Tampilkan postingan dengan label LDK. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label LDK. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 26 Februari 2011

Sinergitas Dakwah Kampus

Da’wah thulabi atau lebih spesifik dakwah kampus adalah bagian integral dari da’wah Islam secara umum. Tujuannya pun sejalan dengan tujuan da’wah Islam. Mengembalikan peran umat sebagai guru dunia dan mercusuar peradaban umat manusia sehingga Islam menjadi Rahmatan Lil-‘Alamin. Maka da’wah thulabi mampu menjadi sarana yang memberikan kontribusi signifikan dalam agenda da’wah ‘alami, yaitu sebagai lingkaran awal pembentukan masyarakat Islami.
Dalam perjalanannya, dakwah kampus membutuhkan sinersitas antar elemen-elemen penyusunnya. Sinergitas yang dibutuhkan dakwah kampus ini begitu kompleks, mulai dari sinergitas sumber daya manusia sebagai aset terbesar dakwah hingga sinergitas arah gerak elemen dakwah kampus. Sinergitas ini mutlak dibutuhkan. Tanpanya, dakwah kampus akan kehilangan arah yang nantinya akan menghilangkan eksistensi dakwah kampus itu sendiri. Setidaknya ada dua ranah sentral yang harus disinergiskan: struktural dan fungsional.
Secara struktural, bagaimana ada sebuah pola komunikasi dan koordinasi yang optimal antara Lembaga Dakwah Kampus (LDK) dan Lembaga Dakwah Fakultas (LDF) atau bahkan dengan Lembaga Dakwah Jurusan atau Prodi jika ada. Bagaimana pula LDK benar-benar berfungsi sebagaimana idealnya sebagai pemimpin atau qiyadah bagi LDF. Dalam bahasa yang lebih mudah bagaimana sinergitas yang ada benar-benar mampu memposisikan LDK sebagai payung LDF yang mengayomi seluruh LDF di bawahnya.
Secara fungsional, setidaknya ada tiga fungsi startegis yang diprioritaskan untuk disinergiskan antara LDK dan LDF: kaderisasi, syi’ar, dan jaringan. Kader sebagai aset terbesar dalam dakwah kampus selayaknya butuh perhatian yang lebih. Sebesar apapun peluang dan aset yang dimiliki oleh dakwah kampus maka tanpa adanya kader sebagai penggerak maka itu adalah kesia-siaan. Sebagaimana pada setiap fase dakwahnya, Rasulullah selalu menomorwahidkan aspek manusia sebagai basis utama dakwah. Oleh karena itu, pengelolaan kader dan kaderisasi adalah kunci terpenting akan keberhasilan dahwah kampus. Oleh karena itu sinergitas yang ada mampu menghasilkan kader yang mampu mencapai standar mutu kader yang telah terstandardisasi dan setiap lembaga mampu melakukan alur formal kaderisasi dengan muatan dan materi yang terstandardisasi pula. Selain itu dengan adanya sinergitas, pengelolan kader irisan dan transfer kader mampu berjalan dengan optimal.
Sementara itu syiar merupakan pintu utama bagi tiga jalan besar. Pertama, syiar adalah pintu masuk bagi kederisasi. Syi’ar lah metode utama rekrutmen kader. Kedua, dengan adanya syi’ar Islam diharapkan adanya perbaikan kondisi kampus agar bi’ah Islam semakin kental. Yang terakhir, syiar adalah pintu bagi amalkhidamy atau pelayanan. Melalui syi’ar yang ad, kita juga melakukan fungsi pelayanan bagi muat manusia secara keseluruhan.Oleh karena itu, dengan adanya sinergitas syiar mampu melakukan pengelolaan syi’ar-syi’ar Islami yang masif dan optimal dengan berlandaskan standar kualifikasi syi’ar. Selain itu, bagaiamana mampu mengelola isu-isu kontemporer strategis sehingga LDK dan LDF mampu menjadi issue maker di kampu.
Kedua hal diatas (kaderisasi dan syiar) akan dilengkapi dengan fungsi jaringan yang akan semakin membukakan jalan bagi dua fungsi tersebut agar dakwah lebih berkembang. Oleh karena itu, dengan adanya sinergitas fungsi jaringan, LDK dan LDF mampu mengefektifkan pengelolaan jaringan-jaringan yang ada di masing-masing lembaga. Dan juga, LDK dan LDF mampu menjadi inisiator bagi tercipta dan berjalan efektifnya jaringan mihani atau keprofesian pada ranah nusantara.
Pertanyaannya, apakah ini adalah suatu yang mustahil. Jawabannya adanya tidak. Butuh konsesus bersama yang diwarnai dengan keikhlasan masing-masing lembaga untuk sama-sama bersinergis satu dengan lainnya. Ego lembaga harus diminimalisir. Maka komunikasi adalah kunci itu semua. Butuh pemahaman dari masing-masing lembaga dan kader tiap lembaga untuk memulai sesuatu yang kita sebut dia sebagai sinergitas dakwah kampus.

Koordinator Jaringan Khusus Kaderisasi FSLDIK UGM 1430 H

Sabtu, 29 Januari 2011

Manajemen Dakwah Kampus

Secara harfiah, dakwah kampus artinya  Mengajak manusia kepada Allah dengan hikmah dan pelajaran yang baik sehingga manusia tersebut keluar dari kondisi jahiliyyah (kebodohan) menuju kepada Islam dengan kampus sebagai pusat kegiatannya. Adapun manajemen berasal dari bahasa Inggris, dari kata “to manage” yang artinya mengurus, membimbing atau mengawasi. Manajemen adalah usaha mencapai tujuan melalui kegiatan-kegiatan orang lain yang dilakukan oleh seorang pemimpin.

Dari pengertian da’wah kampus dan manajemen, kita bisa mengambil suatu kesimpulan bahwa, manajemen dakwah kampus adalah usaha mencapai tujuan memakmurkan dakwah kampus melalui kerjasama (amal jama’i) dari pengurus dakwah kampus dengan melibatkan masyarakat sekitarnya dengan kampus pusat perubahannya.

URGENSI MANAJEMEN DAKWAH KAMPUS
Manajemen dalam pengurusan dakwah kampus mempunyai arti yang sangat penting. Bila dakwah kampus dikelola tanpa menggunakan manajemen yang rapi, maka tidak mungkin tujuan yang sebenar-benarnya tercapai.
Karena itu manajemen dakwah kampus erat kaitannya dengan kepemimpinan (leadership). Pengurus dakwah kampus tentunya memerlukan seorang ketua atau pemimpin. Seorang pemimpin yang disamping harus seorang yang shaleh dengan aqidah yang salimah dan akhlak yang karimah, haruslah seorang yang memiliki beberapa hal :
1. Berpandangan jauh ke masa depan.
2. Bersikap dan bertindak bijaksana.
3. Berpengetahuan dan berwawasan yang luas.
4. Bersikap dan bertindak adil.
5. Memiliki pendirian yang teguh.
6. Berkeyakinan bahwa misinya akan berhasil.
7. Memiliki kondisi fisik yang baik.
8. Mampu berkomunikasiyang baik.
FUNGSI MANAJEMEN DAKWAH KAMPUS
Secara umum manajemen, termasuk manajemen dakwah kampus memiliki empat fungsi :
1. Planning.
Segala aktivitas, apalagi aktivitas yang besar sangat sangat diharuskan adanya planning (perencanaan). Dalam kaitannya dengan pengelolaan dakwah kampus, bila perencanaan dilaksanakan dengan matang, maka kegiatan dakwah kampus yang dilaksanakan akan berjalan secara terarah, teratur, rapih serta memungkinkan dipilihnya tindakan-tindakan yang tepat sesuai dengan situasi dan kondisi. Dengan perencanaan yang didahului oleh penelitian, lebih memungkinkan persiapan yang lebih matang, baik menyangkut tenaga sdm, fasilitas yang diperlukan, biaya yang dibutuhkan, metode yang akan diterapkan dan lain-lain.
Tanpa perencanaan yang matang, biasanya aktivitas tidak berjalan dengan baik, tidak jelas kemana arah dan target yang akan dicapai dari kegiatan itu serta sulitnya melibatkan orang yang lebih banyak. Keharusan melakukan perencanaan bisa kita pahamidari firman Allah yang artinya  : “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah siap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. 59 :18).
2. Organizing.
Di atas sudah disinggung bahwa tugas-tugas da’wah yang demikian banyak tidak mungkin bisa dilaksanakan oleh seorang diri atau hanya beberapa orang saja, karena itu diperlukan pembagian  tugas yang jelas yang dalam istilah ilmu manajemennya disebut pendelegasian wewenang dan menetapkan serta menyusun jalinan hubungan kerja. Pengorganisasian ini punya arti penting guna menghindari terjadinya penumpukan kerja, tumpang tindih dan kevakuman personil dalam menjalankan aktivitas.
Dalam kaitan ini perlu diperhatikan apa yang disebut prinsip-prinsip manajemen, antara lain :
a. Pembagian kerja, dengan memberi tugas pada seseorang sesuai denga keahliannya, pengalaman, kodisi fisik, mental serta akhlaknya.
b. Pemberian wewenang dan tanggung jawab kepada orang yang telah diberi pekerjaan, hal ini harus diberikan secara jelas dan tegas, antara keduanya harus seimbang sehingga setiap orang bisa memberikan tanggang jawab sesuai wewenang yang bisa diberikan kepadanya.
c. Kesatuan komando (perintah), yang datangnya dari satu sumber yaitu pimpinan agar seseorang tahu dan jelas kepada siapa dia bertanggang jawab.
d. Tertib dan disiplin, ini merupakan salah satu kunci utama bagi berhasilnya tujuan yang hedak dicapai. Dalam kaitan ini seorang pemimpin juga harus mampu memberikan contoh kedisiplinan kepada bawahannya, misalnya dia telah menetapkan waktu untuk rapat maka sang pemimpin harus datang tepat pada waktunnya, bila seorang pemimpin tidak disiplin, maka bawahannya juga akan mengikuti sikap yang demikian.
e. Memiliki semangat kesatuan, sehingga dengan semangat kesatuan itu akan bekerja dengan senang hati, saling membantu sehingga dapat terjalin kerja sama yang baik, dengan ini pula maka setiap personil memiliki inisiatif untuk memajukan da’wah.
f. Keadilan dan kejujuran. Seorang  pemimpin harus berlaku adil pada bawahannya dan seorang bawahan harus jujur, jangan sampai dia tidak melaksanakan tugas karena alasan-alasan yang tidak rasional, begitupun seorang pemimpin kepada bawahannya
g. Koordinasi (menghimpun dan mengarahkan kegiatan, sarana dan alat organisasi), integrasi(menyatukan kegiatan berbagai unit) dan sinkronisasi (menyesuaikan berbagai kegiatan  dari unit-unit guna keserasian dan keharmonisan).
Bila prinsip diatas tidak dijalankan, maka akan terjadi mismanajemen yang diantaranya disebabkan karena belum ada struktur organisasi yang baik, tidak sesuai antara rencana dengan kemampuan, belum adanya keseragaman metoda kerja yang baik dan belum adanya kesesuaian antara pimpinan dengan bawahan.
3. Actuating.
Fungsi ini merupakan penentu manajemen dakwah kampus. Keberhasilan fungsi ini sangat ditentukan oleh kemampuan pimpinan dakwah di kampus dalam menggerakkan da’wah. Adapun langkah-langkahnya adalah memberikan motivasi, membimbing, mengkoordinir, dan menjalin pengertian diantara mereka serta selalu meningkatkan kemampuan dan keahlian  mereka.
4. Controling.
Controling merupakan pengaman sekaligus pendinamis jalannya kegiatan dakwah kampus. Dengan fungsi ini, seorang pemimpin bisa melakukan tindakan-tindakan antara lain : Pertama, mencegah penyimpangan dalam pengurusan dakwah kampus. Kedua, menghentikan kekeliruan dan penyimpangan yang berlangsung, dan ketiga, mengusahakan pendekatan dan penyempurnaan .
Langkah langkah yang harus ditempuh antara lain :
1.      Menetapkan standar
2.      Mengadakan pemeriksaan serta penelitian pada pelaksanaan tugas yang telah ditetapkan .
3.      Membandingkan antara pelaksanaan tugas dan standar
4.      Mengadakan tindakan tindakan perbaikan.

Selasa, 23 November 2010

Manajemen Prioritas dalam Dakwah Kampus

Oleh: Hendratno, ST. *)



Hudzaifah.org - Dakwah kampus adalah arena yang penuh dengan aktivitas yang
dinamis, ditengah-tengah miniatur masyarakat kecil, yaitu masyarakat kampus.
Akan ada banyak opsi-opsi yang harus dipilih oleh dakwah kampus dalam
menjalankan roda dakwahnya. Oleh karena itu, penting kiranya kita mengkaji
mengenai manajemen prioritas.

Kajian mengenai Manajemen Prioritas dalam Dakwah Kampus harus didahului dengan
kajian mendalam mengenai Fiqh Prioritas. Jadi, saya menyarankan sebelum membaca
tulisan ini, sebaiknya baca dahulu buku Fiqh Prioritas (Fiqh Aulawiyat) yang
pernah disusun oleh DR. Yusuf Qardhawi.

Mengenai manajamen prioritas dalam dakwah, ada beberapa hal yang menjadi ruang
lingkupnya, agar jelas sudut pandang kita dan tidak terlalu melebar
pembahasannya. Berikut ini adalah ruang lingkupnya.


Follow up:
Aulawiyat (prioritas) yang kita pahami dalam konteks da'wah, bukan memilih
antara iman dan kufur, al-haq dengan yang al-bathil, antara halal dengan yang
haram, antara yang lurus dengan yang menyimpang, atau antara berda'wah dengan
tidak berda'wah. Karena dalam hal ini, sudah jelas bahwa keimanan adalah
keharusan, sedangkan kekufuran harus ditolak, sebagaimana pernyataan Laa ilaaha
illallah yang menolak semua tuhan-tuhan itu, kecuali Allah SWT. Begitu pula
antara al-haq dengan al-bathil, al-haq adalah barisan yang harus kita ikuti,
sedangkan al-bathil harus ditinggalkan. Dan seterusnya.
Aulawiyat di sini adalah dalam hal memilih satu atau sebagian dari sejumlah
perkara yang halal. Lalu dari perkara-perkara halal tersebut, kita memilih mana
yang afdhal dari yang mafdhul, mana yang “ashlah” dari yang sholih.

Dan yang perlu dipahami lagi, memilih sesuatu yang diprioritaskan bukan berarti
meninggalkan atau membatalkan suatu pekerjaan yang baik demi untuk mengerjakan
pekerjaan baik yang lain. Maksudnya adalah mendahulukan mana yang lebih tepat
didahulukan, memberinya lebih banyak alokasi dan dukungan waktu, tenaga serta
sarana lainnya yang diperlukan. Inilah ruang lingkup kita sebagai batasan kajian
Manajemen Prioritas kita.

Aulawiyat merupakan salah satu prinsip fithrah. Dalam Al Qur'an banyak sekali
prinsip-prinsip aulawiyat ini, dimana Allah mendahulukan sesuatu dari sesuatu
yang lain. Contohnya adalah firman Allah berikut ini:

"Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang
kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik
untuk menjadi harapan." (QS. Al Kahfi: 46)

Ayat di atas menyiratkan bahwa amalan-amalan shaleh adalah lebih baik untuk
diprioritaskan ketimbang perhiasan dunia yang disebutkan sebelumnya. Lalu kita
lihat contoh ayat berikut ini:

"...Dan orang-orang yang mempunyai hubungan darah satu sama lain lebih berhak
(waris-mewarisi) di dalam Kitab Allah daripada orang-orang mukmim dan
orang-orang Muhajirin, kecuali kalau kamu berbuat baik kepada saudara-saudaramu
(seagama). Adalah yang demikian itu telah tertulis di dalam Kitab (Allah)." (QS.
Al Ahzab: 6)

Ayat di atas berkaitan dengan hukum waris, dimana orang-orang yang mempunyai
hubungan darah adalah orang yang lebih berhak didahulukan dalam hal waris
mewarisi.

Rasulullah SAW juga pernah bersabda, berkaitan dengan prioritas dalam hal
ibadah:

"Amal yang afdhal adalah yang lebih kontinyu. Dan shodaqoh yang afdhal
dikeluarkan saat sedang membutuhkan dan terasa besar pengorbanannya." (Hadits)



.:(Prinsip Prioritas dalam Manajemen Dakwah Kampus):.

Dalam mengatur jalannya roda dakwah kampus, diperlukan manajemen. Dan dalam
manajemen digunakan beberapa prinsip, salah satunya prinsip prioritas untuk
memilih beberapa pilihan-pilihan yang berkaitan dengan strategi dakwah kampus
secara umum.

Di antara pilihan-pilihan itu, lihatlah mana yang lebih kuat korelasinya dengan
mempertahankan prinsip dan pilihan mana yang lebih merefleksikan prioritas
syar'iyah. Lalu kita juga musti lihat, di antara pilihan-pilihan itu mana yang
mempunyai perspektif idiologis, mana yang hanya politis, mana yang teknis, dan
mana yang pragmatis. Dalam hal mencapai tujuan dakwah kampus, kita juga harus
lihat jangkauan manfaat yang mungkin dicapai dari pilihan-pilihan itu, mana yang
lebih luas manfaatnya. Lalu lihat juga mana yang lebih didukung oleh
ketersediaan informasi sehingga kita bisa "well informed" dan
"sound-perception"(tassawur yang tepat). Perlu juga dipertimbangkan mana yang
lebih didukung dengan kemampuan atau kafaah untuk komitmen dan konsisten dalam
opsi yang dipilih. Dan yang paling penting, pilihan mana yang lebih sesuai
dengan tabiat marhalah perjuangan dan kerja da'wah.

Sebagai gambaran, dalam dakwah kampus ada tiga arena yang dilakoni oleh struktur
dakwah kampus, yaitu arena da'awi, arena siyasi, dan akademik/profesi. Ketiga
arena tersebut merupakan peran dan fungsi mahasiswa. Kalau dilihat dari sudut
pandang individu, seorang aktivis dakwah kampus harus tawazun antara peran
da'awi, peran siyasi, dan peran akademik tersebut. Artinya, seorang aktivis
dakwah kampus, sejatinya harus memiliki kemampuan dakwah dan tarbiyah, kemampuan
mengusung perubahan di tengah-tengah masyarakat (khususnya masyarakat kampus),
tanpa mengurangi prestasi akademik. Bahkan kalau perlu justru meningkatkan
prestasi akademik, karena sejatinya dakwah itu adalah teladan.

Tapi secara kelembagaan, sebuah struktur dakwah kampus ada tahapan yang harus
dilalui dalam menyeimbangkan ketiga hal tersebut.

Tahapan pertama yang harus dilalui adalah penetrasi dalam peran da'awi, artinya
kaderisasi dan pembinaan sangat ditekankan pada sebuah struktur dakwah kampus
yang baru berdiri. Rekrutmen-rekrutmen lebih banyak dilakukan dengan dakwah
fardhiyah. Pada tahap ini, dakwah kampus juga harus berupaya memunculkan
simpatisan yang loyal terhadap personil aktivitas dakwah kampus. Fungsi
mahasiswa yang lebih diutamakan adalah fungsi da'awi, artinya mencetak
kader-kader robbani yang muntijah sangat prioritaskan di tahap ini. Sedangkan
aktivitas dakwah yang lebih diutamakan adalah aktivitas pelayanan dan aktivitas
da'awi.

Jika sudah matang, maka dakwah kampus baru bisa beranjak kepada tahap
selanjutnya. Untuk membahas mengenai hal ini, perlu kajian tersendiri. Pada
intinya, ada tahapan yang harus ditempuh untuk menuju dakwah kampus yang matang.
Dan itu tidak terlepas dari prinsip manajemen prioritas. Tahapan-tahapan
tersebut harus dipegang teguh oleh aktivis dakwah kampus dan lembaganya dalam
menjalankan roda dakwah di kampus.



.:(Prinsip Prioritas dalam Aktivitas Sehari-hari di Dakwah Kampus):.

Dalam aktivitas sehari-hari di kampus, akan ada banyak alternatif yang
terpampang di depan mata kita, yang harus dipilih dan diutamakan salah satu
diantaranya.

Sebagai gambaran, misalnya dalam hal pengelolaan isu-isu, baik itu isu di kampus
maupun eksternal kampus. Dakwah kampus harus mampu memilih isu mana yang harus
diprioritaskan. Selain itu dalam hal program kerja, biasanya ada program kerja
yang harus didahulukan dari program kerja lainnya. Hal ini berkaitan dengan
pengendalian dan pengotrolan program kerja. Dalam menetapkan program kerja juga
harus dipikirkan mengenai porsi-porsinya, porsi mana yang harus diperbesar
antara tabligh, ta'lim ataukah takwin/tarbiyah.



.:(Kendala-kendala):.

Penerapan prinsip aulawiyat bukan tanpa kendala. Ada beberapa kendala yang
menyebabkan manajemen prioritas ini menjadi kacau balau. Kendala-kendala
tersebut antara lain adanya penyakit diri, misalnya hawa nafsu yang
diperturutkan, adanya urusan duniawi yang mendominasi, atau tidak mau
mengeluarkan biaya. Kondisi kultural setempat kadangkala juga mempengaruhi hal
ini. Selain itu juga disebabkan adanya konspirasi eskternal yang menginginkan
agar cahaya dakwah ini padam.

Demikianlah kajian singkat mengenai manajemen prioritas dalam dakwah kampus.
Semoga dapat memberikan pencerahan agar dakwah kampus dapat berjalan dengan
baik.[]



*) Alumni Teknik Informatik FTI Usaki angkatan 98. Mantan Koordinator Dept
Kaderisasi UKM Hudzaifah periode 2001/2002, dan 2002/2003.

Senin, 02 Agustus 2010

Kader adalah wajah LDK

Smile and Shinning

Ada dua buah kisah yang ingin saya sampaikan. Pertama, di sebuah siang hari di kota Jakarta, terjadi kemacetan yang sangat hebat di wilayah pusat kota. Saat itu seorang wanita membawa mobil seorang diri. Mungkin karena panas dan dirinya sedang penat akibat macet, ia tidak sengaja menabrak mobil di depannya. Kota Jakarta yang keras membuat pemilik mobil yang tertabrak turun dari mobil dan mendatangi wanita tersebut. Akan tetapi dengan kekuatan pengendalian diri yang baik, perempuan itu menghadapi pemilik mobil yang ditabraknya, seorang pria besar mendatangi wanita itu dengan marah-marah. Tidak dengan emosi, tapi dengan senyuman yang lebar, wanita itu meminta maaf. Karena senyuman inilah, hati pria tersebut melunak, dan sepakat tidak memperpanjang masalah.

Kisah kedua, Tahun lalu saya berkesempatan mengunjungi kota Singapura, teringat sebuah pemandangan yang menurut saya, hasil didikan yang baik dari pihak manajemen hotel ke seorang receptionist . Saya melihat seorang receptionist terlibat sedikit konflik dengan tamu hotel, saya melihat dari jauh, dan tampak tamu hotel tersebut complain akibat misscommunication. Konflik dapat ia selesaikan dengan sedikit ancaman dari tamu hotel tersebut, yang membuat saya takjub adalah, sang receptionist tersebut bisa melayani tamu hotel selanjutnya dengan senyum lebar, seakan-akan tidak terjadi apa-apa sebelumnya.

Dari dua kisah ini saya melihat ada kekuatan tersendiri serta pencitraan yang ramah dan lembut dengan kekuatan senyuman yang lebar dan bercahaya. Senyuman pula yang membuat hati ini senantiasa berbahagia dalam keadaan sulit sekalipun. Sebuah perusahaan jasa mendidik staffnya untuk selalu tersenyum agar pelayanan yang diberikan bisa maksimal.

Kader dakwah butuh memiliki senyuman yang ikhlas. Kekuatan senyuman ini kadang lebih kuat ketimbang rangkaian kata berbobot yang disusun semalaman. Diskusi saya belum lama ini dengan salah seorang ketua himpunan memberikan saya masukan bahwa ternyata mahasiswa ini butuh kader kita yang ramah dan lembut dan kerap menyapa dan mengajak mahasiswa lain untuk kebaikan. Mereka butuh disapa, mereka butuh di datangi dan mereka butuh untuk diajak dengan keramahan dan kelembutan diri seorang kader.

Sahabat aktifis LDK di seluruh Indonesia, seringkali LDK menjadi tidak berkembang karena bingung merangkai sebuah agenda. Akan tetapi, perlu dipahami bahwa berapa banyak agenda yang dibuat tidak menjadi parameter utama dalam keberhasilan LDK. Kedekatan dan meningkatnya kapasitas serta jumlah kaderlah yang menjadi parameter utama. Seringkali pula kita terlalu mengandalkan media-media mahal sebagai alat publikasi, padahal kita punya kader LDK yang bisa digunakan untuk media promosi paling baik untuk LDK.

Kader adalah wajah sebuah LDK. Baiknya citra kader maka baiklah citra LDK, buruknya citra kader maka buruk pula citra LDK. Untuk itulah pembinaan terhadap kader harus diprioritaskan. Karena kader lah yang membuat LDK maju atau mundur.

----------
diambil dari tulisan Ridwansyah yusuf Achmad
dari Buku Rekayasa Lembaga Dakwah Kampus
Source: http://ridwansyahyusufachmad.wordpress.com
Terinspirasi dari pelayan starbucks dan receptionist hotel di Singapura, serta pemikiran seorang Rendy Saputra ( ketua majelis syuro GAMAIS ITB )

Selasa, 29 Juni 2010

KETUA UMUM BARU EUY...

NAMA                : NIDI SARMIDZI
TTL                      : SERANG, 03 MEI 1989
FAKULTAS        : TARBIYAH DAN ADAB
JURUSAN           : PENDIDIKAN BAHASA ARAB
ALAMAT            : WARINGIN KURUNG- KABUPATEN SERANG
PROPINSI          : BANTEN

IAIN Banten to FSLDKN Ambon

Oleh : Cholidudin

Alhamdulillahirobbil 'Alamin, akhirnya waktu yang ditunggu2 datang juga, Spirit perubahan itu kembali membara. dan semoga spirit perubahan itu tetap membara dan dapat membawa perubahan yang lebih baik.

saya teringat 3 tahun lalu, seorang senior dari LDK Ummul Fikroh mengobarkan semangat perubahan, perubahan yang saya kira (waktu itu) adalah semangat pembangkangan, semangat yang kelewatan, bahkan (saya mengira waktu itu) semangat perpecahan di tubuh LDK. Entahlah, waktu itu saya hanya berpikir dangkal, saya mengira Senior itu membuat ulah, sok keren, sok hebat. Tapi hari ini (beberapa bulan lalu) perkiraan saya terbukti salah, perkiraan saya salah! bener2 salah!.

Waktu itu, di Musyawarah Besar (MUBES) XI LDK Ummul Fikroh, setelah kepulangan si senior dari acara FSLDKN Lampung pada thn 2007, dia membuat gebrakan, gebrakan yang tak pernah terpikirkan oleh semua kader dan pengurus LDK Ummul fikroh waktu itu, dia membat gebrakan dengan membuat rancangan pembentukan LDK Fakultas di salah satu fakultas di kampus IAIN "Sultan Maulana Hasanuddin" Banten, dengan pembawaan retorikanya yang mampu menyihir peserta MUBES, banyak dari peserta MUBES yang kemudian memutar otak kemudian menganalisa gebrakan itu, dan di saat2 terakhir sidang Paripurna MUBES, akhirnya sebagian besar peserta MUBES menyetujui rancangannya itu, dan terbentuklah LDK Fakultas Tarbiyah dan Adab di Struktur Lembaga Dakwah Kampus Ummul Fikroh IAIN "Sultan Maulana Hasanuddin" Banten.

jujur) waktu itu saya adalah termasuk peserta MUBES yang sebetulnya menolak rancangan itu, waktu itu saya berfikir karena belum adanya konstruksi yang kokoh di internal LDK perihal dibentuknya LDK fakultas, mulai dari kondisi kader yang masih sering tarik-tarikan, tidak adanya konstruksi dalam pedoman (AD-ART), pun karena saya melihat adanya bau arogansi dr si senior ini, pasalnya dari awal2 kepengurusan LDK Ummul Fikroh tidak pernah dibicarakan mengenai pembentukan LDK Fakultas, akan tetapi setelah si senior ini bertolak dari acara FSLDKN Lampung, ternyata tak diduga2 dia membawa rancangan pembentukan LDK Fakultas. sehingga saya menganalisa, bahwa ini ada unsur arogansi dr si senior disebabkan adanya "intervensi" FSLDKN itu. meskipun rancangan ini belum pernah dibahas di internal LDK akan tetapi kemudian sudah dilontarkan ke khalayak perihal pembentukan itu. dan akhirnya di sahkan lah LDK Fakultas Tarbiyah dan Adab di bawah konstruksi bangunan LDK Ummul Fikroh IAIN "Sultan maulana Hasanuddin" Banten ini.

Kisah di atas hanyalah sebuah cerita masa lampau, seraya kembali mengenang sebuah semangat itu (yang dulu saya anggap semangat arogansi). Namun tidak hari ini, bahkan saya berharap ada orang yang meluapkan kembali semangat seperti itu. Setelah di awal-awal saya diamanahkan menjadi ketua kaderisasi (sekarang sudah tidak), dan mencoba memulai hidup baru dengan amanah yang dulu saya anggap sebagai sebuah amanah yang teramat berat, akhirnya saya mencoba memahami dan mencoba mengerti, tentang sebuah kondisi internal, saya mengalami berbagai kegalauan dan kegelisahan, yang ternyata juga pernah dialami oleh si senior yang saya ceritakan di atas (karena pada saat dia melontarkan gebrakan itu, dia juga menjabat sebagai ketua kaderisasi), kegalauan tentang berbagai kondisi “kekurangnyamanan” yang ada di internal LDK, sehingga saya sedikit tergerak untuk mencoba memperbaiki keadaan itu, dan pada saat saya berbincang dengan si senior itu, kemudian dia menceritakan kegaluan yang dulu dia rasakan, ternyata hampir sama dengan yang saya rasakan pada saat pertama kali dimanahkan sebagai ketua kaderisasi, sehingga saya bersyukur saya pernah merasakan berada dalam amanah di Kaderisasi, karena ternyata saya lebih banyak belajar dari kaderisasi, bahkan saya lebih memahami akan pentingnya sebuah struktur kaderisasi dalam sebuah organisasi… (bagi Lo yang belum pernah diamanahkan di kaderisasi, harus Coba!, tapi jangan asal coba-coba, Lo tuh harus Komitmen dan bekerja keras dan bekerja cerdas dalam mengemban amanah di kaderisasi)

Senior itu pernah menceritakan kegalauannya pada saya, kegalaunnya dulu pada saat di kaderisasi, sehingga katanya, pada saat moment FSLDK lampung, dia memanfaatkan moment itu untuk menggali ilmu sebanyak-banyaknya dari para kader LDK dari seluruh Indonesia, dan kemudian terbesitlah keinginan untuk membentuk LDK Fakultas, dengan maksud ingin menyediakan ladang2 amal untuk kader-kader yang ada di Fakultas Tarbiyah dan Adab. Sehingga dengan dibukanya ladang amal ini, kader2 kita di fakultas dapat terberdayakan dengan baik, dan akan mampu menjadi kader2 yang tangguh nantinya, karena sudah pernah di tempa dengan amanah2 di LDK fakultas. Meskipun realitanya tidak demikian, kader2 terserang dengan virus dikotomi (virus membeda-bedakan anatar LDK institute dan LDK Fakultas). Banyak kader yang kemudian terjebak dengan dikotomi kepengurusan, antar pengurus yang ada di LDK Institut dan yang ada di Fakultas (bahkan sampe hari ini).

Berawal dari kegalauan inilah, kemudian saya (yang waktu itu masih sebagai ketua kaderisasi), ingin mencoba membenahi keadaan ini. Keadaan seperti ini tidak boleh dibiarkan berlarut2! Tekadku. Sehingga saya berusaha berkomunikasi dengan siapapun yang saya anggap mumpuni dalam menangani kasus ini. Setelah bolak-balik ke beberapa orang terkait dengan keingian saya membuat konstruksi pedoman sebagai landasan dan pijakan yang akan kita gunakan dalam rangka perapihan system yang ada di LDK ummul Fikroh (terkait juga dengan konstruksi pedoman/ AD-ART LDK Fakultas Tarbiyah dan Adab), akhirnya pada MUBES XIII kemarin, disahkanlah pedoman baru LDK Ummul Fikroh, yang didalamnya juga memuat konstruksi landasan LDK fakultas, bahkan membuka selebar-lebarnya semua fakultas untuk membentuk LDK di fakultasnya masing-masing.

LDK Fakultas dan FSLDKN Ambon,

Setelah beberapa bulan lalu, ada informasi tentang FSLDKN Ambon, saya bertekad bahwa “ini adalah moment penting!” sayang banget kalo sampe terlewat begitu saja, dan saya memutuskan dan bertekad untuk memuluskan jalan menuju Ambon. Alhamdulillah… akhirnya jalan saya dan kawan2 LDK Ummul Fikroh dimudahkan, pihak kampus bersedia mensponsori kami untuk berangkat ke acara FSLDKN Ambon. Dan akhirnya kami bisa mengutus delegasi dari LDK Ummul Fikroh IAIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten ke acara Forum Silaturahim Lembaga Dakwah kampus Nasional (FSLDKN) yang akan diselenggarakan oleh LDK Al-Ikhwan Universitas Pattimura (UNPATI) Ambon tanggal 1-5 Juli 2010 nanti.

Saya bukan berharap bisa berangkat ke Ambon, yang lebih saya harapkan adalah oleh2 dari ambon, eits.. bukan oleh2 buah tangan maksudnya, tapi oleh2 spirit perubahan yang dulu di suarakan oleh senior yang saya ceritakan di atas, saya rindu dengan semangat itu, semangat Perubahan, semangat yang insyaAllah akan membawa angin segar dari penjuru Nusantara untuk Banten, khususnya LDK Ummul Fikroh IAIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten. SEMANGAT TERUS Akhi… untuk perubahan yang Lebih Baik!

Mohon do’anya untuk sahabat2 kami yang akan menjadi delegasi LDK Ummul Fikroh IAIN SMH Banten sebagai peserta FSLDKN ambon, semoga perjalanan mereka dimudahkan hingga kembali nanti, dan yang paling utama dan paling penting adalah kontribusi mereka setelah acara tersebut untuk menjadikan dakwah kampus di Banten, khususnya di kampus IAIN SMH Banten lebih maju dan lebih baik lagi, Amiiin…

Delegasi IAIN SMH Banten menuju FSLDKN Ambon;
1.Nidi Sarmidzi (Ketua Umum LDK Ummul Fikroh periode 2010-2011)
2.Abdul Aziz Al-Khusyaeri (mantan ketua Umum)
3.Memed Mahbullah (Ketua Puskomda Banten)

Jangan kecewakan kami wahai saudaraku!
Semoga Allah memudahkan perjalanan antum semua, Amin

Jangan lupa pesanan saya yah… ^_^v


“Semua tulisan ini hanyalah argument pribadi, tidak ada maksud untuk membuat orang marah, kecewa dll, Maafkan diri ini jika ada yang merasa terganggu dengan tulisan ini, Syukron. Semoga Allah tetap menjaga hati-hati kita untuk senantiasa berhusnudzon”

Selasa, 22 Juni 2010

Road to MUBES XIII

“Hidup hanyalah kesempatan membuat pilihan, segalanya digulirkan dan digilirkan. Apapun yang kita pilih, ujungnya adalah tanggung jawab. Memikul tanggung jawab apapun pasti melelahkan. Tidak ada hidup yang tidak melelahkan. Yang membedakan hanya bagaimana memahami setiap konsekuensi pilihan dengan sikap terbaik”
Untukmu wahai para penerus!
Hampir setahun sudah saya (baca: ana) dan teman2 pengurus lainnya, mengemban amanah di kepengurusan LDK Ummul Fikroh, sudah hampir datang waktunya amanah ini akan kami serahkan, bukan melepas, bukan juga lari, tapi hanya menggilirkan amanah ini kepada antum, generasi penerus kami. Saat itu hampir tiba, saat kami akan melepasmu terbang sendiri. sudah saatnya antum memulai peranan antum sebagai pemimpin. Saatnya antum lah yang menjadi nahkoda kapal ini, kapal yang akan terus mengarungi samudera kehidupan. Samudera yang mungkin takkan bisa menemui daratan untuk berlabuh.

Ketika Dakwah mulai menyapamu, segeralah sambutlah seruan-NYA
Sejatinya, bukanlah Dakwah yang membutuhkan kita, tetapi kitalah yang membutuhkan Dakwah. Ada atau tidak adanya kita, Dakwah akan tetap diserukan. Menyeru kepada jalan-NYA, akan ada segolongan umat yang dijanjikan Allah sebagai umat yang dicintai-NYA, jika mereka tetap komitmen dengan seruan-NYA.   Hal ini telah termaktub dalam Firman-NYA:
"Hai orang-orang yang beriman, Barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya ....." (Q.S. Al Maidah :54)

Kami bukanlah malaikat yang selalu benar, ada potensi-potensi kami membuat kesalahan. Luruskan kami jika jalan kami berbelok dari jalan-NYA. Kami tidak mengharapkan antum menjadi seperti kami. Setiap orang punya caranya masing-masing menjalani kehidupan. Kami tidak akan pernah bangga dengan keberhasilan yang kami raih, tapi kami akan sangat bangga jika antum lebih berhasil dari pada kami.

Segala yang telah kami lakukan ini adalah bekal buat antum menjalani kehidupan antum di kepengurusan LDK nanti. Ambillah segala kebaikan yang telah kami berikan, tapi jangan ambil keburukan yang pernah kami lakukan. Terus belajar dan selalu Perbaharui terus niatan-niatan antum dalam mengarungi jalan ini, semoga antum selalu diberikan kekuatan untuk terus  mengarungi jalan panjang ini.


"Esensi sebuah pembelajaran adalah menjadi lebih baik. Hakikat pengalaman adalah mengumpulkan bekal sebanyak mungkin, agar bisa kian menebarkan kebaikan, juga kebermanfaatan."
Terus berkarya untuk memberikan manfaat bagi orang lain!

Oleh Cholidudin

Sabtu, 19 Juni 2010

Jadilah Kitab Walau tanpa Judul



KH Hilmi Aminuddin
 Kun kitaaban mufiidan bila 'unwaanan, wa laa takun 'unwaanan bila kitaaban. Jadilah kitab yang bermanfaat walaupun tanpa judul. Namun, jangan menjadi judul tanpa kitab.
Pepatah dalam bahasa Arab itu menyiratkan makna yang dalam, terutama menyangkut kondisi bangsa saat ini yang sarat konflik perebutan kekuasaan dan pengabaian amanah oleh pemimpin-pemimpin yang tidak menebar manfaat dengan jabatan dan otoritas yang dimilikinya. Bangsa ini telah kehilangan ruuhul jundiyah, yakni jiwa ksatria. Jundiyah adalah karakter keprajuritan yang di dalamnya terkandung jiwa ksatria sebagaimana diwariskan pejuang dan ulama bangsa ini saat perjuangan kemerdekaan.
Semangat perjuangan (hamasah jundiyah) adalah semangat untuk berperan dan bukan semangat untuk mengejar jabatan, posisi, dan gelar-gelar duniawi lainnya (hamasah manshabiyah). Saat ini, jiwa ksatria itu makin menghilang. Sebaliknya, muncul jiwa-jiwa kerdil dan pengecut yang menginginkan otoritas, kekuasaan, dan jabatan, tetapi tidak mau bertanggung jawab, apalagi berkurban. Yang terjadi adalah perebutan jabatan, baik di partai politik, ormas, maupun pemerintahan. Orang berlomba-lomba mengikuti persaingan untuk mendapatkan jabatan, bahkan dengan menghalalkan segala cara. Akibatnya, di negeri ini banyak orang memiliki "judul", baik judul akademis, judul keagamaan, judul kemiliteran, maupun judul birokratis, yang tanpa makna. Ada judulnya, tetapi tanpa substansi, tanpa isi, dan tanpa roh.
Padahal, ada kisah-kisah indah dan heroik berbagai bangsa di dunia. Misalnya, dalam Sirah Shahabah, disebutkan bahwa Said bin Zaid pernah menolak amanah menjadi gubernur di Himsh (Syria). Hal ini membuat Umar bin Khattab RA mencengkeram leher gamisnya seraya menghardiknya, "Celaka kau, Said! Kau berikan beban yang berat di pundakku dan kau menolak membantuku." Baru kemudian, dengan berat hati, Said bin Zaid mau menjadi gubernur.
Ada lagi kisah lain, yaitu Umar bin Khattab memberhentikan Khalid bin Walid pada saat memimpin perang. Hal ini dilakukan untuk menghentikan pengultusan kepada sosok panglima yang selalu berhasil memenangkan pertempuran ini. Khalid menerimanya dengan ikhlas. Dengan singkat, ia berujar, "Aku berperang karena Allah dan bukan karena Umar atau jabatanku sebagai panglima." Ia pun tetap berperang sebagai seorang prajurit biasa. Khalid dicopot "judul"-nya sebagai panglima perang. Namun, ia tetap membuat "kitab" dan membantu menorehkan kemenangan.
Ibrah yang bisa dipetik dari kisah-kisah tersebut adalah janganlah menjadi judul tanpa kitab; memiliki pangkat, tetapi tidak menuai manfaat. Maka, ruuhul jundiyah atau jiwa ksatria yang penuh pengorbanan harus dihadirkan kembali di tengah bangsa ini sehingga tidak timbul hubbul manaashib, yaitu cinta kepada kepangkatan, jabatan-jabatan, bahkan munafasah 'alal manashib, berlomba-lomba untuk meraih jabatan-jabatan. Semoga.

Kamis, 25 Maret 2010

KAJIAN DHUHA

Mohon Do'anya, semoga agenda ini bisa terlaksana dan berjalan dengan lancar, Amin.

Jumat, 13 November 2009

PADA MEREKA AMANAH INI 'KAN KUTITIPKAN...?


Oleh: Cholidudin

"Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar." (QS. An Nisa: 9)

Begitulah ALLAH SWT telah memperingatkan, kita diminta untuk senantiasa merancang masa depan kita. Kita juga diminta untuk mempersiapkan penerus2 / generasi2 yang siap tempur dengan masa depan.
-------- *** ----------
Ada-ada saja perbuatan adik2ku ini...kejar-kejaran, becanda, marah dan sedih... Adik yang aku pun tak tahu dari mana datangnya mereka, bapak dan ibu2 mereka pun berbeda dengan bapak dan ibu ku, tapi mereka sudah harus kuanggap sebagai adik2 ku, adik yang akan meneruskan perjuanganku, mereka yang harus senantiasa akan menjaga nilai2 kebaikan, nilai yang kian hari kian luntur dan terkikis oleh ganasnya perubahan masa.

aku memang belum lama mengenal adik2ku ini, bisa jadi baru hanya sebatas nama, bahkan cuma wajah mereka yang ku kenal. Aku ga tau apa tujuan mereka ada dan hadir disini, aku pun tak tau apa yang mereka pikirkan hari ini, kebaikan ataukah keburukan yang sedang mereka rancang untuk masa depan.
-------- *** ----------
Aku sudah ingin mulai merapihkan barisan, segera bergegas lepas dari keadaan, bergegas dari segala aktifitas yang menyita pikiran. Tapi tugasku belum selesai, masih banyak pekerjaan rumah yang harus kurapihkan, masih sangat banyak pula yang harus kukerjakan, bukan untuk untuk diriku, tapi untuk mereka, mereka yang akan kutitipkan segala beban, mereka yang akan ku amanahkan pekerjaan2.

Siapa mereka? bukan siapa-siapa kan??? Ingin rasanya kutinggalkan saja mereka, aku juga ingin ga peduli pada mereka, tapi... entahlah, aku ingin melihat mereka bahagia, aku ingin melihat mereka bangga menjadi seorang adik, aku juga ingin melihat mereka tersenyum pada dunia.
------- *** ----------
Rasulullah SAW ga pernah memikirkan dirinya sendiri, beliau selalu ingat kepada sahabat2nya jika ia sedang dalam keadaan kecukupan, jangankan cuma pakaian, makanan yang sedianya akan beliau makanpun akan ia berikan jika beliau tau ada salah seorang sahabatnya yang membutuhkan, dan beliau rela berlapar2 sampai mengganjal perutnya dengan batu dan kerikil.

Sampai saat2 ajal menjemputnya pun, Rasulullah masih tetap tak cuma memikirkan dirinya sendiri, mulutnya bergetar dan membisikkan kata kepada menantunya, ALI bin Abi Thalib, "Ummati, ummati, ummati..." itulah kata yang keluar dari mulutnya, karena saking sayangnya Utusan ALLAH itu kepada ummatnya, Beliau khawatir, umatnya akan menjadi umat yang jauh dari iman kepada ALLAH.

Namun ini sangat berbeda dengan kita, bahkan bisa jadi kita ga pernah sedikitpun mempunyai kepekaan tentang hal sedemikian, kita cenderung ga pernah peduli dengan apa yang akan kita tinggalkan nanti. Ya Rabb, semoga Engkau jauhkan kami dari sifat2 sedemikian... Amiiin.
-------- *** --------
Aku malu pada diriku sendiri, karena belum sedikitpun yang kuperbuat untuk perubahan...
Tilawah tiap hari tak mampu runtuhkan kerasnya hati, dzikir2 selepas sholat juga serasa tak berisi. Aku takut..., jangan2 niatan2ku selama ini bukan karena-MU ya Rabb.

Aku takut..., sungguh aku takut...
-------- *** --------
"Pengabdianmu sebentar lagi, lalu apatah lagi yang akan kau berikan jika bukan kebaikan" begitu seorang sahabat memberi semangat.

Ya, aku ingin melihat mereka tersenyum, aku ingin melihat mereka bangga, dan aku juga ingin melihat mereka menantang dunia.

Pengalaman ini memang terasa pahit bahkan bikin sakit hati, tapi pengalaman ini bisa jadi sangat berarti, mungkin inilah jawaban ALLAH atas do'a2 ku. Aku meminta kekuatan, DIA mmberiku cobaan untuk kuatasi sehingga aku belajar untuk kuat menghadapi cobaan.
-------- *** ---------
Aku ingin mereka menjadi orang2 aneh, yang tetap melakukan kebaikan di tengah2 kemungkaran, yang jujur di tengah2 kebohongan, yang bersyukur ditengah2 kekufuran, yang tetap amanah di tengah2 pengkhianatan, dan aneh di tengah keanehan zaman.

Sehingga aku bangga menitipkan amanah ini pada mereka...

------- *** --------
Tulisan ini terinspirasi pada saat MABIT Ikhwan di masjid kampus IAIN "SMH" Banten
11 Nopember 2009