Tampilkan postingan dengan label Refleksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Refleksi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 09 Agustus 2008

Beruntungnya Jadi Umat Akhir Zaman

Republika Online - Kita pun harus seperi rubah; mampu memanfaatkan posisi dengan baik, jeli melihat kesempatan, dan mau belajar dari kesalahan orang lain, hingga tidak terjerumus ke lubang yang sama.

Alkisah singa, serigala, dan rubah berburu bersama-sama. Mereka berhasil menangkap sapi gunung, kambing, dan kelinci gemuk. Meskipun singa merasa malu terlihat bersama srigala dan rubah, ia memaksakan diri untuk bergabung bersama mereka.

Sementara itu, serigala dan rubah menunggu singa membagikan hasil buruannya dengan adil. Namun, singa meminta serigala melakukan tugas membagikan hasil buruan. Serigala yang sudah merasa lapar, berkata, "Wahai raja hewan, sapi liar itu bagianmu. Aku akan memakan kambing dan rubah makan kelinci".

Singa marah sekali mendengarnya. Ia berkata pada serigala, "Lancang sekali kamu berkata demikian! Di depanku beraninya kamu berbicara tentang aku dan kamu!". Dengan satu pukulan saja, singa membunuh serigala.

Singa lalu berpaling pada rubah dan berkata, "Bagilah hasil buruan ini, lalu kita sarapan".

Rubah yang pandai segera berkata, "Raja terbaik, sapi adalah untuk sarapanmu, kambing untuk makan siangmu, dan kelinci untuk makan malammu".

Singa sangat senang mendengar jawaban dari rubah. Ia berkata, "Rubah, kamu memang bijaksana. Pembagian buruan yang baik sekali. Kamu belajar dari mana?".

Rubah berkata, "Dari apa yang menimpa serigala". Ia pun berkata dalam hatinya, "Syukurlah sang singa bertanya kepadaku setelah kepada serigala. Kalau ia bertanya kepadaku lebih dahulu, aku pasti mengalami nasib yang sama dengan serigala".

Allah SWT menakdirkan kita menjadi umat akhir zaman. Kita lahir, dibesarkan, dan insya Allah akan meninggal setelah Rasulullah SAW dan para sahabat. Sebenarnya ada "kerugian" dan juga "keuntungan" menjadi umat akhir zaman ini. Ruginya, kita tidak termasuk orang yang bertemu langsung dengan Rasul dan para sahabat, tidak bisa berjuang bersama mereka, dan juga tidak dapat merasakan lezatnya zaman keemasan yang dahulu pernah mereka bangun.

Namun, di balik "kerugian" tersebut ada banyak keuntungan yang dapat kita peroleh. Salah satunya kita bisa mencontoh amal-amal baik yang dilakukan umat terdahulu untuk kita amalkan sekarang. Tentu, kita pun bisa belajar dari kesalahan-kesalahan yang mereka lakukan, sehingga kita tidak mengulangi kesalahan serupa saat.

Bahkan, ada satu nilai plus yang tidak dimiliki para sahabat. Mereka beriman karena bertemu langsung dengan Rasulullah SAW. Setiap tindak tanduknya ada dibimbing langsung oleh beliau. Sangat wajar bila mereka beriman. Sedangkan kita, umat akhir zaman, tidak pernah bertemu langsung dengan beliau. Kita hanya membaca dari kisah dan shirah nabawiyyah. Maka, sungguh luar biasa bila manusia akhir zaman beriman pada beliau dalam segala dimensi kehidupannya.

Umar bin Khatthab pernah berkisah. Saya bersama Rasulullah SAW sedang duduk-duduk. Rasul SAW bertanya kepada para sahabat, "Katakan kepadaku, siapakah makhluk Allah yang paling besar imannya?" Para sahabat menjawab, "Para malaikat, wahai Rasul". Nabi SAW bersabda, "Tentu mereka demikian. Dan mereka berhak seperti itu. Tidak ada yang bisa menghalangi itu, karena Allah SWT telah memberikan mereka tempat".

Para sahabat menjawab lagi, "Para Nabi yang diberi kemuliaan oleh Allah SWT, wahai Rasul". Rasulullah SAW bersabda, "Tentu mereka demikian. Dan mereka berhak seperti itu. Tidak ada yang bisa menghalangi itu, karena Allah SWT telah memberikan mereka tempat".

"Wahai Rasul, para syuhada yang ikut bersyahid bersama para Nabi," jawab mereka kembali. Rasul bersabda, "Tentu mereka demikian. Dan mereka berhak seperti itu. Tidak ada yang bisa menghalangi itu, karena Allah SWT telah memberikan mereka tempat".

"Lalu siapa, wahai Rasul?," tanya para sahabat. Lalu Nabi SAW bersabda, "Kaum yang hidup sesudahku. Mereka beriman kepadaku, dan mereka tidak pernah melihatku, mereka membenarkanku, dan mereka tidak pernah bertemu dengan aku. Mereka menemukan kertas yang menggantung, lalu mereka mengamalkan apa yang ada pada kertas itu. Maka, mereka-mereka itulah yang orang-orang yang paling utama di antara orang-orang yang beriman". Subhanallah!

Dari sudut pandang ini sebenarnya Allah SWT sangat memanjakan kita. Betapa tidak, kita tidak perlu bersusah payah mencari-cari kebenaran yang hakiki. Alquran sebagai sumber kebenaran telah ada di hadapan kita. Cara mengamalkannya telah diberikan oleh Rasulullah SAW lewat hadis dan sunnah-sunnahnya. Kalau belum lengkap, kita bisa melihat prilaku para sahabat, ulama, dan orang-orang saleh lainnya. Ajakan untuk berbuat kebaikan pun "berseliweran" di sekitar kita. Apa yang kurang? Tinggal kemauan untuk menggali dan mengeksplorasi saja yang kita perlukan.

Allah SWT pun telah memberikan contoh bagaimana orang-orang yang ingkar. Gambaran kehancuran kaum-kaum yang menolak kebenaran ada di hadapan kita. Allah SWT berfirman, Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut itu, maka di antara umat itu ada orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan. " (QS An-Nahl [16]: 36).

Andaikan boleh berandai-andai. Tidak ada jaminan bagi kita untuk lebih baik bila kita hidup sezaman dengan Rasulullah SAW. Mungkin kita akan menjadi salah seorang penentang dakwah mereka. Sekarang kita bisa lapang dada menerima seruan untuk beriman kepada Allah karena kita lahir dan dibesarkan dalam lingkungan Islam. Namun, apa jadinya kalau kita hidup lima belas abad lalu; satu zaman dan satu tempat dengan Rasulullah SAW, lalu menerima seruan seperti itu? Mungkin kita akan bergabung dengan Abu Jahal, Abu Lahab, Abu Sufyan, atau kaum kafir Quraisy lainnya untuk menghalangi dakwah Rasulullah SAW.

Kita harus mampu memanfaatkan posisi dengan baik, jeli melihat kesempatan, dan mau belajar dari kesalahan orang lain, hingga tidak terjerumus ke dalam lubang yang sama. Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa seorang Mukmin sejati itu tidak mungkin terjerumus ke dalam lubang yang sama dua kali berturut-turut? Wallahu a'lam bish-shawab (ems

Selasa, 17 Juni 2008

Dialog Selepas Malam


"Akhi, dulu ana merasa semangat saat aktif dalam dakwah. Tapi belakangan rasanya semakin hambar. Ukhuwah makin kering. Bahkan ana melihat ternyata ikhwah banyak pula yang aneh-aneh." Begitu keluh kesah seorang mad'u kepada murobbinya di suatu malam. Sang murobbi hanya terdiam, mencoba terus menggali semua kecamuk dalamdiri mad'u-nya.

"Lalu, apa yang ingin antum lakukan setelah merasakan semua itu?" sahut sang murobbi setelah sesaat termenung.. "Ana ingin berhenti saja, keluar dari tarbiyah ini. Ana kecewa dengan perilaku beberapa ikhwah yang justru tak islami. Juga dengan organisasi dakwah yang ana geluti; kaku dan sering mematikan potensi anggota-anggotanya. Bila begini terus, ana lebih baik sendiri saja" jawab ikhwah itu.

Sang murobbi termenung kembali. Tak tampak raut terkejut dari roman wajahnya. Sorot matanya tetap terlihat tenang, seakan jawaban itu memang sudah diketahuinya sejak awal.

"Akhi, bila suatu kali antum naik sebuah kapal mengarungi lautan luas. Kapal itu ternyata sudah amat bobrok.Layarnya banyak berlubang, kayunya banyak yang keropos bahkan kabinnya bau kotoran manusia. Lalu, apa yang antum lakukan untuk tetap sampai pada tujuan?" tanya sang murobbi dengan kiasan bermakna dalam. Sang mad'u terdiam berpikir.

Tak kuasa hatinya mendapat umpan balik sedemikian tajam melalui kiasan yang amat tepat.
"Apakah antum memilih untuk terjun ke laut dan berenang sampai tujuan?"
sang murobbi mencoba memberi opsi. "Bila antum terjun ke laut, sesaat antum akan merasa senang. Bebas dari bau kotoran manusia, merasakan kesegaran air laut,atau bebas bermain dengan lumba-lumba. Tapi itu hanya sesaat. Berapa kekuatan antum untuk berenang sampai tujuan? Bagaimana bila ikan hiu datang? Darimana antum mendapat makan dan minum? Bila malam datang, bagaimana antum Mengatasi hawa dingin?" serentetan pertanyaan dihamparkan di hadapan sang ikhwah tersebut.

Tak ayal, sang ikhwah menangis tersedu. Tak kuasa rasa hatinya menahan kegundahan sedemikian. Kekecewaannya kadung memuncak, namun sang murobbi yang dihormatinya justru tak memberi jalan keluar yang sesuai dengan keinginannya.

"Akhi, apakah antum masih merasa bahwa jalan dakwah adalah jalan yang paling utama menuju ridho Allah swt?" Pertanyaan menohok ini menghujam jiwasang ikhwah. Ia hanya mengangguk. "Bagaimana bila ternyata mobil yang antum kendarai dalam menempuh jalan itu ternyata mogok? Antum akan berjalan kaki meninggalkan mobil itu tergeletak di jalan, atau mencoba memperbaikinya? " tanya sang murobbi lagi.

Sang ikhwan tetap terdiam dalam sesenggukan tangis perlahannya.
Tiba-tiba ia mengangkat tangannya; "Cukup akhi, cukup. Ana sadar. Maafkan ana, Insya Allah ana akan tetap istiqomah. Ana berdakwah bukan untuk mendapat medalikehormatan. Atau agar setiap kata-kata ana diperhatikan"

"Biarlah yang lain dengan urusan pribadi masing-masing. Biarlah ana tetap berjalan dalam dakwah. Dan hanya Allah saja yang akan membahagiakan ana kelak dengan janji-janji- Nya. Biarlah segala kepedihan yang ana rasakan jadi pelebur dosa-dosa ana." Sang madââ¬â¢u berazzam di hadapan sang murobbi yang semakin dihormatinya.

Sang murobbi tersenyum. "Akhi, jama'ah ini adalah jama'ah manusia. Mereka adalah kumpulan insan yang punya banyak kelemahan. Tapi di balik kelemahan itu, masih amat banyak kebaikan yang mereka miliki. Mereka adalah pribadi-pribadi yang menyambut seruan Allah untuk berdakwah. Dengan begitu, mereka sedang berproses menjadi manusia terbaik pilihan Allah."
"Bila ada satu dua kelemahan dan kesalahan mereka, janganlah hal itu mendominasi perasaan antum.

Sebagaimana Allah taâala menghapus dosa manusia dengan amal baik mereka, hapuslah kesalahan mereka di mata antum dengan kebaikan-kebaikan mereka terhadap dakwah selama ini.
Karena di mata Allah, belum tentu antum lebih baik dari mereka."

"Futur, mundur, kecewa atau bahkan berpaling menjadi lawan bukanlah jalan yang masuk akal. Apabila setiap ketidaksepakatan selalu disikapi dengan jalan itu; maka kapankah dakwah ini dapat berjalan dengan baik?" sambungnya panjang lebar.

"Kita bukan sekedar pengamat yang hanya bisa berkomentar. Atau hanya pandai menuding2 sebuah kesalahan. Kalau hanya itu, orang kafir pun bisa melakukannya.

Tapi kita adalah da'i. Kita adalah khalifah. Kitalah yang diserahi amanat oleh Allah untuk membenahi masalah-masalah di muka bumi. Bukan hanya mengeksposnya, yang bisa jadi justri semakin memperuncing masalah."

Sang mad'u termenung merenungi setiap kalimat murobbinya. Azzamnya Memang kembali menguat. Namun ada satu hal tetap bergelayut di hatinya. "Tapi bagaimana ana bisa memperbaiki organisasi dakwah dengan kapasitas ana yang lemah ini?" sebuah pertanyaan konstruktif akhirnya muncul juga.

"Siapa bilang kapasitas antum lemah? Apakah Allah mewahyukan begitu kepada antum? Semua manusia punya kapasitas yang berbeda. Namun tak ada yang bisa menilai bahwa yang satu lebih baik dari yang lain!" sahut sang murobbi.

"Bekerjalah dengan ikhlas. Berilah tausyiah dalam kebenaran, kesabaran,dan kasih sayang pada semua ikhwah yang terlibat dalam organisasi itu. Karena peringatan selalu berguna bagi orang yang beriman. Bila ada sebuah isu atau gosip, tutuplah telinga antum dan bertaubatlah. Singkirkan segala ghil
antum terhadap saudara antum sendiri. Dengan itulah, Bilal yang mantan budak hina menemui kemuliaannya. "


Malam itu, sang mad'u menyadari kesalahannya. Ia bertekad untuk tetap berputar bersama jama'ah dalam mengarungi jalan dakwah.

kembalikan semangat itu saudaraku, jangan biarkan asa itu hilang, ditelan gersangnya debu yang menerpa. Biarlah itu semua menjadi saksi, sampai kita diberi 2 kebaikan oleh Allah swt: kemenangan atau mati syahid.


KADANG KITA SIPUT


* Afwan akhi, ane telat datang nich,
* Akh, Sabtu-Ahad depan ada undangan daurah,
* Acara liqoâ-nya dimajukan besok lusa akh,

Hmmm, tiga contoh ungkapan di atas kadang datang menghiasi telinga kita. Datang telat saat acara liqoâ, pemberitahuan acara yang serba mendadak, atau sejenisnya. Sungguh disayangkan ketika semua peristiwa di atas ikut âmenghiasiâ agenda yang begitu pentingnya, yakni dakwah, apalagi muncul dari pelaku yang menyandang sebutan âkader dakwahâ.

Mungkin tak pernah terlintas dalam pikiran kita, saat kita telat datang dalam menghadiri sebuah agenda yang telah disepakati bersama itu berarti kita telah âmenyiayiakanâ waktu al-akh yang lain yang datangnya lebih awal. Keterlambatan kita datang akan berdampak pada âmolorâ-nya acara dan tentunya akan berdampak pula pada agenda-agenda pasca âacaraâ yang mungkin telah disusun rapi oleh seorang al-akh. Atau saat kita memberitahukan sebuah agenda secara mendadak (misalnya hanya beberapa hari sebelum hari H), bisa jadi hal itu akan berdampak pada peng-cancle-an agenda-agenda lain yang telah disusun seorang al-akh jauh hari sebelumnya.

Ada sebuah âsifatâ yang harus melekat diantara al-akh, yakni sikap senantiasa mau memaâafkan, tsiqah dan ketaataan. Di segala âlini dakwahâ dan kondisi, tiga sifat tersebut haruslah senantiasa dimiliki. Tapi jangan sampai âtiga sifatâ tersebut seolah-olah âdibenturkanâ dengan beberapa âperistiwaâ atau âungkapanâ seperti di atas. Artinya, biarlah âtiga sifatâ tersebut tumbuh di setiap al-akh dengan alamiyah dan proses âpenempaanâ yang baik. Misalnya, janganlah âperistiwaâ keterlabatan seorang al-akh datang ke sebuah acara dijadikan sebuah âlatihanâ guna menumbuhkan ârasa maklum dan memaafkanâ. Atau, janganlah âpemberitahuan/undangan mendadakâ dijadikan sebuah âlatihanâ guna menumbuhkan âketaatanâ.

Terakhir, mari kita renungi lagi 10 muwassafat yang harus dimiliki oleh setiap al-akh. Jika kesepuluh muwassafat tsb bisa âmelekatâ di setiap al-akh, InsyaaALLOH akan terlahir kader dakwah yang âtangguhâ dan âprofesionalâ yang akan mampu mengemban amanah dakwah di era modern ini. Salah satu dari 10 muwassafat yang terkait dengan tulisan ini yakni, Pandai menjaga waktu (harishun ala waqtihi) yang merupakan faktor penting bagi manusia. Hal ini karena waktu itu sendiri mendapat perhatian yang begitu besar dari Allah dan Rasul-Nya. Allah Swt banyak bersumpah di dalam Al-Qurâan dengan menyebut nama waktu seperti wal fajri, wad dhuha, wal asri, wallaili dan sebagainya.

Allah Swt memberikan waktu kepada manusia dalam jumlah yang sama setiap, yakni 24 jam sehari semalam. Dari waktu yang 24 jam itu, ada manusia yang beruntung dan tak sedikit manusia yang rugi. Karena itu tepat sebuah semboyan yang menyatakan: âLebih baik kehilangan jam daripada kehilangan waktu.â Waktu merupakan sesuatu yang cepat berlalu dan tidak akan pernah kembali lagi.

Oleh karena itu setiap muslim amat dituntut untuk memanaj waktunya dengan baik, sehingga waktu dapat berlalu dengan penggunaan yang efektif, tak ada yang sia-sia.

Sumber : Dari milist tetangga