Sabtu, 19 April 2008

Menggapai Bening Hati

Oleh : KH. Abdullah Gymnastiar


Keberuntungan memiliki hati yang bersih, sepatutnya membuat diri kita berpikir
keras setiap hari menjadikan kebeningan hati ini menjadi aset utama untuk
menggapai kesuksesan dunia dan akhirat kita. Subhanallaah, betapa kemudahan dan
keindahan hidup akan senantiasa meliputi diri orang yang berhati bening ini.
Karena itu mulai detik ini bulatkanlah tekad untuk bisa menggapainya, susun
pula program nyata untuk mencapainya. Diantara program yang bisa kita lakukan
untuk menggapai hidup indah dan prestatif dengan bening hati adalah :

1. Ilmu
Carilah terus ilmu tentang hati, keutamaan kebeningan hati, kerugian kebusukan
hati, bagaimana perilaku dan tabiat hati, serta bagaimana untuk mensucikannya.
Diantara ikhtiar yang bisa kita lakukan adalah dengan cara mendatangi majelis
taklim, membeli buku-buku yang mengkaji tentang kebeningan hati, mendengarkan
ceramah-ceramah berkaitan dengan ilmu hati, baik dari kaset maupun langsung
dari nara sumbernya. Dan juga dengan cara berguru langsung kepada orang yang
sudah memahami ilmu hati ini dengan benar dan ia mempraktekannya dalam
kehidupan sehari-harinya. Harap dimaklumi, ilmu hati yang disampaikan oleh
orang yang sudah menjalaninya akan memiliki kekuatan ruhiah besar dalam
mempengaruhi orang yang menuntut ilmu kepadanya. Oleh karenanya, carilah ulama
yang dengan gigih mengamalkan ilmu hati ini.


2. Riyadhah atau Melatih Diri
Seperti kata pepatah, "alah bisa karena biasa". Seseorang mampu melakukan
sesuatu dengan optimal salah satunya karena terlatih atau terbiasa
melakukannya. Begitu pula upaya dalam membersihkan hati ini, ternyata akan
mampu dilakukan dengan optimal jikalau kita terus-menerus melakukan riyadhah
(latihan). Adapun bentuk latihan diri yang dapat kita lakukan untuk menggapai
bening hati ini adalah

3. Menilai kekurangan atau keburukan diri.
Patut diketahui bahwa bagaimana mungkin kita akan mengubah diri kalau kita
tidak tahu apa-apa yang harus kita ubah, bagaimana mungkin kita memperbaiki
diri kalau kita tidak tahu apa yang harus diperbaiki. Maka hal pertama yang
harus kita lakukan adalah dengan bersungguh-sungguh untuk belajar jujur
mengenal diri sendiri, dengan cara


4. Memiliki waktu khusus untuk tafakur.
Setiap ba'da shalat kita harus mulai berpikir; saya ini sombong atau tidak?
Apakah saya ini riya atau tidak? Apakah saya ini orangnya takabur atau tidak?
Apakah saya ini pendengki atau bukan? Belajarlah sekuat tenaga untuk mengetahui
diri ini sebenarnya. Kalau perlu buat catatan khusus tentang
kekurangan-kekurangan diri kita, (tentu saja tidak perlu kita beberkan pada
orang lain). Ketahuilah bahwa kejujuran pada diri ini merupakan modal yang
teramat penting sebagai langkah awal kita untuk memperbaiki diri kita ini


5. Memiliki partner.
Kawan sejati yang memiliki komitmen untuk saling mengkoreksi semata-mata untuk
kebaikan bersama yang memiliki komitmen untuk saling mewangikan, mengharumkan,
memajukan, dan diantaranya menjadi cermin bagi satu yang lainnya. Tidak ada
yang ditutup-tutupi. Tentu saja dengan niat dan cara yang benar, jangan sampai
malah saling membeberkan aib yang akhirnya terjerumus pada fitnah. Partner ini
bisa istri, suami, adik, kakak, atau kawan-kawan lain yang memiliki tekad yang
sama untuk mensucikan diri. Buatlah prosedur yang baik, jadwal berkala,
sehingga selain mendapatkan masukan yang berharga tentang diri ini dari partner
kita, kita juga bisa menikmati proses ini secara wajar.


6. Manfaatkan orang yang tidak menyukai kita.
Mengapa? Tiada lain karena orang yang membenci kita ternyata memiliki
kesungguhan yang lebih dibanding orang yang lain dalam menilai, memperhatikan,
mengamati, khususnya dalam hal kekurangan diri. Hadapi mereka dengan kepala
dingin, tenang, tanpa sikap yang berlebihan. Anggaplah mereka sebagai aset
karunia Allah yang perlu kita optimalkan keberadannya. Karenanya, jadikan
apapun yang mereka katakan, apapun yang mereka lakukan, menjadi bahan
perenungan, bahan untuk ditafakuri, bahan untuk dimaafkan, dan bahan untuk
berlapang hati dengan membalasnya justru oleh aneka kebaikan. Sungguh tidak
pernah rugi orang lain berbuat jelek kepada diri kita. Kerugian adalah ketika
kita berbuat kejelekkan kepada orang lan.


7. Tafakuri kejadian yang ada di sekitar kita.
Kejadian di negara, tingkah polah para pengelola negara, akhlak pipmpinan
negara, atau tokoh apapun dan siapa pun di negeri ini. Begitu banyak yang dapat
kita pelajari dan tafakuri dari mereka, baik dalam hal kebaikan ataupun
kejelekkan/kesalahan (tentu untuk kita hindari kejelekkan/kesalahan serupa).
Selain itu, dari orang-orang yang ada di sekitar kita, seperti teman, tetangga,
atau tamu, yang mereka itu merupakan bahan untuk ditafakuri. Mana yang
menyentuh hati, kita menaruh rasa hormat, kagum, kepada mereka. Mana yang akan
melukai hati, mendera perasaan, mencabik qalbu, karena itu juga bisa jadi bahan
contoh, bahan perhatian, lalu tanyalah pada diri kita, mirip yang mana? Tidak
usah kita mencemooh orang lain, tapi tafakuri perilaku orang lain tersebut dan
cocokkan dengan keadaan kita. Ubahlah sesuatu yang dianggap melukai, seperti
yang kita rasakan, kepada sesuatu yang menyenangkan. Sesuatu yang dianggap
mengagumkan, kepada perilaku kita spereti yang kita kagumi tersebut.
Mudah-mudahan dengan riyadhah tahap awal ini kita mulai mengenal, siapa
sebenarnya diri kita?