Tampilkan postingan dengan label Taushiyah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Taushiyah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 30 September 2010

Makna Silaturahim


oleh: Abdullah Gymnastiar (Aa Gym)



Rasulullah
SAW mengatakan dalam H.R Bukhari dan Muslim bahwa “barang siapa yang
ingin rizkinya diluaskan dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah
menghubungkan tali silaturahim.”

Istilah silaturahim di tengah-tengah masyarakat kita sering
diartikan sebagai kegiatan kunjung-mengunjungi, saling bertegur sapa,
saling menolong, dan saling berbuat kebaikan. Namun, sesungguhnya bukan
itu makna silaturahim sesungguhnya. Silaturahim bukan hanya ditandai
dengan saling berbalasan salam tangan atau memohon maaf belaka. Bila
mencermati dari asal katanya, yakni shilat atau washl, yang berarti
menyambungkan atau menghimpun, dan ar-rahiim yang berarti kasih sayang,
maka silaturahim diartikan sebagai menghubungkan kasih sayang antar
sesama. Silaturahim juga bermakna menghubungkan mereka yang sebelumnya
terputus hubungan atau interaksi, dan memberi kepada orang yang tidak
memberi kepada kita. Contohnya adalah ketika ada salah satu pihak yang
lebih dulu menyapa saudaranya, sementara sebelumnya interaksi di antara
keduanya sedang tidak harmonis, maka dialah yang mendapat pahala lebih
besar. Dan juga silaturahim ditandai dengan hubungan dengan hati, yakni
keluasan hati. Sebagaimana yang disebutkan oleh Rasulullah Saw, bahwa
beliau bersabda, "Yang disebut bersilaturahim itu bukanlah seseorang
yang membalas kunjungan atau pemberian, melainkan bersilaturahmi itu
ialah menyambungkan apa yang telah putus" (HR Bukhari).

Demikian, silaturahmi pun memiliki fadhilah yang mustajab untuk
mendatangkan kebaikan; bahkan keburukan, bila memutuskannya.
Sebagaimana disabdakan oleh Rasul saw: "Tahukah kalian tentang sesuatu
yang paling cepat mendatangkan kebaikan ataupun keburukan? 'Sesuatu
yang paling cepat mendatangkan kebaikan,' sabda Rasulullah SAW, 'adalah
balasan (pahala) orang yang berbuat kebaikan dan menghubungkan tali
silaturahmi, sedangkan yang paling cepat mendatangkan keburukan ialah
balasan (siksaaan) bagi orang yang berbuat jahat dan yang memutuskan
tali persaudaraan" (HR Ibnu Majah).

Rasulullah Saw juga pernah bersabda bahwa “tidak akan masuk surga
orang yang memutuskan tali silaturahim.” Sudah ada balasan dari Allah
bagi orang yang bersilaturahim yaitu surge, dan sebaliknya bagi orang
yang memutuskan tali silaturahim yaitu neraka. Begitu besarnya balasan
Allah sehingga begitu besar juga cobaan yang akan dihadapi. Dalam
cobaan tersebut, hendaknya tidak mendahulukan hawa nafsu dan dendam,
sehingga akan hilang balasan surga dari Allah.

Rasulullah SAW memberikan tips kepada kita agar terjalin saling mencintai dengan sesama muslim, yakni:
Tebarkan salamMenghubungkan tali silaturahimMemberi makan kepada yang membutuhkan.

Betapa pentingnya silaturahim dalam hubungan sesame, Rasulullah saw
berpesan “sayangilah apa yang ada di muka bumi, niscaya Allah dan
semesta alam akan menyayangimu” (H.R Tirmidzi), yang dapat diartikan
bahwa hak saling berkasih sayang dan silaturahim tidak terbatas pada
kerabat, tetapi sesama makhluk ciptaan Allah SWT.

Oleh karena itu, menjadi sangat penting bagi kita untuk menyadari
bahwa silaturahmi tidak hanya tampilan lahiriah belaka, namun harus
melibatkan pula aspek hati. Dengan kombinasi amalan lahiriah dan amalan
hatinya, kita akan mempunyai kekuatan untuk bisa berbuat silaturahmi
lebih baik. Kalau orang lain mengunjungi kita dan kita balas
mengunjunginya, ini tidak memerlukan kekuatan mental yang kuat. Namun,
bila ada orang yang tidak pernah bersilaturahmi kepada kita, lalu
dengan sengaja kita mengunjunginya, maka inilah yang disebut
silaturahmi. Apalagi bila kita bersilaturahmi kepada orang yang
membenci kita atau seseorang yang sangat menghindari pertemuan dengan
kita, lalu kita mengupayakan diri untuk bertemu dengannya. Inilah
silaturahmi yang sebenarnya.

Dalam sebuah hadis diungkapkan, "Maukah kalian aku tunjukkan amal
yang lebih besar pahalanya daripada shalat dan shaum?" tanya Rasul pada
para sahabat. "Tentu saja," jawab mereka. Beliau kemudian menjelaskan,
"Engkau damaikan yang bertengkar, menyambungkan persaudaraan yang
terputus, mempertemukan kembali saudara-saudara yang terpisah,
menjembatani berbagai kelompok dalam Islam, dan mengukuhkan tali
persaudaraan di antara mereka adalah amal saleh yang besar pahalanya.
Barangsiapa yang ingin dipanjangkan umurnya dan diluaskan rezekinya,
hendaklah ia menyambungkan tali silaturahmi" (HR Bukhari Muslim).

Silaturahmi adalah kunci terbukanya rahmat dan pertolongan Allah
SWT. Dengan terhubungnya silaturahim, maka ukhuwah Islamiyah akan
terjalin dengan baik. Semoga kita bisa meraih surga Nya dengan membina
silaturahim antar sesama. 

Kamis, 05 Agustus 2010

Ikhtiar Beriring Keiklasan

Ikhtiar adalah usaha seseorang dan  usaha yang benar adalah usaha yang sungguh-sungguh (jiddiyah). Usaha yang sungguh-sungguh ini ditandai dengan adanya pengorbanan (tadhiyyah). Jika kita ingin mengukur seberat apa usaha yang sudah kita lakukan, mudah saja.. sudah seberapa banyak pengorbanan yang telah dilakukan? Pengorbanan punya banyak jalan. Pengorbananmu bangun malam untuk shalat dan belajar, pengorbananmu untuk menahan rasa kantuk demi mendapatkan materi kajian, dan banyak lagi. 

"(yaitu) kamu beriman kepada Alloh dan Rosul-Nya dan berjihad di jalan Alloh dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui." (QS.Ash-Shaff:11)
Semestinya kesungguhan ini dilakukan dalam berbagai keadaan. Artinya kesungguhan (jiddiyah) yang dilakukan secara terus-menerus (istimrariyah), baik dalam keadaan ringan ataupun berat, keadaan lapang maupun sempit,  di kala mudah maupun susah, dikala senang maupun sedih. Jadi, ibadah sunnah bukan cuma di waktu luang saja... Anggap saja ibadah sunnah yang kita lakukan ketika kondisi kita sedang MALES BANGET adalah sebagai kesungguhan dan pengorbanan kita ketika kita sedang dalam keadaan berat.
"Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Alloh. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui." (QS.At taubah:41)
Kesungguhan (jiddiyah) yang disertai pengorbanan (tadhiyyah) apabila dilakukan secara berkesinambungan atau terus-menerus (istimrariyah) maka buahnya adalah KERJA yang PROFESIONAL (itqanul amal) atau IKHTIAR maksimal yang bisa kamu lakukan. Ketiga elemen ini apabila dilakukan secara simultan makan akan menghasilkan suatu ENERGI besar bagi seseorang dalam berikhtiar.



Sudah berikhtiar, selanjutnya belajar untuk ikhlas...
Ciri-ciri dari orang yang memiliki keikhlasan diantaranya :


1. Hidupnya jarang sekali merasa kecewa.
Orang yang ikhlas, dia tidak akan pernah berubah sikapnya seandainya disaat dia berbuat sesuatu kebaikan ada yang memujinya, atau tidak ada yang memuji/menilainya bahkan dicacipun hatinya tetap tenang, karena ia yakin bahwa amalnya bukanlah untuk mendapatkan penilaian sesama yang selalu berubah tetapi dia bulatkan seutuhnya hanya ingin mendapatkan penilaian yang sempurna dari Alloh SWT.


2.Tidak tergantung / berharap pada makhluk.
Sayyidina ’Ali pun pernah berkata, orang yang ikhlas itu jangankan untuk mendapatkan pujian, diberikan ucapan terima kasih pun dia sama sekali tidak akan pernah mengharapkannya, karena setiap kita beramal hakikatnya kita itu sedang berinteraksi dengan Alloh, oleh karenanya harapan yang ada akan senantiasa tertuju kepada keridhaan Alloh semata.


3.Tidak pernah membedakan antara amal besar dan amal kecil.
Diriwayatkan bahwa Imam Ghazali pernah bermimpi, dan dalam mimpinya beliau mendapatkan kabar bahwa amalan yang besar yang pernah beliau lakukan diantaranya adalah disaat beliau melihat ada seekor lalat yang masuk kedalam tempat tintanya, lalu beliau angkat lalat tersebut dengan hati-hati lalu dibersihkannya dan sampai akhirnya lalat itupun bisa kembali terbang dengan sehat. Maka sekecil apapun sebuah amal apabila kita kerjakan dengan sempurna dan benar-benar tiada harapan yang muncul pada selain Allah, maka akan menjadi amal yang sangat besar dihadapan Alloh SWT.


4. Banyak Amal Kebaikan Yang Rahasia.
Mungkin ketika kita mengaji dilingkungan orang banyak maka kita akan mengaji dengan enaknya, lama dan penuh khidmat, ketika kita shalat berjamaah apalagi sebagai imam kita akan berusaha khusyu dan lama, tapi apakah hal tersebut akan kita lakukan dengan kadar yang sama disaat kita beramal sendirian? apabila amal kita tetap sama bahkan cenderung lebih baik, lebih lama, lebih enak dan lebih khusyuk maka itu bisa diharapkan sebagai amalan yang ikhlas. Namun bila yang terjadi sebaliknya, ada kemungkinan amal kita belumlah ikhlas.


5. Tidak membedakan antara bendera, golongan, ras, atau organisasi.
Fitrah manusia adalah ingin mendapatkan pengakuan dan penilaian dari keberadaannya dan segala aktivitasnya, namun pengakuan dan penilaian makhluk, baik perorangan, organisasi atau instansi tempat kerja itu relatif dan akan senantiasa berubah, banyak orang yang pernah dianggap sebagai pahlawan namun seiring waktu berjalan adakalanya berubah menjadi sosok penjahat yang patut diwaspadai. Maka tiada penilaian dan pengakuan yang paling baik dan  yang harus senantiasa  kita usahakan adalah penilaian dan pengakuan dari Alloh SWT.


Begitu besar pengaruh orang yang ikhlas itu, sehingga dengan kekuatan niat ikhlasnya mampu menembus ruang dan waktu. Seperti halnya apapun yang dilakukan, diucapkan, dan diisyaratkan Rosulullah, mampu mempengaruhi kita semua walau beliau telah wafat ribuan tahun yang lalu namun kita senantiasa patuh dan taat terhadap apa yang beliau sampaikan. Bahkan orang yang ikhlas bisa membuat iblis (syaitan) tidak bisa banyak berbuat dalam usahanya untuk menggoda orang ikhlas tersebut. Ingatlah, apapun masalah kita kita janganlah hati kita sampai pada masalah itu, cukuplah hanya ikhtiar dan pikiran saja yang sampai pada masalah tersebut, tapi hati hanya tertambat pada Alloh SWt yang Maha Mengetahui akan masalah yang kita hadapi tersebut. Semoga Alloh SWT membimbing kita pada jalan-Nya sehingga kita bisa menjadi hamba-Nya yang ikhlas. Amiin.

Rabu, 02 April 2008

Suara Qolbu



Suara Qalbu

Hamparan sajadah jadi saksiku
Saat pilu pada-Mu
Di tengah malam, saat yang kau janjikan
Terkabulnya doa-doa
Ku mengadu, mengharu biruku pada-Mu
Terasa nyaman qalbuku
Diselimuti sejuknya cahaya-Mu
Kasih-Mu yang takkan pernah sirna
Dapatkah aku di kelak sana

Air mata sebagai bukti
Ku amatmerindukan-Mu
Rahmat-Mu kurasa
Kuharap sampai akhir masa
Dekat dan lebih dekat denganMu
Istiqomahkanku di dalamnya
Wahai sang pemilik cinta

( By: Iie, angkatan 2007 )