan diantaranya :


1. Hidupnya jarang sekali merasa kecewa.
Orang yang ikhlas, dia tidak akan pernah berubah sikapnya seandainya disaat dia berbuat sesuatu kebaikan ada yang memujinya, atau tidak ada yang memuji/menilainya bahkan dicacipun hatinya tetap tenang, karena ia yakin bahwa amalnya bukanlah untuk mendapatkan penilaian sesama yang selalu berubah tetapi dia bulatkan seutuhnya hanya ingin mendapatkan penilaian yang sempurna dari Alloh SWT.


2.Tidak tergantung / berharap pada makhluk.
Sayyidina ’Ali pun pernah berkata, orang yang ikhlas itu jangankan untuk mendapatkan pujian, diberikan ucapan terima kasih pun dia sama sekali tidak akan pernah mengharapkannya, karena setiap kita beramal hakikatnya kita itu sedang berinteraksi dengan Alloh, oleh karenanya harapan yang ada akan senantiasa tertuju kepada keridhaan Alloh semata.


3.Tidak pernah membedakan antara amal besar dan amal kecil.
Diriwayatkan bahwa Imam Ghazali pernah bermimpi, dan dalam mimpinya beliau mendapatkan kabar bahwa amalan yang besar yang pernah beliau lakukan diantaranya adalah disaat beliau melihat ada seekor lalat yang masuk kedalam tempat tintanya, lalu beliau angkat lalat tersebut dengan hati-hati lalu dibersihkannya dan sampai akhirnya lalat itupun bisa kembali terbang dengan sehat. Maka sekecil apapun sebuah amal apabila kita kerjakan dengan sempurna dan benar-benar tiada harapan yang muncul pada selain Allah, maka akan menjadi amal yang sangat besar dihadapan Alloh SWT.


4. Banyak Amal Kebaikan Yang Rahasia.
Mungkin ketika kita mengaji dilingkungan orang banyak maka kita akan mengaji dengan enaknya, lama dan penuh khidmat, ketika kita shalat berjamaah apalagi sebagai imam kita akan berusaha khusyu dan lama, tapi apakah hal tersebut akan kita lakukan dengan kadar yang sama disaat kita beramal sendirian? apabila amal kita tetap sama bahkan cenderung lebih baik, lebih lama, lebih enak dan lebih khusyuk maka itu bisa diharapkan sebagai amalan yang ikhlas. Namun bila yang terjadi sebaliknya, ada kemungkinan amal kita belumlah ikhlas.


5. Tidak membedakan antara bendera, golongan, ras, atau organisasi.
Fitrah manusia adalah ingin mendapatkan pengakuan dan penilaian dari keberadaannya dan segala aktivitasnya, namun pengakuan dan penilaian makhluk, baik perorangan, organisasi atau instansi tempat kerja itu relatif dan akan senantiasa berubah, banyak orang yang pernah dianggap sebagai pahlawan namun seiring waktu berjalan adakalanya berubah menjadi sosok penjahat yang patut diwaspadai. Maka tiada penilaian dan pengakuan yang paling baik dan  yang harus senantiasa  kita usahakan adalah penilaian dan pengakuan dari Alloh SWT.


Begitu besar pengaruh orang yang ikhlas itu, sehingga dengan kekuatan niat ikhlasnya mampu menembus ruang dan waktu. Seperti halnya apapun yang dilakukan, diucapkan, dan diisyaratkan Rosulullah, mampu mempengaruhi kita semua walau beliau telah wafat ribuan tahun yang lalu namun kita senantiasa patuh dan taat terhadap apa yang beliau sampaikan. Bahkan orang yang ikhlas bisa membuat iblis (syaitan) tidak bisa banyak berbuat dalam usahanya untuk menggoda orang ikhlas tersebut. Ingatlah, apapun masalah kita kita janganlah hati kita sampai pada masalah itu, cukuplah hanya ikhtiar dan pikiran saja yang sampai pada masalah tersebut, tapi hati hanya tertambat pada Alloh SWt yang Maha Mengetahui akan masalah yang kita hadapi tersebut. Semoga Alloh SWT membimbing kita pada jalan-Nya sehingga kita bisa menjadi hamba-Nya yang ikhlas. Amiin.